
ππππ
"Moy, apain sih ucir rambut dede?" protes Sam saat ia sadar jika Hujan sudah berbuat jahil padanya.
"Jangan di sentuh, tanganmu kotor, Sayang"
"Tapi ini apa?"
"Moy, ribet liat rambut dede. Besok potong ya"
"Gak, dede gak mau potong rambut" protesnya lagi.
Air yang sedari tadi sibuk memainkan ponsel akhirnya bangun dan meraih jaket yang tergeletak di kursi meja belajar istrinya. Hujan dan Sam pun secara kompak melihat kearah pria tampan tersebut.
"Moy, aku main ya" pamit Air.
"Kemana?" tanya Hujan yang di atas pangkuannya masih ada sangat putra semata wayang.
"Nongkrong bentar"
"Tapi bawa mobil, jangan bawa motor" tegas Hujan dengan penuh penekanan.
"Ish, gak seru!" Air mencium pipi anak dan istrinya lalu benar-benar pergi keluar dari kamar.
Hujan tak bisa menolak, suaminya butuh bergaul dengan teman-temannya setelah lima hari dalam seminggu ia begitu sibuk dengan segudang pekerjaan di kantor. Hujan percaya pada suaminya yang tak akan pernah mengkhianati pernikahan mereka terlebih ada Samudera yang semakin hari semakin menggemaskan.
__ADS_1
"PapAy main, dede bobo sama Moy ya"
"PapAy main cuma sebentar, nanti juga pulang" sahut Hujan yang tahu jika anaknya sedikit khawatir Hujan kesepian.
.
.
.
Usai makan malam, Air yang belum juga pulang tentu membuat Hujan sangat gelisah. Ponselnya sulit di hubungi dan pria itu malah membawa motor padahal Hujan sudah sangat melarangnya.
Air tetap lah Air, hobynya sejak remaja ternyata tak berubah. Masih senang bermain game online dan balapan liar di area sepi saat tengah malam meski tak sering.
"Belum, mah. Pesan ku pun belum di baca" sahur Hujan dengan kedua mata tetap fokus pada layar ponselnya.
"Tapi papamu nampak santai, jadi mama rasa tak perlu ada yang di khawatirkan." ucap Melisa sambil melirik kearah suaminya yang sedang bermain dengan Sam.
Hujan yang juga ikut menoleh hanya mengangguk paham. Ia tahu jika mertuanya begitu banyak memiliki pasang mata.
Dan tepat jam sepuluh, Semua masuk kedalam kamar masing-masing. Termasuk Hujan yang menggandeng Samudera menuju tempat istirahatnya, bocah tampan yang masih duduk di taman kanak-kanak itupun langsung naik ke atas ranjang.
"De' ganti baju dan bersih-bersih dulu" titah Hujan yang mengulurkan tangan agar putranya mau turun kembali dari atas kasur.
"Tapi dede udah ngantuk, Oey" jawab si Tutut sambil menguap.
__ADS_1
Dalam hal kebersihan tentu Hujan begitu tegas dan tak menerima penolakan dalam bentuk alasan apapun. Wanita itu akan terus memaksa dan merayu sampai akhirnya sang anak mau menurut.
"Ayo, kalau gak bersih-bersih gak usah bobo sama Moy" ancam Hujan.
"Iya, dede turun nih" jawab Sam pasrah. Ia menerima uluran tangan MiMoynya dan langsung turun dari ranjang.
Keduanya langsung bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Dede pakai baju sendiri aja ya, Moy"
"Hem, ok. Awas kebalik ya. Moy nanti nyusul" ucap Hujan. Ia akan lebih dulu mengurus anaknya, karna Hujan tak berani untuk tampil polos di depan Sam, berbeda dengan Air.
Sam yang keluar dari kamar mandi malah melempar baju piyama nya. Dengan hanya memakai celana ia malah naik keatas ranjang dan berbaring di balik selimut tebal.
"Loh, dede ngapain?" tanya Hujan yang baru keluar dan bingung menatap anaknya.
.
.
.
PapAy gak pulang, Dede takut Moy kangen sama PapAy, Dede udah mirip belum kaya papAy yang kalau bobo gak pake baju?
__ADS_1