Air Hujan

Air Hujan
BabyBear 87


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Tak ada yang sempurna, El.. bahkan aku pun tak mencari yang sempurna. Aku ingin pasangan yang saling melengkapi. Dan aku sangat bersyukur saat Tuhan menjodohkannya denganku" ucap Air membanggakan sang istri.


Eliza hanya tersenyum simpul, andai pria di sisinya itu lajang mungkin ia orang pertama yang maju menawarkan diri tapi sayangnya putra Rahardian itu sudah memiliki istri bertahun-tahun yang lalu saat usianya masih muda.


"Carilah pasangan yang bisa membuat mu tertawa, menerima semua yang ada dalam dirimu. Jangan menuntut untuk menjadi sempurna karna seorang pasangan akan berubah lebih baik demi orang yang dicintainya" pesan Air, ia tahu jika gadis yang di sampingnya ini belum bersuami tapi intuk memiliki kekasih tidaknya tentu Air tak tahu dan tak mau tahu.


"Aku akan mengingatnya, tapi jika ada satu pria yang sepertimu aku sangat ingin" ucap Eliza penuh harap.


"Jika kamu ingin mendapatkan sosok pria seperti ku, maka kamu harus memiliki cinta dan sabar seperti HUJAN'"


********


"Mau berhitung lagi gak?" tanya Hujan pada Samudera saat menuruni tangga.


Nda


"Loh, kenapa?"


Apek


Hujan tertawa kecil, ada saja celoteh dari putranya itu yang membuatnya tak kuasa untuk mencubit pipi bulat itu,tapi jangan sampai ia melakukannya di depan kedua mertuanya.


Keduanya keluar dari apartemen menuju lobby karna supir sudah menunggu sedari tadi.


Na, Moy?


"Kantor, PaPay"


Hulleeeeeeeeeee..


Samudera tertawa sambil bersorak seperti biasa, ia selalu duduk tenang jika sedang di dalam mobil, hanya sesekali bertanya jika ada sesuatu yang baru ia lihat.

__ADS_1


Sampai di kantor, Hujan langsung menaiki lift khusus yang biasanya ia dan Air taiki sampai di lantai ruangan suaminya itu.


Ada dua asisten yang langsung berdiri saat melihat Hujan datang bersama Samudera.


"Selamat, siang Nona muda"


"Siang, Tuan ada?" tanya Hujan.


"Belum pulang dari makan siang, Nona" jelas salah satu dari Asisten sang suami.


Hujan mengangguk paham, ia langsung masuk kedalam ruangan Direktur Rahardian melewati pintu kaca.


pAy, Na?


"Belum pulang, kita tunggu ya"


Iyyaaahh


Hujan dan Samudera duduk bersama di sofa, ia lalu merogoh ponselnya di dalam tas untuk menghubungi suaminya kembali.


Ceklek.


Hujan menoleh, ia melihat senyum terbaik di wajah sandaran hatinya yang perlahan msuk dan mendekat.


"Sayang... "


Air langsung duduk dan memeluk istrinya dari samping, di ciuminya pipi putih mulus Hujah berkali-kali.


"Aku meneleponmu, kenapa tak di angkat?" tanya Hujan.


"Iya kah?" Air malah balik bertanya yang hanya di jawab anggukkan kepala olehnya.


"Sebentar, aku cek dulu"

__ADS_1


Air merogoh kantong jasnya untuk meraih benda pipih yang ada disana, ia mengulum senyumnya karna merasa bersalah.


"Ke silent ternyata, maaf ya sayang"


Hujan masih diam, ada perasaan tak enak semenjak suaminya datang lalu memeluknya.


"Kamu kenapa? laper?"


"Enggak, kamu tadi makan siang dimana dan sama siapa?" tanya Hujan penuh selidik.


"Di resto x, tadi sekalian Rapat juga, kenapa?"


"Gak apa-apa, berasa kaya orang lagi cemburu aku tuh" jelas Hujan meski ragu.


"Cemburu sama aku?" Air menunjuk wajahnya sendiri.


"Iya, tapi aku yakin kalau kamu gak akan macem-macem, 'kan?" tanya Hujan memastikan jika suaminya selalu aman jika di luar rumah.


"Gak lah, tadi cuma makan siang sama Eliza doang" jawabnya jujur tapi kelewat santai.


.


.


.


.


.


Kakak.......


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

__ADS_1


Tabok Jan 🀣🀣


Seret bawa pulang terus geplak sama wajan warna warni, 😝😝


__ADS_2