Air Hujan

Air Hujan
bab 217


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hujan yang masih berdiri di antara ruang tengah dan ruang makan terus menatap kearah pintu berharap suaminya mau kembali untuk menciumnya kening dan mengusap perutnya, Namun sekian menit ia tertegun benda itu tetap tak terbuka untuk mengembalikan suaminya.


"Aku cuma mau jalan-jalan, Ay" lirihnya sambil menghapus air mata.


Wanita hamil itu kembali naik keatas lantai dua menuju kamarnya, Hujan duduk di tepi ranjang mengusap kasurnya yang rapih, dua hari lalu ia mengganti seprai nya berharap Air mau melakukan hal yang menyenangkan denganya tapi nyatanya pria tampan itu pulang begitu larut sampai ia sendiri pun tak menyadarinya.


"Sesibuk apa sampai tak ada waktu untukku?, bukankah kamu tahu rasa sakitnya jika di abaikan?" gumam Hujan sambil menghela nafasnya.


Bisa saja ia bertanya pada Bumi dan Langit tapi ia enggan masalah rumah tangganya sampai di telinga orang lain meskipun itu keluarga sendiri.


Hujan masih berfikir positif, bukan hanya demi hubungannya tapi juga demi buah hatinya yang tiga bulan mendatang akan melihat dunia.


Ia tak ingin terjadi hal apapun pada bayi mungil dalam perutnya kini jika terlalu banyak yang ia pikirkan.


"Aku mencintaimu, begitu pun denganmu, kan?"


******


Air yang keluar dari apartemen terus berjalan menuju lift, masuk kedalam kotak besi yang akan mengantarnya sampai ke lobby.


Di dalam mobil mewah yang sudah ia nyalakan mesinnya itu Air terus menghela nafas dan membuangnya kasar. Ia juga berkali-kali mengusap wajahnya secara frustasi.


Kereta besi ia jalankan dengan kecepatan sedang, dengan sedikit melamun tapi akhirnya sampai juga di parkiran perusahaannya.

__ADS_1


Daniel yang sudah menunggu di depan pintu langsung membukanya dan mempersilahkan sang direktur untuk segera masuk.


"Gimana?ada kabar baik?" tanya Air langsung tanpa basa basi.


"Hari ini akan diselesaikan, Tuan" jawab Daniel yang mengerti dengan apa yang ditanyakan oleh bosnya.


Air duduk di kursi kebesarannya melepas jas dan melonggarkan ikatan dasinya yang di Pakaikan Hujan tadi dan itu sontak membuat ia ingat lagi dengan pemilik hatinya itu.


"Gara gara masalah begini gue lupa cium bini gue!" rutuknya kesal.


Daniel hanya menundukkan pandangannya, ia tak berani menjawab apapun yang di ucapkan sang direktur.


Masalah yang kini menerpa perusahaannya memang sangat menguras otak dan tenaga para petinggi perusahaan.


"Moga gak ada lagi masalah kaya gini, kasian Hujan"


"Semoga, Tuan" jawab Daniel yang kini sedikit mendongakkan wajahnya sambil tersenyum kecil.


Pria tinggi itu mulai membacakan agenda jadwal harian sang direktur dari mulai detik ini sampai selesai, Air mendengarkan secara seksama sambil terus berfikir.


"Selesaikan yang penting lebih dulu!" titah Air sambil membuka laptopnya.


"Baik, Tuan"


Semua di kerjakannya dengan begitu cepat karna bayangan Hujan tak lepas dari pelupuk matanya, belum lagi wanita itu sampai mengulang keinginannya berarti ia sungguh sangat ingin melakukannya.

__ADS_1


Tok.. tok... tok..


Suara ketukan pintu membuyarkan fokusnya, tanpa menoleh ia hanya mendengar asistennya yang lain berkata


.


.


.


.


.


.


.


"Tuan, ada yang sedang mencari anda"


πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„πŸ„


Yakin gue itu pasti tukang gofood 🀣🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan

__ADS_1


__ADS_2