Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 28


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Apa kabar?" tanya seorang gadis yang langsung duduk di hadapan Hujan.


"Baik" jawabnya cepat dengan tatapan bingung.


"Aku Nanda, inget gak?" ucapnya sambil tersenyum.


Hujan mengernyitkan dahinya, otaknya sedang berpikir keras dengan siapa sosok gadis cantik di depannya kini.


"Maaf, aku lupa" sahutnya saat sama sekali tak mengingat apapun.


"Haha, baiklah kita memang hanya dua kali bertemu dan itu pun hanya sekedar basa basi saling menyapa, wajar jika kamu tak mengenalku tapi aku akan selalu mengingat wajahmu sampai kapanpun" tukasnya dengan senyum yang sulit di artikan.


"Maksudmu apa? apa kita ada urusan yang sangat serius sampai kamu harus bersusah payah mengingat wajahku." balas Hujan, ia sudah cukup merasa jengah dengan hadirnya para deretan gadis di masa lalu suaminya.


Hujan memalingkan wajahnya, rasa nikmat dan lapar seakan langsung sirna begitu saja saat sosok Nanda datang secara tiba-tiba.


"Kamu hamil lagi?" tanya Nanda.


"Ya" jawab Hujan singkat pada dan jelas.


"Selamat ya, titipkan salamku pada suamimu"


Hujan mendongakkan wajah saat Nanda bangun dari duduknya, gadis itu berdiri dengan sangat anggun sampai terlihat bentuk tubuhnya yang bagai gitar biola dan itu tentu akan membuat laki laki mana pun akan terpesona melihatnya.


"Aku pamit, sampai jumpa lain waktu"


"Silahkan, tapi aku berharap tak berjumpa lagi denganmu!" jawab Hujan yang langsung membuat wajah Nanda merah menahan malu dan marah.


Hujan menghela napasnya dalam dalam sambil memejamkan kedua matanya. Namun, ia terperanjat kaget saat jeritan Samudera cukup memekikkan teliinganya.


"Kamu kenapa, Jan?" tanya Melisa.


"Ah, enggak, Mah. Aku cuma abis ketemu nenek lampir tadi" jawab Hujan sambil terkekeh dengan tangan terulur pada putranya.


Melisa langsung menautkan kedua alisnya, ia tak paham apa yang di maksud menantunya tadi tapi ia cukup beranggapan jika Hujan sedang bergurau.

__ADS_1


"Mama sudah pesan puding buah untukmu, ada yang lainnya lagi?'


"Cukup, Mah. Aku cuma mau itu"


Melisa dan Hujan langsung keluar dari toko saat pesanan nyonya besar Rahardian itu sudah siap, Samudera yang sepertinya mengantuk sedikit rewel mencari sang Gajah untuk menemani tidurnya.


"Mau bobo ya, dede cari gajah?" goda Hujan pada Samudera yang ada dalam pelukannya.


"Appa...." sahut si bayi montok dengan sangat lugas jika sudah memanggil kakeknya.


Hujan dan Melisa hanya tertawa, dalam keadaan kantuk saja ia masih saja bergumam mencari dua gajah kesayangannya.


.


.


.


Samudera yang sudah tertidur dari satu jam lalu dan Air yang tak kunjung pulang membuat kamarnya nampak begitu sepi, Ia pun akhirnya memilih turun lagi ke lantai bawah berharap ada mertuanya di ruang tengah usai makan malam tadi.


"Sepi" gumam Hujan saat kedua kakinya sudah berada di tangga paling akhir.


Hujan memilih masuk kedapur, duduk di salah satu kursi meja makan setelah mengambil puding buah yang di belikan mama mertuanya sepulang dari rumah sakit.


Di letakannya puding buah tersebut tanpa ada rasa ingin memakannya.


...Cup......


Satu kecupan di pipi kanannya berhasil membuat Hujan menoleh, ada senyum hangat yang ia lihat dari wajah tampan sang suami yang baru datang.


"Sendirian aja, tar aku cemburu kalau ada kecewa godain kamu, Jan Hujan dereeeees!"


"Kecoa kak, kecewa itu aku, aku yang lagi kecewa nih" cetus Hujan tanpa basa basi, Air yang sadar dengan raut wajah sang istri yang tak biasa langsung duduk di sisinya.


"Kecewa kenapa, apa aku ada salah?" tanya Air sambil menggenggam tangan Hujan yang begitu hangat.


"Kamu sakit, yang?"

__ADS_1


Hujan hanya menggeleng, rasanya ia ingin menangis tanpa harus berkata jika ia sedang begitu cemburu saat ini.


"Ada apa, cerita dong jangan diem begini" pinta Air yang paham betul ada sesuatu yang mengganjal dalam hati istrinya.


"Gak apa-apa"


"Kalo gak apa-apa gak mungkin cuek begini kalo aku pulang, kan biasanya kamu kaya koala suka minta aku gendong" godanya sambil terkekeh namun candaannya kini tak mampu membuat wajah cantik istrinya tersenyum.


"Lagi males ngomong"


"Ya udah cium aja sini, kalo gak mau ngomong" rayunya sambil menyentuh dagu Hujan agar menghadap ke arahnya.


"Sayang, kenapa sih" tanya Air lagi namun, tangannya langsung di tepis oleh Hujan.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kamu itu manis, jadi gak boleh dingin gitu, Aku takut ketuker antara kamu sama puding buah!!



🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Gak jadi marahnya gue sih Jan kalo di gituin, 🀣🀣

__ADS_1


Langsung Gandeng ke kamar buat guling guling 😘😘😘


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2