
ππππππ
#Sebelumnya.
Sam yang berada di kamar orangtuanya pun masih berguling di atas ranjang besar, ia yang baru saja menghabiskan segelas susu belum mau tidur dengan alasan esok takut terlambat ke sekolah. Anak itu bagai punya sinyal tersendiri untuk mengganggu sang bayi buaya cengeng kesayangan miMoynya.
"De' emang gak ngantuk?" tanya Air yang sudah sangat gelisah, ia terus saja melirik kearah Jam yang tergantung di dinding.
"Nda, mata dede nda mahu melem, napa ya?" anak itu malah balik bertanya membuat Air semakin uring-uringan, sedangkan Hujan masih santai bermain posel sembari duduk bersandar di punggung ranjang.
"Bobo gih, Gajah dede nungguin loh" rayu Air lagi.
"Gajah dede habis di cuci Amma, ketumpahan susu dede bayi Ola."
"Iya, liat dulu sana, udah kering belum gajahnya, kata Amma di cucinya pakai parfum strawberry dapet di beliin uncle Abang Langit loh"
"Masa?, Amma nda bilang dede" ucapnya tak percaya.
"Cium aja sana gajahnya sendiri" titah Air meyakinkan. Ia yang sudah sangat ini menjamah sang istri tentu akan melakukan apapun demi bisa melancarkan aksi basah basahan. Dua bukit kembar dan satu petak lahan kebun milik Hujan seakan terus berputar di otak mesumnya.
"Okeh, dede cium gajah dulu ya, papAy tunggu sini."
"Iya, ganteng. Ciumnya dari jidat sampe jempol kaki si gajah ya buat lama'an dikit" kekeh Air sambil tertawa.
Hujan yang memang sedari tadi diam bukan berarti tak mendengar, Ia justru tertawa kecil mendengar perbincangan anak dan suaminya apalagi saat Air merayu, seperti bukan ayah dan putranya, bukan?
__ADS_1
Air memang sangat senang mengobrol sambil menjahili Sam, tak jarang juga mereka berdebat hal hal sepele, jadi tak salah jika hubungan keduanya begitu banyak warna tersendiri terlebih Samudera adalah anak satu-satunya. Air yang sempat trauma saat meninggalnya anak kedua mereka membuat ia mencurahkan segalanya hanya pada Samudera.
.
.
Braaakk...
"Dede datang lagi Oey" teriak Sam saat masuk ke kandang Gajah.
Reza yang seakan tahu cucunya akan datang, buru-buru bersembunyi di balik selimut.
"Eh, ko nda ada sapa sapa ya?. Appa... Appa dede.. Amma... Amma dede mana Oey"
Sam yang melihat kearah ranjang langsung tertawa kecil, ia tahu jika pria kesayangannya itu kini pasti sedang berada disana.
"Wah, ini apa ya besal banet" ucapnya sambil tertawa, tubuh mungilnya langsung naik keatas tubuh Reza yang tertutup selimut.
"Ampun, Nda? dede doyang doyang ya" ancam Si Tutut sambi terus berlagak seperti naik kuda seraya tertawa kencang.
Reza yang kesakitan pun akhirnya menyerah kemudian membuka si kain tebal.
"Sakit de', ayo turun" titah sang Tuan besar Rahardian.
"Nda mahu, Gajah dede mana? udah keling kan?Nda bau susu dede bayi Ola lagi" tanyanya yang ingat dengan maksud Kedatangan ke kamar Appa dan Ammanya.
__ADS_1
"Udah, kan Amma simpan di kamar dede"
Bocah itu mengernyitkan dahi, karna sar sore benda kesayangan sejak bayinya itu belum ada.
"Dede liyat dulu ya, ntal sini lagi."
Sam turun dan langsung berlari lagi menuju kamar pribadinya, kamar yang sebenarnya jarang sekali ia tempati karna selalu tidur bersama orang-orang tersayangnya.
Ceklek..
Sam membuka pintu berwarna putih itu dengan cukup keras seperti biasa. Senyumnya langsung melebar saat melihat boneka Gajah kesayangannya meringkuk diatas tempat tidur. Sam pun langsung menghampiri dan naik keatas kasur. Di peluknya si benda keramat sambil di ciumi berkali-kali.
"Hem, wangi banet. Tapi bukan wangi tobeli ini. Ini wangi jeluk" ucapnya sambil terus mengendus.
"PapAy salah, papAy halus kasih tau sama dede"
Sam pun keluar dari kamarnya membawa sang Gajah untuk kembali pada orangtuanya. Tapi sayang, kamar papAy dan miMoynya malah terkunci rapat dan terlihat gelap saat Sam melihat dari sela atas pintu tersebut.
Ia yang panik akhirnya kembali ke kandang Gajah sambil menangis. Reza dan Melisa pun akhirnya harus susah payah menenangkan cucu mereka.
.
.
Udah jangan nangis, nanti ekor buaya PapAy kita sentil ya biar gak bisa angguk angguk lagi.
__ADS_1