
ππππππππππππ
"Maaf, kamu bilang!"
Suara Anna sangat menggema ke seisi kamar perawatan Hujan, Air yang tersentak reflek bangun dari duduknya yang baru saja ingin terlelap.
"Bunda" lirih pelan Air.
Anna mendekat dan langsung menarik tangan Air agar menjauh dari putrinya. Air yang memang sudah sangat lelah tak bisa menghindar saat tubuhnya didorong
"Ann, Jangan begini" bisik seorang wanita berpakaian serba putih khas perawat, orang itu merasa ketakutan saat melihat Anna marah dan membentak Air yang jelas jelas putra pertama pemilik rumah sakit tempat ia bekerja.
"Terus aku harus apa?, kamu lihat putriku seperti apa saat ini, Ren!" pekik Anna pada wanita itu yang ternyata temannya saat mereka bekerja di Rumah sakit Umum.
"Kalau kamu gak cerita sama aku tentang Hujan, aku gak akan tahu apa yang menimpanya" Anna terus menangis menyaksikan berapa berantakannya sang putri.
"Bukan gitu maksudku, aku kira kamu tahu, Ann"
Anna yang di telepon oleh Rena siang kemarin sangat terkejut saat temannya itu menanyakan keberadaannya yang tak turut serta menemani Hujan dirumah sakit dalam keadaan trauma berat. Ia yang memang belum mendapat kabar apa-apa dari besannya langsung murka dan pulang saat itu juga meninggalkan setumpuk pekerjaannya di luar kota.
"Hujan, ini bunda, Nak. Ayo bangun!" lirihnya di telinga gadis malang yang ia asuh sedari umur enam bulan itu.
"Bunda... Aku... "
"Diam kamu!" sentak Anna pada Air yang baru saja ingin meminta maaf.
"Bun.. "
Anna sama sekali tak menoleh, ia fokus pada Hujan yang tertidur sambil terus menitikan air mata seraya bergumam meminta tolong dengan suara yang amat pelan menyayat hati.
Anna mengusap kepala putrinya yang kini berambut berantakan, masih terlihat sedikit lebam merah di kedua pipi putihnya yang selalu merona saat menahan senyum.
"Kamu apakan Hujan sampai seperti ini, Ay?" tanya Anna dengan sangat tegas, sorot matanya begitu nyalang menatap sang menantu.
"Bukan kakak, Bun" jawabnya panik.
"Kalau kamu sudah tak bisa menjaga dan menemani istrimu, bawa ia pulang dan kembalikan pada Bunda" sentak Anna geram.
"Enggak, Bun. Kakak gak akan pulangin Hujan ke Bunda" rengek nya memohon.
Anna menepis tangan Air yang baru saja ingin menyentuhnya, wanita itu kini sudah benar-benar tak bisa menerima alasan apapun dari Pria yang sudah menikahi gadis kecilnya dua tahun lalu.
__ADS_1
"Aku minta maaf, aku udah lalai jaga Hujan, Bun"
Derai air mata Air ternyata tak mampu meluluhkan hati ini Anna yang kecewa.
Baginya apa yang di alami Hujan itu lebih parah dari yang pernah terjadi padanya puluhan tahun silam.
Jika di renggut paksa saja sudah sangat membuat ia trauma sampai detik ini, lalu bagaimana dengan Hujan yang di siksa dan dilecehkan lalu di rusak secara ramai-ramai.
.
.
Keributan, isak tangis dan teriakan yang di dengar Hujan ternyata mampu memancingnya kembali sadar, tangannya mulai bergerak perlahan dan itu membuat Air langsung mendekat kearah sang istri.
"Jan.. Hujan!"
Tapi sayang, tubuhnya kembali didorong oleh Anna agar kembali menjauh dari putrinya.
"Minggir" sentak Anna pada Air.
"Bun, aku mau sama Hujan."
Anna yang tak menghiraukan Air terus saja mengusap pipi Hujan sambil berbisik di telinga putrinya itu.
"Jangan takut ya, Bunda ada sama kamu"
Hujan perlahan membuka matanya, namun dalam hitungan detik ia langsung bangun dari tidurnya dan kembali berteriak histeris.
"Tolong... jangan!"
"Sakit.. ini sakit banget!"
"Perih.. "
"Udah... "
"Ampun... ampun!"
Hujan terus berteriak ketakutan, bahkan Anna sampai di dorong agar menjauh. Hujan melempar semua barang yang ada di dekatnya termasuk bantal dan selimut. Semua yang ada di atas nakas pun kini berserakan di lantai.
Hujan benar-benar merasa takut dan tak ingin di dekati siapa pun meski Anna dan Air mencoba mendekat untuk sekedar menyentuh.
__ADS_1
"Kalian jahat.. Kalian semua jahat!"
"Pergi.. Aku mohon pergi"
"Cukup, ini terlalu perih"
Teriakan rasa takut Hujan bagai menghujam hati dan jantung Air, ia sudah sangat merasa gagal menjadi seorang suami yang bisa di andalkan.
Sandarah hati dan raganya pun kini tak lagi mengenalinya.
Hujan menangkupkan kedua tangannya didepan dada memohon dengan tatapan sendu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pergilah..
ππππππππππ
kemana?
Ke tukang gorengan yuk beli risol π€£π€£π€£
Moga sanggup crazy up hari ini biar cepet kelar ya masalah Air sama Hujan.
Biar besok bisa senyum senyum lagi πππ
__ADS_1
like komennya yuk ramaikan