
πππππππ
"Ya ampun, kak. Ini sih jagung rebus!" cetus melisa kesal karna anaknya salah membeli pesanannya.
"Aku udah bilang, Mah. Tapi kakak gak mau denger katanya sama aja" sahut Hujan yang tak ingin di salahkan juga oleh mertuanya.
Sorot mata tajam Melisa kembali di arahkan kepada si salung yang bersembunyi di balik punggung sang istri.
"Mas Reza mau jagung rebus?, aku gak punya kelapanya kalau mau di bikin grontol atau aku kasih susu sama keju aja ya" tawar Melisa mencoba merayu imam dalam hidupnya Itu.
"Nah.. itu enak tuh, Mah. kakaka mau juga ya"
"Diem kamu!" sentak Melisa kesal membuat si Sulung merengut sedih, namun setelahnya ia berbisik pada Hujan
Gajahnya lagi auh.. si pawang galau...
*******
Air dan Hujan berjalan mengekor di belakang Melisa ke Arah dapur untuk membuat jagung keju permintaan Air karna Reza menolaknya dan memilih kembali tidur setelah menghabiskan teh buatan Hujan.
"Papa kalian sakit apa ya?, kok mama khawatir banget" kata Melisa sedih.
"Besok panggil dokter kesini, Mah" saran Hujan yang bisa merasakan apa yang dirasakan mama mertuanya saat ini.
"Tapi cuma mual sama pusing, hawanya ngantuk terus" jelas Melisa lagi sambil menghela nafasnya, jarang sekali sang suami sakit tentu sekalinya sakit membuat ia bingung belum lagi kondisi dirinya yang tak boleh stress karna akan memicu tekanan darahnya naik sampai berujung hipertensinya kambuh.
Air yang sudah menghabiskan semangkuk jagung keju langsung pindah ke sofa membuat Hujan dan Melisa saling pandang meminta kejelasan.
__ADS_1
"Gak tau, tadi aja makan banyak banget di pasar" ujar sang menantu seakan paham meski hanya lewat sorot mata saja.
"Ya sudahlah, mama ke kamar dulu" ucapnya sambil bangun dari duduk.
"Kak, kamu abis makan jangan langsung tidur ya nanti jadi buaya" kata Melisa yang melewati si sulung sambil memukul pelan kaki putranya itu.
"Enggak, Mah aku mau main main dulu sama Hujan" jawabnya asal tapi langsung membuat wajah istrinya merah manahan malu apalagi saat Melisa melirik kearahnya.
"Dasar! anak sama papahnya sama aja" gerutu Melisa sembari berlalu ke arah tangga menuju kamarnya di lantai dua.
.
.
Hujan mengelus kepala Air yang hampir saja terlelap.
"Kata mama jangan tidur kalau habis makan nanti jadi buaya, mama gak tau aja kalo kamu tuh bayi buaya cengeng kesayangannya aku" goda Hujan yang langsung membuat Air tersenyum tipis sampai terlihat lesung pipinya yang tentu menambah ketampanannya.
"Mulai deh, ujungnya pasti mesum, tapi boleh deh" kekeh Hujan yang langsung menciumi seluruh wajah suaminya.
Dari mulai kening, kedua pipi hingga bibir kini gantian Hujan yang menyerangnya bertubi-tubi, Air hanya menikmati apa yang di lakukan istri tercintanya karna hal ini tentu saja kejadian langka yang tak seminggu sekali ia dapatkan karna seringnya lah Hujan yang memasrahkan dirinya.
"Kamar yuk" ajak Air yang mulai tak tahan, ia berbicara dengan sorot mata fokus pada dua bukit milik Hujan yang begitu dekat dengan wajahnya.
"Enggak ah, aku mau disini" tolak si cantik seraya mengejek.
"Ayolah.. makanya jangan suka mancing Buaya yang lagi anteng"
__ADS_1
"Yang minta siapa?" tanya Hujan gemas membela diri.
"Kamu.. aku cuma kasih sedikit tapi minta nambah terus jadinya.... "
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kak.. tukang molen di pertigaan masih buka gak?
ππππππππππ
Si ganteng jadi kurir makanan..
__ADS_1
Kalo nolak lo bisa di pecat jadi direktur kak π€£π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikanπππ