
πππππππ
Jadi kamu selama ini pakai pengaman, kan?
Hujan diam sejenak lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban yang di tanyakan wanita berkaca mata itu.
"Lalu?, masa depanmu masih panjang, kekayaan keluarga suamimu bukan jaminan, Jan!" ucap Bunda sedikit kecewa.
"Jangan ceroboh!" tukasnya lagi.
"Bun, aku gak berani lakuin hal gila itu, aku takut diri aku sendiri yang kenapa-kenapa, umurku masih muda resikonya terlalu tinggi" sahut Hujan.
Bunda terdiam lalu mengangguk kecil, ini bagai buah simalakama.
Dijaga salah tak dijaga lebih parah.
"Aku atur hubunganku dengan Air, Bun. Aku rasa itu paling aman untukku tanpa ada obat apapun masuk kedalam tubuhku" Tutur Hujan memberitahukan hal yang sudah ia pilih.
"Cara seperti ini aku rasa tak perlu dibicarakan dengan Air, karna aku yang menjaganya sendiri, berbeda jika aku harus meminum pil, suntik atau memasang alat penjaga kehamilan lainnya aku harus berkompromi dengan suamiku karna akan ada efek samping jangka panjang dalam tubuhku nantinya." jelas gadis itu lagi.
"Pilihan yang tepat." Tutur bunda menguasap kepala Hujan.
"Harusnya sudah dari awal Bunda gak harus mengkhawatirkan hal ini, karna bunda tau kamu lebih paham tapi bunda selalu memikirkannya terlebih saat bunda belum berbicara langsung padamu" kata Bunda yang kini bisa bernafas lega.
__ADS_1
"Bunda gak usah mikirin hal itu, aku tau apa yang harus aku lakukan. Doakan agar aku tak lupa dan terkecoh saat menghitung tanggal" kekeh Hujan yang sempat di buat pusing beberapa hari lalu.
Ya..Hujan memang memilih cara KB kalender karna menurutnya itu paling aman untuknya yang masih sangat muda sebab cara itu termasuk hal alami, tak ada bahan kimia atau apapun yang masuk kedalam tubuhnya, hormonnya juga akan selalu stabil, begitupun dengan siklus datang bulannya dan beruntungnya, Hujan adalah tipe wanita yang selalu tepat jika sang tamu bulanannya datang meski sering telat bahkan maju satu sampai tiga hari.
Dan Air pun cukup mengerti hal itu, ia tak pernah merengek atau memaksa saat Hujan mengatakan ia sedang berhalangan.
Itu tentu membuat Hujan lebih tenang saat di masa-masa suburnya itu, Hujan harap sang suami bisa terus paham karna bagaimanapun ini baru pertama kali ia terapkan dalam berhubungan mengingat usia pernikahannya yang baru satu bulan.
*****
Air yang sudah membersihkan diri bingung harus berbuat apa jika dirumah Bunda, tak ada teman mengobrol jika sang istri justru memilih bersama wanita berkacamata itu.
Berguling, berbaring, menyamping hingga tengkurap sudah ia lakukan untuk menentukan posisi ternyaman nya sambil menunggu kantuk datang.
Tapi sudah lebih dari jam sembilan malam, Hujan belum juga kembali ke kamar mereka.
"Kaya gak ada nanti aja, sampe jam segini belum balik kamar juga!"
Air terus saja mengoceh tak jelas, mencoba ingin mengirim pesan, namun nyatanya Ponsel Hujan ada di atas nakas.
Bisa saja ia keluar tapi rasa malunya justru lebih besar apalagi Hujan bukan hanya mengobrol dengan Bunda tapi dengan satu wanita dewasa yang entah itu siapa.
"Huft..." Air membuang nafas kasar.
__ADS_1
"Kenapa gak kepikiran buat ada perangkat game dikamar ini sih, jadi gue gak jenuh kalo nungguin si Jan Hujan dereeeeeees!"
"Tapi kan gue juga jarang kesini ya" gumamnya lagi sambil terus berfikir.
.
.
.
.
.
.
.
"Berarti masih untung si papa ya gak punya mertua, gak harus ngalamin galau begini, hiks"
πππππππππ
kemaren bangga.. Sekarang ngeluh ππππ
__ADS_1
Dasar cebong!!!
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ