
ππππππππππ
Sepulang dari pemakaman semua orang berkumpul di ruang keluarga rumah utama, dan Samudera adalah satu-satunya yang menjadi pusat perhatian mereka karna tingkahnya yang lucu dan menggemaskan. Tak ada yang tak tertawa saat melihat bocah berumur tujuh bulan itu merangkak mengejar Reza yang terus menjauh darinya. Ia bagai Koala jika sedang dalam gendongan Appanya dan itu membuat ia tak mudah berpindah gendongan ke orang lain.
"Sini ke Amma" Melisa melambaikan tangannya pada Samudera yang memegangi ujung baju suaminya.
Appa....
Air yang memanyunkan bibirnya semakin di ledek oleh adik juga Uncle nya.
"Harus bikin lagi kak" kekeh Ricko yang meletakkan kepalanya di atas paha istri tercinta.
"Terus kalo nemplok lagi begini gimana?" timpal Reza langsung.
"Ya lo makin menderita lah, Hahahaha" sahut sang mantan Duda.
"Tuh mulut belom pernah gue karetin dua ya!" cetusannya mulai emosi.
Si kembar yang sudah sangat biasa mendengar perdebatan tak penting dua pria berumur itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Papah sama Uclenya lama-lama adek ceburin ke kolam ya, kalo masih ribut terus" ancam Si bungsu saat melihat mama dan Aunty seakan sudah menyerah.
"Gak apa-apa, dek. Kakak mau liat Ucle bibirnya di kuncir sama karet dua, wkwkwk" balas Air sambil tertawa terbahak-bahak.
Hujan memukul lengan suaminya, ada senyum manis di wajahnya yang tak lagi pucat walau masih ada sisa kebasahan di matanya yang memerah.
"Kakak bayanginnya aja lucu, gimana liat langsung, Jan"
Air yang masih tertawa harus ikhlas di lempar bantal oleh papanya, melihat hal itu Sam justru menjerit kesenangan sambil bertepuk tangan.
__ADS_1
Horeeeeeeeee....
Semua bersorak sambil ikut bertepuk tangan bersama cucu tunggal, anak tunggal dan cicit tunggal Rahardian itu.
"Lucu banget deh, anaknya capa cih?" seru Ameera yang memang sangat gemas dengan cucu keponakannya.
Appa...
"Hahahaha, dek. Kamu punya adek ya sekarang? kayanya di coret tuh jadi anak bungsu." ledek wanita berambut pirang itu pada Cahaya.
"Iya, sejak kapan Sam anaknya papa, Sih?" cetus Si bungsu.
"Sejak mual dan lemes" jawab Langit sambil tertawa. Ia yang menjadi salah satu saksi bagaiamana tersiksanya sang papa mertua dulu tentu tak akan melupakan kejadian itu.
"Maklum lah, tugasku cuma garap tanem dan siram!" timpal Air dengan bangganya.
Bumi dan kahyangan yang sedari tadi sibuk berdua akhirnya bangkit dari duduk membuat semua orang mengalihkan pandangannya pada mereka.
"Kepo!" balas si tengah yang melengos menuntun gadis halalnya.
"Woy, masih siang" teriak Air saat pasangan suami istri itu mulai menaiki tangga.
Bumi dan kahyangan seakan menutup telinganya, jangankan untuk menghentikan langkah sekedar menoleh pun tidak Sama sekali.
"Jangan suka ganggu orang yang baru nemu lahan bercocok tanam, Kak" ucap Reza yang seringkali mendengar si sulung meledek adiknya.
"Noh dengerin apa yang di bilang senior, papamu itu udah menjelajahi sampai ke pedalaman Hutan" ledek Ricko sambil berlari menjauh.
"Bang ke lo!"
__ADS_1
Reza yang baru mau mengejar adik iparnya itu langsung di tarik oleh istrinya yang sedari tadi menahan sabar dengan kelakuan sang suami yang tak henti berdebat dengan suami dari adiknya itu.
"Hayo, mau kemana?!"
Reza kembali duduk tak berani menjawab saat kedua mata Khumairahnya membulat sempurna.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kakak maennya di kebon aja hasilnya kaya begini...
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
__ADS_1
Nih keluarga kaleng rombeng ya rame banget π€£π€£
Like komenannya yuk ramaikan.