Air Hujan

Air Hujan
Bab 129


__ADS_3

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Aku tau..


aku selalu menjadi orang yang paling menjengkelkan bagimu, membuatmu marah bahkan lelah.


Tapi kamu juga harus tau..


Kalau kamu adalah satu-satunya perempuan yang paling aku inginkan.


"Benarkah?"


Air mengangguk, ia tundukkan wajahnya sambil meraih tangan Hujan untuk ia genggam di atas pangkuannya.


"Aku gak tahu gimana hidupku jika yang menjadi jodohku bukan kamu, bukan perihal cantik atau pintar apalagi soal latar belakang, Aku butuh perempuan yang bisa selalu sabar menungguku. Bukan pergi saat aku melakukan kesalahan karna yang aku butuh sebuah teguran bukan meninggalkan"


"Kak.. kok melow sih" kata Hujan sembari mengangkat dagu suaminya.


"Sesayang ini kakak sama kamu!" jawabnya dengan satu tetes air mata jatuh ke pipinya.


"Sayang karna apa?, apa karna aku sabar?" tanya Hujan, ia berikan suaminya senyum terbaik.


"Karna kamu selalu ada. Aku sama kamu yang akan terus menjadi KITA"


Hujan langsung memeluk Air, selama pernikahannya memang tak pernah terbersit dalam hatinya untuk pergi apapun yang terjadi. Ia ingin menjadi seperti orangtuanya yang bisa sehidup semati meski harus menjadikannya sebagai anak yatim-piatu tapi cinta mereka begitu abadi dan layak untuk Hujan banggakan.


"Selama hati dan logika ku masih berjalan satu arah, akan kupastikan aku akan selalu denganmu. Kamu tau kan sebesar apa kesetiaanku? bahkan aku tetap berdiri di disisimu meski deretan mantanmu begitu banyak di sekelilingku" ujarnya dengan menahan tawa namun mampu membuat Air merengut kesal.


"Mantan terus!, kan aku gak bisa balikin omongan kamu kalo udah bahas mantan, Jan Hujan dereeeeeeess! " keluh Air.


"Janji jangan pergi"


"Harusnya aku yang minta kaya gitu ke kamu, Kak. Kamu yang luar biasa mendekati sempurna justru bisa dapetin yang lebih dari aku" Hujan menghela nafasnya.


"Gak ada yang sempurna, termasuk aku. Dan kamu di kirim Tuhan untuk menjadi penyempurna dan pelengkapku" sahut Air dengan mengeringlingkan satu matanya.


"Kecuali Mie sama telor itu baru sempurna. Bikin yuk. Kakak laper" ajaknya kemudian yang langsung menarik tangan Hujan.


"Eh... kakak mau begitu aja? Ya ampun! udah kaya tuyul telanjang gak pake baju, hahahaha" Hujan tertawa melihat suaminya yang sepertinya melupakan satu hal.


"Lupa!" ujarnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Hujan mencium pipi Air kemudian berlalu ke arah lemari untuk mengambil pakaian.


.

__ADS_1


.


.


.


Keduanya berjalan kelantai bawah dengan bergandengan tangan dan Hujan semakin mengeratkan tangannya saat melihat Melisa keluar dari dapur.


"Loh, kak! "


"Mama.."


Melisa yang kaget langsung mendapat pelukan dan ciuman selamat pagi dari si sulung.


"Tadi demam, udah baikan?" tanyanya sambil memegang kening anak kesayangannya itu


"Hem, udah gak apa-apa" jawabnya yang kembali memeluk.


"Aku mau makan, bikin mie sama Hujan"


Melisa melirik kearah menantunya yang reflek tertunduk.


"Buatkan ya " titahnya sambil mengusap pipi Hujan, gadis itu tentu sedikit tersentak.


"Kenapa?" tanya Air saat melihat ekspresi Istrinya tegang tak sesantai biasanya.


"Gak apa-apa, aku kira mama marah sama aku" Ucapnya sambil berbisik.


"Emang kamu bikin salah apa sampe ngira mama marah?" tanya Air lagi, selama menikah baru kali ini Hujan mengeluh tentang sikap mamanya.


"Gara-gara gak bawa pisang kamu, terus kamu tadi demam. Kata mama aku gak boleh pisahin kamu dari si pisang lagi" jelas Hujan apa adanya tentang yang terjadi tadi di kamar mereka.


Air tertawa kecil, ia sedang membayangkan betapa paniknya wajah mamanya tadi sampai bersikap tak baik pada istrinya.


"Maafin mama ya kalau kamu gak nyaman, tapi jangan sampai benci sama mama" pinta Air, sebagai anak dan suami tentu ia tak bisa memilih di antara dua wanitanya itu.


"Aku gak marah, cuma kaget aja karna mama gak pernah begitu sama aku selama ini, tapi aku juga paham kok, Mama pasti lagi khawatir banget tadi" balas Hujan, ia menjadi tak enak hati karna sudah mengadukan hal ini pada suaminya.


"Mama bukan malaikat, dia cuma manusia biasa yang juga memiliki sisi lain dari dirinya. Dia punya rasa takut, marah dan kecewa apalagi jika menyangkut anak anaknya pasti sikap paniknya melebihi seperti sedang di kejar rampok. Tapi mama bukan orang yang pendendam dan membersarkan masalah, kamu gak usah khawatir ya" pinta Air pada pendamping hidupnya kini.


"Aku ngerti, mungkin aku juga akan bersikap sama jika hal serupa terjadi pada anakku nanti" ucap Hujan, bayangannya sedang jauh memikirkan masa depan.


"Mana anaknya?" goda Air.


"Gak ada, belom jadi" kekeh Hujan sambil berjalan mundur karna suaminya semakin mendekat seraya tersenyum menggoda

__ADS_1


"Kenapa gak di jadiin!"


"Kan kamu gak mau, Kak" jawab Hujan panik karna ia sudah bersandar di tembok.


Air mendekatkan wajahnya sambil meraih tangan Hujan untuk menyentuh miliknya yang ternyata sudah menegang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Yuk.. jadiin sekarang!!!



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Mohon maaf.. permintaan anda saya tolak!!


Silahkan coba kembali di Part-part berikutnya


🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣🀣


Like komennya yuk ramaikan

__ADS_1


__ADS_2