Air Hujan

Air Hujan
Bab 191


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


"Mas Reza telepon siapa?" tanya Melisa saat ia baru keluar dari kamar mandi.


"Pak Sarpan, Ra" jawab Reza singkat.


Melisa yang tak pernah mendengar nama yang di sebutkan itu langsung mendekat kearah sang suami yang duduk bersandar di punggung ranjang.


"Siapa sih?" tanya Khumairahnya lagi penasaran.


"Pak Sarpan, dia satpam villa, Ra" jawab Reza sembari meminta di peluk lagi, hanya dalam dekapan sang istri rasa mual dan pusingnya sedikit hilang.


"Mas Reza makan ya, ini pipinya jadi keras loh kalo aku cium karna tinggal tulang" rayunya pada sang suami yang masih menolak apapun masuk kedalam perutnya kecuali makanan ringan atau sedikit cemilan.


"Aku mau teh yang Hujan bikin, Ra"


.


.


.


Air mendengus kesal dan menutup kembali kaca mobilnya, kereta besinya itu kini memutar kembali ke arah jalanan.. Hujan yang masih terlelap di sisinya sama sekali tak menunjukan tanda-tanda akan terbangun dari tidurnya, Air hanya bisa mengusap kepala sang istri yang kini merangkap menjadi calon ibu dari anaknya.


"Baik-baik ya kalian"


Air yang memilih pulang ke apartemen langsung membangunkan Hujan yang bergeliat kecil.


"Jan, udah sampe. Turun yuk"


Gadis itu hanya membuka matanya sedikit lalu menoleh kearah suaminya.

__ADS_1


"Ini kan di apartemen, katanya mau liburan?" tanya Hujan bingung.


"Pisangnya ketinggalan!"


Hujan membulatkan kedua matanya saat mendengar penuturan Air yang lagi lagi menyebutkan si pisang.


Air membuka pintu mobil bagian kiri agar istrinya bisa turun, ia menuntun tangan Hujan menuju tempat tinggal orang tuanya


Ia dan Hujan yang kini tinggal dimana saja harus rela membagi waktu karna Omma dan Oppanya juga butuh perhatian dari keempat cucu kesayangannya.


Cek lek..


Pasangan suami istri itu masuk dengan pelan, tak ada siapapun di ruang tengah membuat keduanya langsung melengos kearah tangga kemudian masuk dengan cepat ke dalam kamar mereka.


"Kak, mandi bareng yuk" ajak Hujan yang di iyakan oleh Air.


Tak ada hal lebih yang di lakukan keduanya hanya mandi lalu merapihkan diri. Luar biasa bukan?


"Aku suapin ya?" rayu wanita tiga anak itu


"Gak mau, Ra. Aku enak liatnya" tolak Reza yang malah membuang pandangannya, tak ada satupun makanan yang menggugah seleranya


"Padahal enak loh, Pah" timpal Air yang dengan tanpa rasa bersalah menarik piring papanya.


"Buat kakak ya" pintanya dengan pipi yang membulat karna makanan yang belum ia telan.


Reza menggridikkan bahunya, rasa mual semakin ia rasakan saat melihat putranya makan dengan sangat lahap.


"Kak, pelan-pelan" ujar Melisa yang melirik kearah Hujan.


"Aneh aku juga, Mah" bisik Hujan.

__ADS_1


Melisa menghela nafas pelan, Ia usap punggung Reza yang sudah menenggelamkan kepalanya di ceruk leher.


Sedangkan Air yang tampak kekenyangan bersandar di lengan Hujan. Dia pria itu melakukan hal yang sama dengan isi perut yang berbeda pada pasangan masing-masing.


Bumi yang baru datang dan masuk keruang makan langsung mengernyit dahinya, ia tentu bingung dengan Papa dan kakaknya belum lagi dengan dua wanita di samping para pria itu.


"Kalian kenapa?" tanya si tengah sambil menarik kursi lalu duduk masih dengan tatapan aneh.


"Lagi mabok" sahut Hujan.


"Mabok apa?"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mabok orok!!!!

__ADS_1


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2