Air Hujan

Air Hujan
bab 52


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


EGOIS...


Hujan mendorong tubuh suaminya yang baru saja sedikit menyesap bibir ranum miliknya yang baru saja di oles oleh Liptint rasa strawberry, maka tak salah jika Air begitu sangat ketagihan, ia akan menyesapnya sampai rasa manis itu habis.


"Mandi sana" titah Hujan, Ia yang lagi-lagi harus merasakan kesal dan senang dalam waktu bersamaan.


"Mandiin" rengeknya manja.


"Gak mau, gue mau bantu mama masak"


Hujan yang baru mau melangkah harus di cekal kembali, ia di tarik paksa Air untuk kembali di dekap.


"Jangan pelit pelit, tar Lo makin keberatan dosa!" bisik Air di telinga Hujan dengan tangan sudah merayap ke punggung gadis halalnya itu.


"Banyakan Lo dosanya, tukang selingkuh" balas Hujan yang menekan dada Air agar tak terlalu menempel padanya.


"Selingkuh?, emang Lo liat gue ngapain?, tiap hari gue sama Lo" ujar Air yang memang kenyataannya seperti yang ia tuturkan.


"Pacar Lo banyak" timpal Hujan sambil merasakan geli saat lehernya lagi-lagi menjadi incaran suaminya.


"Yang penting istrinya satu"


Pemuda tampan itu kembali menghabiskan rasa manis yang tadi sempat di tolak Hujan.



Ciuman yang tadinya lembut kian menuntut saat Hujan meremat ujung kaos yang Air kenakan, gadis itu perlahan menikmati rasa yang di berikan pemuda halalnya itu.


Rasa yang tak pernah ia rasakan dengan pria manapun kecuali Suaminya.


Serasa sang istri semakin menikamati sentuhannya, tentu itu menjadi kesempatan bagi Air untuk melakukan hal lebih, dengan memegang pinggang Hujan ia mendorong tubuh gadis itu untuk melangkah mundur hingga tepi tempat tidur.

__ADS_1


"Yuk main" bisik Air setelah melepas pagutannnya.


"Basah basahan?" kekeh Hujan sambil menggoda.


Air menggeleng, ia melirik ke arah jam dinding yang menempel di Atas TV..


"Yakin?, main main main aja?" Gadis itu mencoba memastikan.


Tanpa menjawab, Air langsung merebahkan tubuh istrinya itu di atasnya ranjang besarnya yang empuk.


Masih dengan saling menyesap satu sama lain, tentu tangan pemuda itu tak tinggal diam.


Tiap inci tubuh Hujan tak luput dari sentuhannya yang lembut, tangannya merayap bagai cicak cicak dinding bahkan tak hanya itu, Sentuhannya semakin menjadi dan nakal saat singgah di atas bukit Hujan, ia yang sudah memasukan tangannya kedalam baju sang istri mulai meremat apa yang kini ia genggam.


"Ay, pelan pelan" lirih Hujan yang merasakan jika Air melakukannya dengan sangat gemas bukan karna


naf su.


Air menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Hujan yang begitu harum menggoda, ia menyesapnya dengan sangat lembut agar tak menimbulkan bekas apapun disana.


Puas bermain di leher, tangannya kini mulai menarik ujung kaos oblong yang di kenakan Hujan, ia melepasnya dengan cepat, tawa kecil di sudut bibirnya seakan menandakan betapa bahagianya ia jika sudah melihat dua area bermain barunya itu.


Dua bukit yang begitu indah putih juga mulus selalu membuat pemuda tampan itu betah berlama-lama disana sampai ia terkadang lupa dengan hal lain termasuk jalan pulang.


"Ay..."


Hal yang paling Air suka adalah saat namanya di sebut dengan begitu pelan meski ia harus merasakan sakit di bagian tubuhnya karena kuku panjang Hujan yang mencengkeramnya.


"Gak jadi main-main, mau sekalian basah-basahan aja" ucapnya sambil membuka kancing celananya sendiri.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Kak.... Papa pulang nih!!!


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Insting balas dendam papa gajah mulai bereaksi.


Nangis gue sih, Ay.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Like komen nya yuk ramai kan ❀️

__ADS_1


__ADS_2