Air Hujan

Air Hujan
Quality time.


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Reza menuntun Sam langsung masuk kedalam rumah utama saat turun dari mobil, ia memerintahkan ART untuk mengambil dan mengurus semua yang tadi ia beli saat di toko hewan. Tujuan pria itu tentu ke kamarnya karna ia yakin jika anak dan menantunya pasti belum pulang. Ia sudah bisa menebak apa yang di lakukan sang putra saat ini di apartemen setelah sepuluh hari ada di luar kota.


Cek lek.


"Moy lama banet beli hadiah buat dede?" tanya Sam saat ia sudah di duduk kan diatas pangkuan sang Gajah.


"Mungkin hadianya besar, jadi susah di bawa pulang" jawab Reza sambil memeluk cucunya, Sam kini benar-benar menjadi dunianya saat di penghujung masa tuanya kini.


"Sebesar apa? Gajah?" tanya sang tutut.


"Hahaha, mungkin sayang. Ganti baju dulu yuk habis itu bobo siang"


Reza menuntun cucunya menuju kamar pribadi Samudera, ia tak pernah segan mengurus bocah tampan itu setiap harinya, mulai dari mandi bersama sampai mengantar tidur semua Reza lakukan sendiri demi sang putra mahkota.


Hingga hampir petang menjelang, akhirnya pasangan suami istri yang baru melepas rindu itupun pulang dengan senyum tak lepas dari wajah mereka.


"Dede mana mah?" tanya Air pada Melisa.


"Belum bangun kayanya, tidur dikamarnya sih" jawab Melisa yang sedari tadi sibuk di dapur bersihnya.

__ADS_1


"Mama ngapain? wajannya ada yang hilang?" tanya Hujan yang memperhatikan sang mama mertua.


"Enggak, lagi mau di susun ulang soalny mama pesen baru lagi ke adek" sahut Melisa dengan senyum sumringah.


Air dan Hujan hanya bisa membuang napas kasar saat memaklumi sifat sang Nyonya besar Rahardian dalam hoby nya mengoleksi banyak peralatan memasak dalam berbagai model dan bentuk juga warna.


"Kita kekamar dulu, mah" pamit Air.


"Hem, iya. Sebentar lagi makan malam, bersiaplah" pesan Melisa pada anak dan menantunya tersebut yang di balas anggukan kepala.


Keduanya pun menaiki tangga satu persatu hingga sampai di kamar, namun langkah pasangan itu berhenti saat mendengar suara orang berlari di belakang mereka.


"De' katanya bobo?" tanya Hujan yang melepas ganggaman tangannya lalu berjongkok siap menerima pelukan hangat sang putra.


"Udah bangun, dede mimpi teljun loh tadi, takut"


"Cuma mimpi sayang, ada Moy disini, jangan takut ya" rayu Hujan yang meminta suaminya untuk menggendong Sam.


"Dede gak kangen sama papAy?" tanya Air.


Sam hanya mengangguk sambil tersenyum, wajahnya merona karna malu mendapat pertanyaan seperti tadi dari papAynya. Ia yang kini sudah besar tentu sudah bisa menyembunyikan perasaannya.

__ADS_1


"Kirain ga kangen, tadinya papAy gak mau pulang"


"Gak mahu pulang, terus mahu mana?"


"Mau diem di goa, dede jangan ikut ya" jawab Air terkekeh namun langsung mendapat cubitan dari istrinya.


.


.


Ketiganya masuk kedalam kamar, Air dan Hujan yang sudah membersihkan diri usai bercinta di apartemen tinggal meluangkan waktu mereka bersama sang putra semata wayang di atas ranjang.


Air mendengarkan semua celoteh Sam yang ia tinggalkan selama sepuluh hari, begitu banyak yang di ceritakan anak itu meski keduanya kerap mengobrol lewat sambungan telepon atau video call.


"Kalau di bilang ganteng jangan aneh, kan papAynya juga ganteng. Buktinya Moy aja sampe klepek-klepek sama papAy" goda Air sambil melirik kearah Hujan yang mencibirkan bibirnya.


.


.


"Iya saking gantengnya punya pacar dari senin sampe minggu, jadwal kencan melebihi jadwal pelajaran sekolah!" ledek Hujan membalas kepercayaan diri suaminya.

__ADS_1


__ADS_2