Air Hujan

Air Hujan
Tobeli...


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Hadeuh pake malu segala!" jawab Hujan saat mendengar alasan putranya berdiri di pojokan.


"Senyum senyum muanya, Moy" ucap Sam lagi yang benar-benar nampak malu.


Air yang sudah selesai dengan urusannya langsung menghampiri anak dan istrinya di area bermain halaman kos-kosan.


"Kenapa?" tanya Air pada Hujan.


"Disenyumin cewe cewe makanya mojok tuh" sahut Hujan yang sebenarnya sedari tadi sudah menahan tawa.


"Di senyumin aja malu, datengin terus ajakin pacaran!"


Plak...


Satu pukulan mendarat sempurna di lengan suaminya yang sudah asal bicara, si mantan playboy cengeng itu tak sadar jika pawangnya lebih galak dari seekor singa rajanya hutan.


"Ajaran Sesat!" cetus Hujan.


Air yang terkekeh langsung memeluk istrinya, ia cium pucuk kepala si pemilik hati agar tak lagi merajuk sambil berbisik...


Punya pacar banyak enak loh Jan Hujan deres!


.


.


Menjelang malam saat semuanya sudah selesai ketiganya berpamitan untuk pulang kerumah utama, perut yang sudah lumayan sangat lapar membuat Air melajukan mobil mewahnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


"Mampir beli kue dulu ya, Kak" pinta Hujan saat kendaraan berhenti di perempatan jalan karna lampu merah.


"Di tempat biasa?" tanya Air tanpa menoleh karna kedua matanya melirik kearah putranya lewat kaca spion.


"Iya, aku udah pesen jadi tinggal ambil aja"


Siapapun tak akan betah datang atau pulang kerumah utama tanpa membawa apapun meski hanya sepotong kue atau puding. Sudah menjadi kebiasaan sejak lama dan seolah turun menurun.


Hujan turun dari dalam mobil saat sang suami sudah memarkirkan kereta besi mewahnya di depan toko kue langganan keluarga, ia yang sudah memesan lebih dulu pada sang pemilik tentu tak lagi memilih karna semua sudah di siapkan, Hujan hanya menambah satu puding dan dia brownies coklat keju untuk para pelayan, ART dan penjaga rumah.


"Terima kasih" ucap Hujan dengan sopan saat menerima struk dan beberapa kotak kue.


Hujan yang kembali kedalam mobil langsung di berondong beberapa pertanyaan oleh putranya.


"Moy, beli Tobeli, kan?"


"Makacih, Moy cantik sayangnya dede sama papaAy" Sam dan Air mencium pipi Hujan sampai wanita cantik itu kaget dan merona.


Cie...malu juga.


.


.


Sampai dirumah utama, Sam langsung turun dari mobil. Ia yang sudah sangat merindukan sang Gajah sampai tak menjawab sapaan beberapa pelayanan di depan pintu.


"Appa... dede pulang Oey" teriaknya seperti biasa di ruang tengah, tapi karna suasana begitu sepi ia pun langsung naik ke lantai dua dengan menaiki lift agar cepat sampai kedalam pelukan Reza.


Tring...

__ADS_1


Suara kotak besi yang menggelitik telinga sang putra mahkota Rahardian itu menandakan jika ia sudah sampai di lantai atas dan kini terbukalah pintu lift tersebut dengan lebar. Sam keluar dengan berlari sambil berteriak memanggil Appanya. Namun, langkah kaki bocah kecil itu tertenti saat melihat Cahaya sedang dipeluk manja oleh sang Gajah yang sudah teramat Sam rindukan.


"Onty..... itu Appa dede!"


Reza dan Cahaya menoleh secara bersama, keduanya memang sudah mendengar sedari tadi cuma bukan Cahaya namanya jika ia tak mencari gara-gara lebih dulu dengan keponakannya itu.


"Appa dede itu kan, papahnya Onty Oey" jawab Cahaya santai namun mampu membuat kepala Reza mendadak berdenyut.


Air dan Hujan yang sudah sampai di lantai dua pun ikut bergabung dan siap menyaksikan drama adik dan anak mereka.


"Kamu bawa kue banyak banget, Jan" ucap Melisa sambil menyicipi salah satunya.


"Banyak rasa baru, jadi bingung buat pilih. jadi nyobain aja senuanya." jawab Hujan.


"Kebetulan ada adek, lumayan kan buat bantu ngabisin" sambung Hujan sambil terkekeh.


Cahaya hanya tersenyum tipis karna ia yang memang lebih dulu membuka dan memakannya.


"Pasti dong, apalagi kue yang ini kayanya enak banget wangi strawberry" balas Cahaya sambil mengigit satu kue kering kesukaan si Tutut.


.


.


.


Itukan kue tobeli dede, Oey


__ADS_1


__ADS_2