Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 46


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hujan hanya bisa menatap punggung suaminya yang berlalu pergi meninggalkannya setelah berpamitan.


Ada perasaan lain yang tak bisa ia ungkapkan begitu saja, sifat suaminya yang terkadang menanggapi aksi protesnya dengan candaan untuk menghindari pertengkaran justru menjadi bom waktu yang siap meledak kapanpun


"Pay, na?" tanya Sam saat Hujan membawanya masuk kedalam rumah.


"PapAy, kerja. Nanti malam kesini lagi ya"


"Appa yuk" celotehnya lagi, kini dengan mata mulai merah.


"Sama bunda dulu ya sayang, bunda kangen Dede"


Huaaaa.. Appaaaaaaaaa!


.


.


.


Air yang baru sampai di apartemen kedua orang tuanya pun langsung naik ke lantas atas, masih nampak sepi karna tak ada siapa siapa disana, bahkan salah satu asisten rumah tangga yang biasa datang pagi hari di minta Melisa untuk libur beberapa waktu, tak adanya Samudra membuat pasangan yang tak bisa saling berjauhan itu memilih menginap menemani si bungsu.


Usai membersihkan diri, Air bergegas menuju kantornya yang tak begitu jauh dari tempat ia tinggal, Air dan Hujan sepakat untuk tidak meninggalkan Reza dan Melisa meski kedua orangtuanya itu sangat mengizinkan si sulung untuk mandiri.


"Selamat siang, Pak" sapa Daniel yang sudah menunggu di depan pintu ruang Direktur.


"Siang ya?" gumam Air sambil melihat jam di pergelangan tangannya.


Daniel yang mendengar pun hanya tersenyum tipis sambil mengangguk sopan.


"Apa ada pertemuan diluar hari ini?" tanya sang Tuan pada sekertarisnya.


"Nanti jam dua siang, Tuan. Kita akan bertemu dengan perusahaan Arga Wijaya Corp." jawab Daniel yang berdiri di depan meja kerja Air.


"Harus kita yang ketemuan? kenapa gak di lempar ke Bumi aja sih?" oceh nya kesal jika bertemu dengan perusahaan yang di sebutkan Daniel tadi.

__ADS_1


"Ini kita sudah berada di bumi, Tuan" sahut Daniel terlihat kebingungan.


Air menghela nafasnya, ia tatap sekretarisnya itu dengan tatapan tajam dan tak biasa.


"Bukan bumi ini, tapi Bumi saudara saya!" cetus Air menahan kesal.


"Maaf, Tuan"


Salah siapa kalian memiliki nama yang begitu aneh!!


******


Jam tujuh malam Air baru pulang ke apartemen, tak ada niatan dalam hatinya untuk singgah ke rumah Hujan walau sebentar bertemu dengan anak dan istri.


Air yang sudah membersihkan diri langsung menarik kursi meja perangkat game online yang terletak di pojok kamar.


Ia mulai menyalakan komputernya, mulai bermain seperti biasanya hingga lupa waktu dan segala-galanya.


Mata dan tangannya terus fokus pada layar yang menunjukkan game terbaru yang membuat ia selalu penasaran, Air yang memang sudah hobby bermain game sedari remaja memang begitu sulit untuk lepas total, ia akan meninggalkannya jika sedang benar-benar sibuk.


Dering ponsel yang bergetar tak membuatnya menoleh sedikitpun, konsentrasi tak buyar sama sekali meski berkali-kali benda pipih itu terus mengeluarkan suara.


"Siapa sih?!" umpat nya kesal, apalagi saat ia melirik ke arah jarum jam yang menunjukkan lebih dari jam tiga pagi.


Ia yang benar-benar jengkel akhirnya meraih ponsel tersebut.


MiMoy..


Air mematikan perangkat game onlinenya untuk mengangkat telepon dari sang istri. Ia baru ingat dengan Samudera saat ini yang mungkin saja sedang rewel disana.


"Iya, sayang" sapanya saat menggeser tanda hijau di layar benda pipih miliknya itu.


"Gak usah panggil sayang, keenakan kan gada anak istri gini hari belum tidur? main aja terus kak. Gak usah istirahat sekalian. Nanti bagian kerja, kakak malah tidur di kantor, lama lama saking keselnya kakak bisa di pecat sama papa!" omel Hujan yang sudah sangat kesal dengan kelakuan Air yang setiap malam bergadang hingga pagi, ia hanya tidur satu atau dua jam menjelang subuh.


Awalnya Hujan tak protes, semalam dua malam ia masih memaklumi, mungkin itu hiburan untuk suaminya yang lelah dengan urusan kantor tapi jika itu terus berlangsung di malam malam selanjutnya tentu ia merasa jengkel sendiri, bahkan saat Samudera menangis pun Ia malah membangunkan Hujan untuk membuatkan susu.


"Enggak, kakak gak main, Jan" elaknya yang nampak panik saat mendengar Hujan mengoceh.

__ADS_1


"Aku kemarin masih diem loh, kak. Tapi bukan berarti aku biarin kamu begini terus! istirahat itu perlu, nanti kalau kamu sakit terus meninggal aku tuh bakal nikah lagi tau gak?!" cetusnya semakin meninggikan nada suara.


"Eh, jangan! enak aja kamu" balas Air tak suka dengan niatan isterinya.


"Mau tidur sekarang atau mau aku kawin lagi, hah?"


"Iya.. iya! kakak tidur" jawabnya pasrah, la tak bisa membayangkan jika nanti Ia mati justru Hujan bersuami lagi.


"Janji? awas bohong" ancam Ibu dari anaknya itu.


"Iya, kakak janji abis ini tidur. Besok gak main lagi" ucapnya meyakinkan pemilik hatinya itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku udah kirim pocong di pojokan kamar, awas kalo kakak gak tidur!!


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Umpet kak.. sini di ketek gue 🀣🀣🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan.


mimpi indah ya kalian para readers 🀣🀣🀣gak penasaran lagi

__ADS_1


__ADS_2