
ππππππππ
02.45
Hujan yang merasa antara tidur tapi sadar namun, sadar tapi bagai tertidur itu pun langsung terlonjak kaget saat ia merasa ada yang keluar dari miliknya yang bagai buang air kecil.
"Aku ngompol, ya ampun!" pekiknya panik.
"Basah, tumben banget" gumamnya lagi sambil meraba kasur.
Hujan bangun dari tidurnya dan langsung kekamar mandi namun ia sedikit menjerit saat tangannya baru saja memegang kenop pintu.
"Aw." rasa sakit di bagian bawah perutnya terasa begitu nyeri sampai ia harus berjongkok untuk menahannya. Hujan hanya bisa memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.
"Sakit banget" ucapnya sambil membuang napas kasar.
Setelah sakitnya berangsur hilang, Hujan pun berusaha untuk bangun namun ia semakin terkejut saat ia merasa buang air kecil kembali dan itu tentu semakin membuat tubuhnya lemas.
"Aku kenapa?" Hujan yang panik hanya tertegun saat melihat genangan air di lantai, warnanya bening namun ada sedikit bercak darah yang tercampur.
"Kak... Kakak... Kak..!!!" jerit Hujan yang tak mampu lagi berjalan kearah suaminya yang terlelap dengan tubuh polosnya.
Keduanya memang sehabis melakukan hal yang menyenangkan tapi tidak dengan cara menyatukan tubuh, Hujan hanya membantu suaminya meraih pelepasannya sendiri.
"Kak.. tolong aku" jeritnya lagi sambil terisak.
Air yang seakan terpanggil akhirnya mengerjapkan mata sambil sedikit merenggangkan ototnya di balik selimut.
"Euuugh!" lenguhnya sambil menoleh kearah samping namun ia langsung membelalakan matanya saat ia sadar Hujan tak ada disana.
"Sayang, "
__ADS_1
"Kak... tolong aku" lirih Hujan yang mulai tak kuat lagi karna rasa shock nya.
Air bangkit dari tidurnya, ia yang tak kalah kaget langsung menjerit ketika melihat Hujan tersungkur di lantai depan pintu kamar mandi.
"Jan, kamu kenapa?"
"Sakit, kak.. Sakit banget"
"Sabar ya sayang, kita kerumah sakit" Air kembali bangun untuk memakai baju dan celana dengan cepat dan asal.
"Gantiin baju aku, kak. Ini basah semua" pinta Hujan dengan kepala ia sandarkan di daun pintu sedang kan air mata sudah sangat membasahi wajahnya yang pucat.
Air hanya mengangguk paham, ia mengigit Bibirnya sendiri saat ia melihat bercak darah yang menggenang bersama cairan benih di dekat kaki sang istri yang terkulai lemah.
Dengan sigap ia membuka baju Hujan dan membawa tubuh polosnya ke atas ranjang, Air yang sudah terbiasa melakukan hal ini saat Hujan trauma dulu tentu sudah sangat lihai melakukannya.
"Kamu tunggu sebentar, aku ke mama dulu buat titip Sam"
Cek lek..
"Ada apa?" tanya Reza dengan wajah khas bangun tidur.
"Kakak mau kerumah sakit, titip Sam ya, Pah"
"Hah? Hujan kenapa." Reza langsung terkejut saat kata Rumah sakit keluar dari mulut anak sulungnya.
"Gak tau, Pah. Banjir!" ucapnya sambil beranjak lagi ke kamarnya meninggalkan sang Gajah yang kebingungan di ambang pintu sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Banjir.
.
__ADS_1
.
"Kuat ya, Jan. Aku mohon" lirih Air sambil terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, jalanan yang nampak sangat sepi tentu sangat memudahkannya dengan cepat menuju rumah sakit.
Team dokter dan suster yang sudah lebih dulu di hubungi Reza tentu sudah bersiap di pintu UGD menunggu Air dan Hujan datang. Semua terlihat begitu khawatir karna takut melakukan kesalahan dalam suasana genting malam ini.
.
.
.
.
.
.
.
Lakukan yang terbaik atau kalian akan pulang tanpa KEPALA
π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯π₯
Kakak galak πππ
Neng jadi takut π±π±π±
Kaboooooooor π€£π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1