Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 113


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Sudah dari dua minggu lalu Air dan Hujan berencana untuk menginap di rumah Bunda karna wanita berkacamata itu sudah sangat tak bisa menahan rasa rindunya pada Samudera.


Keinginan itu tentu di sambut baik oleh Hujan yang kebetulan juga mempunyai waktu senggang selama dua hari meski bukan akhir pekan.


"Tapi kakak ikut nginep ya"


" Iya, Jan Hujan Dereeees!" Air mengusap kepala sang istri selembut mungkin sampai Hujan harus tersenyum simpul menahan rona merah di wajah cantiknya.


Air yang sejak pagi belum melihat sang putra akhirnya segera keluar dari kamar untuk mencari Samudera. Namun, baru saja ia menuruni anak tangga suara gelak tawa Baby bearnya langsung menggelitik telinga.


"PapAy.... "


Air langsung melempar senyum sambil memberi kode agar anaknya itu turun dari gendongan Reza.


"Berat loh, Pah" kata Air saat papanya itu mendekat, Air langsung mengambil alih Sam dari dekapannya.


"Tau nih, udah kaya koala" sahut Reza.


Gajah dan buntutnya itu memang masih belum bisa lepas, alih alih tidur terpisah dan mempunyai kamar sendiri, Sam tetep saja tidur dengan dengan Appa dan Ammanya. Bocah kesayangan Rahardian itu tak hanya terlelep dalam dekapan boneka Gajah tapi juga si Gajah senior.


Sampai di lantai bawah, ketiganya langsung menuju ruang tengah karna ada Oppa disana. Pria baya yang sudah tak sebugar dulu itu pun melambaikan tangannya kearah sang cicit yang sudah di warisinya begitu banyak harta yang melimpah.


"Oppung apain?" tanya Sam yang duduk di atas pangkuan Oppa.


"Nunggu dede, katanya dede mau ke rumah Bunda?"


"Iyyaah, dede mahu pelegi ke lumah undah, Oppung nanan tanen duyu dede na biyum pelegi"


Air hanya terkekeh mendengar apa yang di katakan putranya meski jujur ia tak begitu paham maksudnya.


"Emang kamu ngerti dede ngomong apa?" tanya Reza.


"Dede mau pergi kerumah bunda, Oppung tangan tanem bayem bayem. Gak tau ah...!" kata Air yang bingung sendiri dan tak melanjutkan nya lagi.

__ADS_1


Kini Reza lah yang tertawa terbahak-bahak saat tahu anaknya itu salah menerjemahkan ucapan Samudera.


"Dede mau kerumah bunda, Oppung jangan kangen dulu dede nya belum pergi"


.


.


.


.


Jam Sepuluh pagi akhirnya Air, Hujan dan Samudera pergi ke rumah Bunda, selama perjalanan bocah menggemaskan itu terus saja banyak bertanya seperti biasa bahkan ia sudah merengek meminta miMoynya untuk melakukan panggilan video call.


"Kalo udah berdua kaya orang pacaran ya" kata Hujan pelan saat melirik anaknya di kursi belakang masih mengobrol dengan papa mertuanya.


"Bucin banget mereka tuh" timpal Air sambil terkekeh.


Mobil mewah milik Air akhirnya sampai di rumah Bunda setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam, Sam yang ikut turun hanya mengekor di belakang orang tuanya dengan ponsel masih memegang ponsel Hujan.


"Assalamu'alaikum"


Cek lek.


Bunda membuka pintu, ia langsung berhambur memeluk Hujan menumpahkan rasa rindunya.


"Apa kabar, Ay"


"Baik, Bun" jawab Air sambil menyalami punggung tangan Bunda dengan takzim.


"Ini jagoan Bunda, gimana?"


Sam hanya mengangguk sambil tersenyum, ia terkekeh geli saat wajahnya di ciumi secara gemas oleh Bunda.


"Yuk masuk, Bunda udah siapin makan siang"

__ADS_1


Sikap Hujan yang begitu manja pada Bunda membuat Air mengulum senyum selama melangkah ke ruang makan yang menyatu dengan dapur.


"Dede udah gak pake kursi bayi kan, sekarang?"


"Nda"


"Anak pintar" balas Bunda seraya mengusap kepala Sam.


Semuanya menarik kursi masing-masing dan duduk diatasnya.


"Ini apah tecil tecil banet?" tanya Sam sambil menunjuk satu piring di atas meja.


"Itu ikan, de" jawab Hujan.


"Itan na tecil banet, nda taya itan di lumah oppung besal besal?" tanyanya lagi masih dengan raut bingung yang sangat jelas di wajah tampannya.


"Iya, ini namanya ikan TERI" sahut Bunda.


.


.


.


.


.


.


Telimakacih?



Duh.. yang gak tau teri ampe megangin kelapa🀣🀣🀣

__ADS_1


pusing ya de baru nemu ikan kecil.. tar gue kasih rebon baru nyaho lo 🀭🀭🀭


Like komennya yuk ramaiakm.


__ADS_2