
πππππππ
Hujan menarik tangan suaminya saat Fajar sudah bersandar di dinding rumah bunda karna Air terus saja mendorongnya.
Sudah kesal tak ingin datang lalu di tambah adanya orang yang tak di inginkan tentu membuat Air semakin emosi dan jengkel.
"Kak.. udah dong, kamu mau apa?" Hujan terus mencoba menarik lengan suaminya agar tak terjadi hal yang tak di inginkan.
"Aku cuma nawarin bantuan, emang salah?" tanya Fajar.
"Salah! lo gak liat disini ada lakinya!" sentak Air dengan amarah sudah di ubun-ubun.
Fajar masih saja diam, tak ada takut sama sekali dalam dirinya meski Air sudah mengeluarkan Aura menyemaramkan dan siap menerkamnya.
Jika di kampus memang tak ada yang berani mendekati Hujan karna semua tahu jika gadis itu sudah menjadi hak milik pewaris Rahardian. Tapi tidak jika di luar karna ada saja yang sekedar menggoda termasuk Fajar yang memang teman dekat Hujan sedari kecil.
Jarangnya mereka bertemu terkadang membuat Fajar lupa jika Hujan sudah termiliki oleh orang lain.
"Masuk yuk, Kak. Udah malem gak enak sama tetangga kalo ada keributan" Ajak Hujan yang semakin takut.
"Siapa juga yang mau bikin ribut! " jawabnya tanpa menoleh karna sorot matanya tetap menatap Fajar.
"Terus kamu mau apa? "
"Mau langsung kirim dia ke Neraka! " sahut Air dengan tangan mengepal.
Kali ini Hujan tak ingin berbicara lagi, ia langsung menarik Suaminya masuk kedalam rumah meninggal kan Fajar di pojokan tembok.
"Ada apa?" tanya Bunda yang terlihat kebingungan saat mereka berpapasan di ambang pintu masuk.
"Gak apa-apa, Bun. kakak lagi kebelet pipis katanya" jawab Hujan sambil meraih punggung tangan wanita berkacamata itu.
Ia dan sang suami bergegas masuk dalam kamar, tak menghiraukan Bunda yang masih tak paham dengan sikap Anak menantunya itu.
__ADS_1
Bunda kembali melanjutkan langkahnya ke teras rumah yang ternyata masih ada Fajar dirumahnya.
"Loh, kamu belum pulang?"
"Belum, Bun. Tadi ada Hujan sama suaminya." kata Fajar sambil mengusap dadanya sendiri.
"Oh, Kalian bertemu?" tanya Bunda lagi
"Iya, tapi suami Hujan marah-marah ke Fajar, padahal Fajar cuma nawarin bantuan buat bawain barangnya ke dalam tapi malah di dorong sampe dinding sambil ngancem" adu Fajar pada wanita yang sudah dianggapnya seperti ibunya sendiri.
"Ngancem gimana?" Bunda yang penasaran langsung menarik tangan Fajar agar duduk bersamanya di kursi teras.
"Mau lempar Fajar ke Neraka!"
Bunda mendengus kesal, ia tak habis pikir jika Air akan melakukan hal itu pada putra temannya. Bagaimanapun Fajar dan Hujan sudah lebih lama mengenal dan bagi Bunda itu hal wajar yang di lakukan Fajar saat ingin memberi bantuan.
"Dia tak seperti ayahnya yang selalu lembut dan baik"
"Apa sih!" sentak Ai saat Hujan mendudukkannya di tepi ranjang.
"Kakak selalu bilang ke aku buat gak marah-marah, tapi temenku nawarin bantuan aja udah mau di lempar ke Neraka segala! ini tuh gak adil tau gak? " oceh Hujan sambil berdecak pinggang.
"Kamu ada kakak, gak perlu orang lain, Jan" nada bicaranya mulai naik lagi.
"Aku gak mungkin sama kamu terus. Aku gak bisa selalu bergantung sama kakak, suatu hari nanti aku pasti butuh orang lain, Kak" ucap Hujan bagai tak sadar dengan apa yang di katakan nya tentu itu langsung membuat Air bangun dari duduknya.
"Kamu mau kemana?" tanya Air dengan tangan ia letakkan di bahu gadis kesayangan nya
"Entah"
Air yang mendadak takut akhirnya menarik tubuh istrinya untuk ia peluk dengan begitu eratnya..
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Aku siap menghadapi masalah apapun itu.
Asal bukan kehilanganmu!
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Aduh akoh mules kakππππ
Mules sama omongan lo apa mules mabok sambel tolong laba laba ya πππ
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1