
πππππππ
"Luar mana?" tanya Air bingung karna yang ia tahu hanya garap tanam lalu siram di tempatnya.
"Terserah Lo mau buang dimana!" ucap Hujan masih ketakutan suaminya akan bertanya lebih serius.
"Kok gitu? kan biasanya disini?" tanyanya lagi masih belum paham.
"Iya, jangan buang di dalem. kalo Lo mau pelepasan Lo bisa buang di Perut gue juga gak apa-apa deh" titahnya frustasi bingung harus bagaimana menjelaskannya.
Air turun dari tubuh istrinya dengan keadaan polos ia masuk ke kamar mandi, Hujan yang aneh dengan perubahan sikap Air tentu kaget luar biasa.
Gadis itu merapihkan bajunya kemudian duduk bersandar dengan perasaan gelisah dan resah.
Lima belas menit suaminya tak kunjung keluar membuat Hujan memberanikan diri menghampiri pintu kamar mandi dan mengetuknya pelan.
Tok..tok..tok..
"Kak..." panggil Hujan dengan mode manja, karna jika dengan mode galak dan cuek ia cukup memanggil nama.
"Kakak, belum selesai?" Hujan masih mengetuk pintu sambil bertanya, Yang ia pikirkan saat ini mungkin sang suami sedang melakukan pelepasan sendiri di kamar mandi.
CEKLEK
__ADS_1
Air membuka pintu dengan sedikit keras, pasangan suami istri itu kini berdiri berhadapan di ambang pintu dengan tatapan yang berbeda.
"Udah?," Tanya Hujan lagi.
"Udah apa?, Lo pikir gue maen sendiri, gitu?" Air balik bertanya pada istrinya yang menunduk.
"Kak..."
"Buat apa gue punya istri kalo maen sendiri" sindir Pemuda yang sudah memasang wajah masam.
Air berjalan berlalu di hadapan Hujan sebelum ia meraih jaket di lemari dan juga kunci motornya diatas meja, melihat itu semua tentu membuat Hujan panik dan merasa salah.
"Kak, mau kemana?" tanya Hujan sambil meraih tangan suaminya yang sudah memegang kenop pintu.
Air benar-benar keluar dari kamar tak memperdulikan Hujan yang memanggil namanya, Gadis itu berdiri lemas di ambang pintu. Jika ia mengejar Air tentu akan menimbulkan tanda tanya keluarganya karna mertua dan juga adik iparnya ada di bawah.
"Maaf, kak" lirihnya sambil menghela nafas berat.
Ia melangkah gontai masuk kembali ke dalam kamar memilih menyandarkan diri di sofa depan TV.
Rasa sesal kini menyelimuti hatinya, betapa ia merasa sangat berdosa saat meminta suaminya melakukan pelepasan bukan di tempatnya seperti biasa.
"Kak, maaf.. pulang lagi" Hujan meletakan wajahnya di di telapak tangan yang ia letakkan diletakan di atas lutut, dadanya begitu sesak melihat punggung suaminya berlalu pergi jauh dan akhirnya perlahan menghilang dengan cepat.
__ADS_1
"Sesakit ini di tinggal kamu, kak" ucapnya sedih di sela Isak tangis.
****
Sampai jam sembilan malam Air belum juga kembali ke apartemen membuat Hujan semakin resah dan gelisah, apalagi saat mertuanya menanyakan keberadaan anak kesayangan mereka itu Hujan sampai harus berbohong karna ia pun sama sekali tak tahu dimana suaminya berada kini.
Di tengah kasur Hujan masih sibuk terus menghubungi Air yang sama sekali tak mau mengangkat telepon dan pesannya.
Air mata terus mengalir di pipinya, betapa sedihnya ia kali ini merasa kesepian sendiri tanpa air di kamarnya.
"Kamu dimana?"
"Jangan begini, Ay. Aku udah minta maaf"
"Ayo pulang, aku nunggu kamu disini"
Dengan nada bergetar ia terus berucap lirih berharap bayi buaya cengengnya mau menerima teleponnya meski hanya berkata. Hallo..
ππππππππππ***
Si kakak ada sini lagi makan tahu bulat sama sotong sama gue π€£π€£
Like komen nya yuk ramai kan ada
__ADS_1