Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 115


__ADS_3

πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜πŸ’˜


Rumah utama yang baru ditinggal oleh Sam sudah sangat terasa sepinya, tak ada suara teriakan dan tawa seperti biasa, itulah yang kadang membuat Reza dan Melisa kadang berat hati mengizinkan anak mantu dan cucunya pergi tapi mereka sadar jika ada keluarga lain yang sama sayangnya pada Sam.


"Huft" Melisa membuang napas sambil menyandarkan tubuh langsingnya itu di kursi dapur bersih bersama Omma yang sedang mengupas beberapa buah.


"Kenapa?"


"Kangen dede" jawabnya lemas.


"Baru juga tadi pergi, Mel" kekeh sang ibu mertua rasa ibu kandung bagi Melisa.


Omma yang selalu baik bahkan semakin baik hingga keduanya menua bersama tentu mendapat limpahan kasih sayang yang luar biasa dari Melisa yang menjadi menantu perempuan satu-satunya Rahardian, terlebih setelah Amerra menikah dan ikut bersama Ricko.


"Jarang banget dia pergi lama apalagi nginep, meski kadang kalo ada dirumah bikin tekanan darahku naik, Mah" ujar Melisa sembari tertawa kecil.


"Ya begitulah yang mama rasakan saat si kembar datang dan pulang, rumah yang tadinya begitu ramai tiba-tiba sunyi kembali tanpa mereka"


"Semua ada waktunya ya, Mah" timpal Melisa lagi.


"Ya, kehidupan bagai roda, kadang diatas dan kadang dibawah. Terkadang sepi lalu ramai begitu seterusnya" tutur Omma yan selesai dengan kupasan buahnya.


Dua wanita yang sama-sama menantu Rahardian Wijaya itu pun akhirnya berpisah di ujung tangga untuk ke kamar menemui suami mereka masing-masing.

__ADS_1


Melisa melangkahkan kakinya santai dengan perasaan masih mencelos kehilangan.


CEKLEK.


Ia masuk kedalam kamar, alisnya langsung bertautan saat melihat suaminya sedang cekikikan dengan ponsel di tangannya.


"Baru juga di tinggal udah di telepon aja, aku yang jarang bareng Sam aja sedih apalagi kamu yang hampir dua puluh empat jam sama Sam" gumam Melisa yang begitu terharu dan gemas jika sudah melihat cucu dan suaminya itu sedang bersama.


Melisa yang penasaran apa yang di obrolkan keduanya itu akhirnya mendekat dan duduk di sebelah sang suami.


****


"Dede dah mam tadi ama teli" jawab Sam santai dan tentunya jujur.


"Iya, itannya taya dede" ucapnya lagi mulai bercerita seperti biasa, Apapun itu tak pernah ada rahasia antara Gajah dan sang Buntut.


"Kok ikannya kaya dede, kenapa?"


LUCU...


Air menepuk jidatnya sendiri saat mendengar Papa dan Anaknya itu terus mengobrol yang menurutnya itu sangat tak penting.


"Itannya tecil, telas tapi enak. Nanti Amma acak uwat dede ya di lumah Oppung" pintanya pada Reza untuk menyampaikan inginnya itu ke Melisa.

__ADS_1


"Iya, nanti Appa bilangin ya. Appa mau bobo ah, dede juga bobo, Ok"


"Keh, Appa. Tayang Appa ama Tanen Appa banak banak"


Sam mengembalikan ponsel yang ia pegang itu pada PapAynya, ia terus memperhatikan kucing orange yang sedang menyusui anak-anaknya itu.


"Coba dede hitung itu kucingnya ada berapa" kata Hujan yang tiba-tiba datang dan ikut bergabung.


"Atu.. uwa.. tida.. empat"


"Ada empat, Moy" jawabnya sambil bertepuk tangan.


"Kirain jujuh jajah, hahahaha" ledek Air yang kembali tertawa.


Sam tentu langsung menoleh dan kembali menghitung ulang. Ia tunjuk satu persatu si kucing berserta kucing besarnya.


"Atu.. uwa.. tida.. empat.. ima"


Jari telunjuknya beralih pada Hujan " Enem"


Lalu ke arah Air "Jujuh"


Dan terakhir pada dirinya sendiri JAJAH...

__ADS_1



__ADS_2