Air Hujan

Air Hujan
Bab 218


__ADS_3

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿.


Hujan yang bingung harus apa sendiri di apartemen benar-benar memutuskan untuk menyusul suaminya ke kantor tak perduli jika Air akan marah atau tidak padanya.


Hatinya resah dan gelisah. Tak pernah sebelumnya ia merasa se khawatir ini.


"Mah.. aku pergi ke kantor kakak" ucap Hujan saat Melisa mengangkat teleponnya.


"Ya sudah, tapi hati hati di jalan ya" pesan sang ibu mertua yang langsung di iyakan oleh Hujan.


"Iya, mah. Aku berangkat sekarang" pamitnya sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon.


Hujan langsung keluar menuju lobby, disana sudah ada mobil beserta supir sedang menunggu nya.


"Pak.. kantor suami saya ya" pinta Hujan.


"Baik, Nona muda"


.


.


.


"Tuan, ada yang sedang mencari anda" Air menoleh dan mengernyitkan dahinya.


"Siapa?" tanya Sang direktur seraya melirik kearah sekertarisnya


"Permisi" sapa seorang wanita dengan wangi parfum yang langsung menyeruak ke indra penciuman siapapun yang ada di dekatnya.


Air langsung bangkit dari duduknya begitu pun dengan Daniel yang akhirnya kedua pria itu berjalan mendekat sambil mempersilahkan wanita tersebut untuk duduk di sofa.


"Silahkan"


"Maaf, sebelumnya. Perkenalkan nama saya Farisha" sapanya lagi sambil mengulurkan tangan.

__ADS_1


"Air"


"Daniel"


Ketiganya saling menyapa dan memperkenalkan diri masing masihg sesuai jabatan mereka. Tak lupa Farisha pun memberitahukan maksud dan tujuannya datang ke kantor Rahardian semata karna perwakilan perusahan keluarganya, Ia datang untuk menggantikan sang Ayah yang mendadak tak bisa datang.


Dua jam lamanya ketiganya membahas soal pekerjaan sampai akhirnya suara ketukan pintu terdengar lagi.


"Biar saya yang buka pintunya, Tuan"


Daniel meletakkan laptopnya keatas meja lalu bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu yang masih terketuk semakin lama semakin keras.


Cek lek


"Nona muda, silahkan masuk"


Hujan yang baru masuk dua langkah langsung berhenti saat melihat suaminya duduk berdampingan dengan perempuan lain, Rok mininya yang pendeknya lima jari di atas lutut tentu membuat paha mulus itu terlihat jelas dimata suaminya.


"Sayang... " sapa Air yang akhirnya bangun dan menghampiri istrinya yang masih berdiri di dekat pintu.


"Maaf, aku mengganggu jam kerjamu" ucap Hujan dengan sorot mata tak lepas dari perempuan yang sedang tersenyum ramah padanya.


"Aku pulang aja, Ay"


"Kamu udah ada sini masa mau pulang, tunggu aja ya di kamar. Sedikit lagi habis ini aku janji kita langsung jalan-jalan" rayu Air yang tak mengizinkan Hujan pulang, ia tahu perasaan istrinya sedang tak baik-baik saja.


"Yuk aku anter ke kamar ya" ajaknya kemudian yang nyatanya tak di gubris sama sekali oleh sang istri.


"Sayang.. Hujan!" panggil Air membuyarkan lamunannya.


"Boleh aku tetap bersamamu?" pinta Hujan dengan tatapan serius kearah suami.


"Maksud kamu apa?"


"Aku tak akan menggangu, aku hanya ingin ada disisimu" jelasnya pada Air yang membuat pria itu menautkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Dikamar aja ya, Kamu gak akan nyaman"


Hujan menggelengkan kepala tak setuju dengan apa yang di. inginkan Air.


"Baiklah"


Air menggandeng tangan Hujan menuju Sofa, Farisha yang yang tadi masih duduk sontak bangun sambil tersenyum.


"Bu Farisha, perkenalkan ini Hujan istrinya saya" ujar Air seraya merangkul belahan jiwanya.


"Hujan"


"Farisha, senang bisa mengenalmu" ucapnya ramah.


"Iya, Saya juga" timpal Hujan sambil melepas uluran tangannya.


.


.


.


.


.


.


.


.


Oh.. jadi ini istri pewaris Rahardian yang sempat depresi itu.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


minta di cocol sama cabe setan 🀣🀣🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan


__ADS_2