
ππππππππ
Air menghela nafasnya saat tangannya mulai membuka satu persatu satu kancing piyama Hujan, ia letakan baju atasannya diatas wastafel begitu pun dengan celananya. Kini hanya tersisa pakaian dalam yang menutupi kebun kecil yang tak ia siram selama dua tahun lamanya.
Tubuh polos Hujan terpampang jelas depan matanya, Bohong jika ia tak tergoda tentu kini malah jiwa kelelakiannya sedang bergejolak.
"Kenapa?" tanya Hujan saat Air masih diam belum membawanya masuk kedalam bathup.
"Gak apa-apa, kamu udah makan belum?"
Hujan menggelengkan kepalanya.
"kan kakak bilang, kalau main ke sini mandi sama sarapan dulu" ucapnya sambil meneteskan cairan aroma therapy kedalam air untuk Hujan berendam.
"Tadi siapa?" tanyanya sembari memainkan busa.
"Yang cowo tadi?, itu sekertaris kakak. Namanya Daniel, nanti kenalan ya" pinta Air yang di balas gelengan kepala.
"Takut?, dia gak jahat kok" sambungnya lagi untuk meyakinkan Hujan agar bisa menerima orang baru dalam hidupnya lagi, Ia tahu kekasih halalnya itu dulu berambisi untuk menjadi dokter bedah meski rasanya kini semua jauh bisa diraih bila traumanya pada benda tajam belum hilang.
.
.
.
Usai memandikan, kini saatnya Air memakaikan baju yang sudah di bawa Mbak dari rumah, Hujan ia dudukkan di sofa sedang ia juga duduk di belakangnya dengan sisir di tangan.
"Cantik gak?" tanya Hujan saat ia melihat wajahnya di cermin.
"Emang ada yang lebih cantik?" goda Air, Ia kini sering tak percaya diri semenjak melihat wajahnya yang dulu berantakan dengan rambut pendek.
"Makan ya, belum makan kan?"
"Mau Naga kasih susu" pintanya yang lagi lagi enggan memakan nasi.
"Susu kanan apa susu Kiri" kekeh Air malu sendiri, otaknya kembali melayang ke area basah basahan yang kini sedang kemarau karna ia tak lagi bertugas menyiramnya.
Air meminta Mbak untuk membawakan sepiring buah naga dan susu.
__ADS_1
"Kamu diem disini ya, Kakak mau lanjut kerja. Nanti kita jalan-jalan beli kue yang banyak, Ok" titahnya pada Hujan saat selesai menyisiri rambut panjangnya yang kini nampak seperti dulu lagi.
Air kembali ke mejanya lalu fokus pada layar laptop yang tadi sempat ia tutup, Daniel yang juga sudah kembali masuk kedalam ruangannya langsung duduk di hadapan bos barunya itu setelah menyapa Hujan.
Keduanya fokus pada pekerjaan mereka Masing-masing sambil menunggu waktu pertemuan di restauran A.
"Tuan, kita bisa berangkat sekarang"
Air melihat jam di pergelangan tangannya, Ia menghela nafas lalu melirik kearah Hujan yang sedang di bersihkan kuku tangannya.
"Hem, kita jalan sekarang"
Air bangun dari duduknya mengulurkan tangan kearah Hujan.
"Kemana?" tanyanya polos setelah mendongakkan wajahnya.
"Beli kue yang banyak"
Keduanya keluar dari ruangan menuju restauran A dengan Daniel dan Mbak yang merawat Hujan mengekor di belakang mereka.
Daniel membawa mobil mewah bosnya itu dengan kecepatan sedang, membelah jalanan ibu kota yang sudah sore menjelang jam pulang kantor.
Sampai di Restauran A, Hujan dan Mbak diminta duduk meja tepat di belakang Air dan Daniel yang akan mengandakan pertemuan dengan perusahan x.
"Kami ucapkan Terimakasih, dan senang bisa bertemu dengan anda"'ucap Air sebagai salam perpisahan.
"Tentu, kami pun merasakan hal yang sama" jawab perwakilan dari perusahaan x.
Sepeninggal rekan bisnisnya, Air langsung pindah kemeja Hujan. ia langsung memeluk sang istri sambil menciumi pucuk kepalanya.
"Kalo gak gini kamu gak akan sambuh, aku mau kamu kaya dulu" bathin Air dalam hati.
Hujan yang masih dalam dekapan Air mengurai pelukannya.
"Kenapa?" tanya Air saat sorot mata istrinya sangat fokus pada sesuatu.
"Mau itu? " pintanya sambil menunjuk ke satu arah.
Semua mata tertuju pada apa yang diinginkan Hujan.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bayi???!
πππππππππ
Boleh kok, Jan..
Mau di dowload apa mau pesen online di shapee π€£π€£ atau di mazada ππππ
__ADS_1
Othor cari yang gratis ongkir ke dunia halu dulu ok
Like komennya yuk ramaikan.