
πππππππππ
"Moy, bis iyup etol ba'aya papAy ya?" tanya Sam Polos tapi mampu membuat kedua orangtuanya tercengang.
Hujan yang kaget langsung memerah wajahnya sedangkan Air menutup ekor buayanya dengan bantal yang berserak di lantai.
"Tiup apa sih?" Hujan balik bertanya pura-pura tak paham.
"Nih, etol papAy besal. Alau mahu besal iyup iyup, tan? "
Hujan dan Air hanya bisa saling Pandang, antara paham dan tak paham dengan semua yang di ucapkan putra mereka.
Sepagi ini Samudera sudah mampu membuat kamar kedua orang tuanya geger dengan drama tiup ekor buaya yang masih besar.
"Kalo bangun tidur emang besar, bukan karna di tiup de" sahut Air memberi alasan yang benar.
"Nda bis iyup miMoy?" tanyanya masih keukeuh.
"Enggak sayang. Kata siapa kalau besar itu habis di tiup?" tanya Hujan yang lumayan penasaran.
"Jajah!"
Keduanya pun menepuk kening mereka masing-masing, entah apa yang di tanyakan anak mereka sampai harus membuat Reza menjawab dengan hal konyol seperti itu.
"Sesat kamu, de' dengerin si Jajah" kata Air yang masih berbaring di atas ranjang dengan hanya di tutupi oleh bantal di bagian inti miliknya.
"Mandi yuk, udah siang nih" ajak Hujan mengalihkan obrolan mereka.
"Nda Mahu, dede mahu mandi ama papAy" tolak nya sambil menggeleng dan malah memeluk manja tubuh Air.
"PapAy nanti aja mau tidur lagi sebentar, dede mandi sama MiMoy ya?" rayu Air, ia yang masih lelah karna usai menyemburkan lahar panas ingin rasanya terlelap meski hanya sejenak.
__ADS_1
"Ntal aja mandi ama Appa"
"Dede mau kemana sama Amma,? Amma mau pergi?" tanya Hujan, karna ia tak tahu sebelumnya jika hari ini sang mertua akan keluar rumah mengajak Samudera.
"Iyyah, Amma dah mandi"
"Amma paling pergi ke dapur bikin sarapan" timpal Air sambil tertawa, kadang untuk merayu Samudera agar mandi semua orang akan menjanjikannya untuk pergi bersama meski nyatanya tidak sama sekali.
"Nda Ih, dede mahu Jajah agih ya" pamitnya sambil mencium kedua pipi Air lalu berlanjut pada Hujan juga.
"Dadah Moy... "
Hujan hanya tersenyum kecil, putranya yang serasa kemarin masih berada dalam perutnya kini sudah pandai berceloteh sampai membuat semua orang kebingungan kecuali papa mertuanya yang selalu mengerti dan paham.
Hujan yang memilih membersihkan diri meninggalkan suaminya yang ternyata sudah mendengkur halus terbuai ke alam mimpi.
********
Reza tak akan mengizinkan Melisa untuk bangun dan mengganggu jam istirahat sang Khumairah.
"Tidur bentar, mumpung si tutut lagi gangguin kakak" gumamnya dengan mata terpejam.
Melisa tertawa kecil sambil mencium kening sandaran hatinya, tapi belum juga Reza terbuai mimpi pintu kamarnya sudah di buka dengan sangat keras.
Braaaakkk..
"Appa... dede bayik agih oooey!" teriaknya sambil berlari lalu naik keatas ranjang. Pria baya yang masih tampan itu langsung mengerjap karna kaget.
"Dede pelan-pelan kalau naik, takut ke injek Appanya" kata Melisa sambil menggelengkan kepala. Pusing rasanya jika melihat tingkah aktif cucu kesayangannya itu.
"Kenapa balik lagi? kok belum mandi juga?"
__ADS_1
Sam bukan menjawab ia malah meringsek ke pojok tempat tidur sambil cekikikan, Reza yang penasaran pun dengan sikap menggemaskan buntutnya ikut mendekat.
"Kenapa? Seneng banget abis dari kamar papAy?" selidik Reza dengan senyum menyeringai.
.
.
.
.
.
.
.
Cini... cini.. dede icikin!
ππππππππππ
Buaya lagi d ghibahin Beruang sama Gajah π€£π€£π€£π€£
Tutut Jajah emang paket komplit..
minta cium boleh??
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1