Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 58


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Air yang masih tergolek lemas di sofa tempat terakhir ia di tinggalkan Hujan pun masih sesekali menghapus air matanya, ia yang sedari dulu tak suka di abaikan kini harus pasrah saat sang istri sama sekali tak mau berbicara padanya.


"Maaf, Jan" lirihnya lagi, matanya tak lepas dari pintu kamar berharap Hujan kembali menemuinya.


Air yang sudah sangat lemas akhirnya bangkit untuk membersihkan diri, ada senyum kecil di ujung bibirnya saat ia melihat keadaan kamar mandi yang berantakan, termasuk coretan abstrak di dinding hasil maha karya putranya barusan.


"Maafin, papAy ya. Untung kamu gak apa-apa"


Air membuang nafas kasar, ia tanggalkan satu persatu pakaiannya hingga polos tanpa apapun, dibawah guyuran air Shower ia kembali merutuk kecerobohannya.


.


.


.


Makan malam kali ini terasa berbeda, Hujan yang terlihat sangat terpaksa melayaninya membuat Air hanya bisa menarik napas dalam-dalam, sikap keduanya yang tak biasa itu pun mengundang rasa curiga Gajah dan pawangnya.


Kebiasaan Hujan yang jarang sekali mengadukan sikap sang suami pada mertuanya itu tentu membuat Reza dan Melisa hanya bisa menebak apa yang terjadi pada anak dan menantunya.


Appa Au.


Samudera memecah keheningan di ruang makan, bocah menggemaskan yang masih memakai balon biru di kepalanya itu menyodorkan potongan tomat pada kakeknya.


"Buat Dede aja, ayo dimakan sayurannya" tolak Reza yang malah berbalik menyuapi Samudera.

__ADS_1


Semakin besar, anak itu semakin mirip dengan papanya, mulai dari rengekan manjanya hingga ketidaksukaannya terhadap sayur tapi sang buntut Gajah tentu tak se cengeng buaya.


"Anak pintar harus habis makannya" titah Hujan, ia akan dengan sabar meminta anaknya itu untuk belajar tak membuang makanan


Nda, Moy.


Air yang sedari tadi diam masih tak berbuat apa-apa. Ia tahu rasa tak enaknya di paksa saat di minta memakan sesuatu yang tentunya tak di sukai.


"Nanti yang ada muntah, Jan" ucap Air, melihat anaknya mulai merengek barulah ia angkat bicara.


Hujan meletakkan kembali wortel rebus yang menancap di garpu milik Samudera karna tak ingin berdebat panjang di depan kedua orangtua suaminya itu.


Hidangan yang tersaji di atas meja makan hampir seluruhnya tandas tak tersisa, Reza langsung membawa Samudera ke ruang tengah sedangkan istri dan menantunya membereskan sisa makan malam mereka.


Air yang tak berajak sama sekali dari tempatnya masih saja memperhatikan Hujan yang sangat cekatan membantu mamanya. Wanita cantik itu kini hampir memiliki keahlian yang sama karna seringnya membantu Melisa, masih tinggal satu atap membuat Hujan harus ikut serta turun tangan kedapur meski mertuanya itu melarang.


"Dede mau bobo gak?" tanya Hujan saat menghampiri anaknya di ruang tengah.


Appaa


"Bobo sama MiMoy sana, masa sama Appa terus" balas Reza yang sudah sangat gemas.


Nda.


Samudera merangkak keaarah Reza yang duduk di kursi dengan toples kacang dalam dekapannya.


Appa ih....

__ADS_1


"Iya, iya. Bobo sama Appa" Reza yang pasrah akhirnya memangku Samudera di atas pahanya, bocah satu tahun itu pun langsung memeluk dengan erat dengan kepala berada di dada kakek kesayangannya.


"Nanti kalau udah nyenyak papa pindahin" ucap Reza yang di balas anggukan kepala oleh Hujan.


Nda, Au Appaa. .


Samudera kembali protes, ia paham dengan apa yang dikatakan Reza itu.


"Hahahaha, emang dede ngerti?" tanya Reza sambil mencoba mendongakkan wajah cucunya yang memasang wajah sedih tak ingin di pisahkan, Samudera yang tak bisa jauh sepertinya masih sangat rindu Gajah nya..


.


.


.


.


.


Appaa, yaah?



cup.. cup.. sayang..


Si Gajah nakal ya, gak mau bobo sama dede?

__ADS_1


Tenang, tar mak othor cium ya biar kapok🀣🀣🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2