
πππππ
PLAAKK
PLAAAAAAAAKKK
PLAAAAAAAAAAAAAKKK
Reza mendapat pukulan bertubi-tubi dari Melisa saat suaminya itu justru menjerumuskan anak kesayangannya menjadi lebih parah.
"Kok mama malah pukulin papa sih?" protes Air.
" Pokoknya kakak gak boleh dengerin ucapan papa" kata Melisa dengan lirikan tajam ke arah sang suami yang msih meringis kesakitan karna bahunya maenjadi sasaran empuk KHUMAIRAHnya.
"Papa kan bener, Mah. harusnya memang kakak bawa Hujan ke hotel dari pada kakak tadi tidur di kelas" ujar si sulung membela papanya.
"Nah, kan! aku bener, Ra."
"Papa juga, kenapa baru bilang sekarang?" ia kini malah menyalahkan papanya.
" Ya, ampun , kakaaaaaaaaaaak!" pekik Melisa gemas pada anaknya itu.
Dua pria paling berharaga dari dalam hidupnya malah asik menertawakannya, jika sudah begini biasanaya Bumi yang selalu merentangkan tangannya untuk memeluk wanita itu.
" Kalian jahat" keluh Melisa.
Air dan Reza yang tahu jika Melisa sedang merajuk langsung datang menghampiri, menenggelamkan tubuh langsing itu dalam dekapan mereka.
"Sayang mama banyak-banyak" ucap mereka secara berbarengan.
***
Waktu sudah hampir sore, kini saatnya ia menjemput kembali sang istri di kampus. Air memilih menunggu dalam mobil sambil bermain game untuk mengusir rasa bosannya karna pesan dan teleponnya masih di abaikan oleh Hujan, hal yang paling di benci olehnya saat keduanya berjauhan.
Berkali-kali ia melirik ke arah gedung tempat dimana sang istri kemungkinan masih disana, niat hati ingin menyusul akhirnya ia urungkan saat bayangan sosok gadis yang ia tunggu akhirnya datang.
Langkahnya begitu lemas, terlihat tak ada ekspresi apapun di wajahnya.
Air langsung keluar untuk membukakan pintu, setelah Hujan masuk iapun langsung menyusulnya dan duduk di balik kemudi
"Mau langsung pulang?" tanya Air yang hanya di balas anggukan oleh hujan, gadis itu bersandar lemah dengan hembusan nafas pelan.
Tak ada obrolan apapun selama perjalanan pulang kerumah bunda, karna sepertinya gadis itu terlelap karna kelelahan.
__ADS_1
Mobil sudah ia parkirkan di garasi, tak ada mobil bunda disana pertanda wanita berkaca mata itu tak ada dirumah.
"Jan, udah sampe" bisik Air sambil mengguncang pelan bahu istrinya.
Gadis itu hanya bergeliat kecil dengan mata masih tertutup rapat, ketidak sadaran hujan menjadi kesempatan untuk pemuda yang kini otaknya tak lagi beres.
"Nyicil dikit ya dari sekarang" kekeh Air, ia mulai mencium pelan bibir istriya dengan tangan tak lupa sudah ada bagian pinggang ramping hujan.
Ciuman yang tadinya hanya keisengan semata ternyata menuntut lebih saat tanpa sadar Hujan justru sedikit membalasnya, tentu itu membuat Air semakin bersemangat mencum bu, apalagi saat mendengar
de sahan kecil keluar dari bibir Istrinya.
Ia yang semakin tak kuat menahan gejolak kelelakiannya mulai merasa pusing sendiri.
"Jan, terusin dikamar yuk" ajak Air dengan suara seraknya.
Gadis itu mengerjap saat ia merasakan geli di perutnya karna sentuhan dan usapan Air
"Udah sampe?" tanya gadis itu dengan suara serak khas bangun tidur.
"Udah, yuk masuk" ajaknya lagi tak sabar.
Air membantu Hujan membuka setbeltnya, keduanya langsung turun menuju pintu utama.
"Bunda pulang malem katanya, lagi ada urusan" jawab Hujan, Air yang mendengar penjelasan Sang istri langsung tersenyum puas.
Mereka kini sudah masuk kedalam rumah, Hujan menghentikan langkahnya saat melihat ruang tamu yang sedikit berantakan.
"Lo beneran ganti semua?" tanya Hujan, ia yang tak tahu apa-apa, diberi kabar oleh Bunda saat barang baru pesanan Air datang.
"Iya, gak apa-apa, kan?, maaf!"
"Gak enak ya kasurnya?, semalem pasti gerah gak ada AC" ucap Hujan tak enak hati dengan kesederhanaan yang ia jalani.
"Gak gitu, cuma mau lebih nyaman aja" Kata Air.
"Makasih banyak ya, Ay" Hujan berhambur memeluk tubuh tinggi Air.
Keduanya berpelukan di ruang tengah begitu hangatnya, Air menciumi pucuk kepala sang istri sebelum akhirnya mereka masuk kedalam kamar.
.
.
__ADS_1
"Ay, mandi dulu sana" titah Hujan yang duduk di meja belajar sedang merapihkan barangnya.
"Mandi berdua yuk" ajak Air yang kini sudah duduk di tepi ranjang barunya yang begitu empuk.
"Gak, ah!"
Air mencibir kearah sang istri, lalu bangun dan langsung memeluknya dari belakang.
"Ntar malem ya?" pintanya lagi dengan senyum menggoda.
"Mandi dulu sana, gue pesen makan dulu" Hujan masih mengalihkan pembicaraan
"Janji dulu"
"Ay.... mandi dulu ya Ganteng!" Rayu Hujan lagi.
Pemuda itu akhirnya pasrah dan keluar dari kamar setelah mengambil handuk serta perlengkapan mandinya.
Hujan menghela nafas saat Air sudah menghilang dari balik pintu. Bukan ia tak ingin melakukannya tapi begitu banyak yang ia pikirkan, termasuk tugas kuliahnya yang sangat menyita waktu dan juga menguras otak.
.
.
.
.
.
.
.
Maaf.. gue udah lakuin kesalahan besar!!!
πππππππ
Apa tuh?
kepo euyππ
like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ
__ADS_1