
☘☘☘☘☘☘☘☘☘☘
Sekarang giliran kita main masak-masakan, Ok!!!
"Bu, cabe nya mana?" tanya Air pada kembarannya yang duduk bersandar memainkan ponsel.
"Tuh di gantung" jawab si tengah menunjuk dengan ekor matanya.
Air berjalan ke arah tiang dimana ada bungkusan plastik tergantung di besi panjang yang menjulang di tengah gudang.
Air membuka plastiknya sambil tersenyum menyeringai.
"Kalo lo bubuknya, Gue langsung asli cabenya, Gimana?" kekeh Air pada tiga wanita biadab di depannya itu.
Mereka yang sudah lemas tak lagi bisa berbuat apa-apa, meronta dan menjerit pun tak lagi sanggup mereka lakukan saat ini.
Tubuh yang lelah di tambah rasa kantuk, lapar dan haus menambah penderitaan yang mereka alami kini.
"Kata emak emak nih cabe lagi mahal banget tapi gue ikhlas ridha dunia akhirat keluarin duit buat beli nih cabe jurig" ujarnya sambil mengambil cobek yang sudah di siapkan.
"Kak, kenapa gak di blender aja sih?, lama banget ah" keluh Bumi yang sudah sangat mengantuk.
"Kalo di blender kecepatan, yang berproses itu lebih nikmat akhirnya" jawab si salung sambil terkekeh.
"Kasih garem ya biar asin asin kecut" ujarnya pada ketiga gadis di hadapannya.
Diatas meja kini sudah ada cobek besar yang sengaja di beli Air sebelum ia datang ke gudang, penuturan Melisa yang mengatakan jika Area sensitif milik istrinya kini sedang terluka cukup serius karna semprotan bubuk cabe sontak membuat Air geram dan mengamuk.
__ADS_1
Terlebih itu adalah lahan kenikmatannya selama dua tahun ini, tak ada sedikit pun niatan dalam hatinya untuk mencobanya dengan gadis lain karna Hujan sudah sangat baik melayaninya dengan selalu menbuat ia candu dan ketagihan.
Air meraup tiga gengam cabe berwarna merah sedikit kekuningan, bentuknya yang besar dan montok membuat tiga gadis itu hanya bisa menelan ludah mereka masing masing sambil merasakan area miliknya yang berdenyut hebat.
Air menghancurkan semua cabai itu dengan mengeluarkan semua tenaganya, ia yang memang sedang emosi tentu tak merasa lelah sama sekali mslah justru semakin bernafsu saat bau cabe menyengat hidungnya.
"Kasih terasi juga ya biar sedep dan makin bau, Hahahahaha" Air terus saja tertawa tak perduli dengan para wanita di depannya yang seakan memohon ampun padanya kini.
Air sengaja menghancurkan semua cabenya tak sampai halus, ia malah ingin Vika, Melan dan sarah lebih menikmatinya dalam keadaan utuh.
Pemuda yang sedang melakukan aksi balas dendam itupun barjalan mendekat ke arah tiga wanita laknat itu dengan sepiring cabe yang ia haluskan tadi bersama garam dan terasi.
Air membuka lakban yang menutup mulut Vika, Melan dan Sarah.
"Untung gue di ingetin emak emak buat botakin alis kalian" kekeh Air sambil menempelkan alat perekat di alis masing masing wanita tersebut dan tanpa menunggu lama Ia pun melepaskan lagi tanpa perasaan dan keras sampai ketiganya menjerit kesakitan secara bersamaan.
"Ay... ampun!" lirih Melan memohon begitu pun dengan sarah yang berusaha ingin bersujud di hadapan pria yang tadi pagi istrinya ia siksa dengan kejam.
"Ampun lo bilang?, Apa lo juga kasih ampun ke Hujan pas dia mohon-mohon ke kalian?" sindir Air yang semakin geram.
"Maaf, Ay.. kita khilaf " tutur Sarah.
Air menggelengkan kepalanya dengan mantap, ia sudah terlanjur geram dengan tindakan mereka yang menyiksa belahan hatinya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Sekarang kaliah nikmatin nih cabe!!!
🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱
Abang Langit barusan udah kirim cilok sama jus Mangga makanya hari ini babnya lancar jaya tanpa hambatan,🤣🤣
Kakak Ay mau nyogok apa biar Hujan pas sadar bisa sembuh 😏😏😏😏
Jangan kaya Bumi yang pelit medit ya..😄😄
Masih ada 2 bab lagi hari ini.
Di like komennya dulu yuk yang ini 🤪🤪
__ADS_1