Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 31


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Selama perjalan menuju rumah sakit tangan para menantu Rahardian itu terus saling menggenggam untuk menguatkan. Keduanya terlihat begitu sangat khawatir belum lagi saat Melisa mengusap perut buncit Hujan.


"Gak apa-apa, percaya sama Mama ya. Kamu udah hubungi Air kalau kita mau kerumah sakit?" tanya Melisa.


"Pesanku belum di baca, tadi pagi bilang ada rapat sampai makan siang" jawabnya.


Melisa hanya mengangguk paham, ia tahu pekerjaan anaknya yang kini semakin hari semakin sibuk.


"Ya sudah, beritahu saja hasilnya nanti saat pemeriksaan."


Mobil menepi di parkiran rumah sakit, Hujan menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia turun dari kereta besi mewah milik mertuanya.


Langkahnya begitu gontai karna degup jantung yang tak karuan.


"Selamat siang, Nyonya besar dan Nona muda." Sapa dokter yang sudah sedari tadi menunggu saat Reza mengabarkan jika istri serta menantunya itu akan datang.


"Selamat siang juga, Dok"


Dokter menjabat tangan para wanita kesayangan Rahardian itu dengan cara bergantian, Lalu mempersilahkannya untuk duduk di hadapannya yang hanya terhalang oleh meja kaca.


"Apa ada keluhan sakit?"


Hujan langsng menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, Dok"


"Hanya flek hitam saja? atau ada sedikit gumpalan darah." tanya dokter lagi.


"Hanya sedikit flek, tanpa nyeri" jawab Hujan sambil melirik kearah mama mertuanya yang tersenyum mengisyaratkan agar Hujan mengatakan semua yang terjadi dan juga apa yang membuatnya khawatir.


"Kita periksa dulu ya"


Hujan di minta untuk berbaring di atas brankar pasien, satu perawat membantunya untuk menyingkap baju atasannya.


"Maaf ya, Nona"


Dokter memberikan gel bening yang begitu dingin diatas perut Sang pemilik rumah sakit.

__ADS_1


"Bagus, tak ada yang harus di khawatirkan. Air ketuban juga cukup" jelas Dokter.


"Kita cek tekanan darahnya dulu ya"


Dokter tersenyum simpul lalu merapihkan lagi alat periksa nya.


"Bagaimana, Dok?" tanya Melisa penasaran.


"Tekanan darahnya lumayan naik, mungkin karna sangat khawatir ya" kekeh sang dokter yang di Jawab anggukan kepala.


"Iya, Dok"


"Hari ini di infus dulu ya, cuma sebentar kok biar gak lemes" pinta dokter karna melihat wajah Hujan begitu pucat.


.


.


.


Air yang mendapat kabar sang istri di rumah sakit tentu langsung melesat secepat kilat mendatangi pemilik hatinya itu, langkahnya begitu tergesa sampai ia tak memperdulikan saat banyak yang menyapanya.


Pintu di buka dengan begitu keras sampai Melisa dan Hujan terlonjak kaget.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Gak apa-apa, aku tadi cuma lemes dikit" jawab Hujan yang memang sudah bersiap untuk pulang.


"Aku takut, harusnya kamu bilang kalo kamu gak enak badan. Aku pasti gak akan ke kantor, Yang" lirihnya begitu sedih dengan nada bergetar.


"Maaf, Kak"


"Ya sudah. Kita pulang yuk, kasihan Samudera dirumah hanya berdua dengan papa"


Keduanya mengangguk paham, Air membantu Hujan untuk merapihkan dirinya sebelum keluar dari ruang rawat inap.


"Terimakasih banyak ya, kami permisi pulang dulu" pamit Melisa pada Dokter dan Suster.

__ADS_1


"Sama-sama, Nyonya. Semoga sehat selalu untuk Nona Muda dan Bayinya"


Ketiganya melangkah pergi meninggalkan rumah sakit menuju Apartemen, selama perjalanan pulang Air terus melirik sang istri yang duduk di kursi belakang bersama mamanya, hatinya begitu tak tenang tapi ia harus mengemudi kan mobilnya dengan sangat hati-hati.


.


.


"Kamu langsung istirahat ya, jangan pikirkan Sam, nanti biar mama yang urus" ucap Melisa saat di depan pintu kamar anaknya.


"Iya, Mah aku titip Samudera ya."


"Pasti, Sayang. Mama ke kemar dulu ya liat Gajah sama buntutnya" kekeh Melisa yang langsung melangkah menuju kandangnya sendiri.


CEKLEK.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ngumpet de'... ada PAWANG..



Ikut baaaaaaaang 🀣🀣🀣🀣🀣

__ADS_1


Aku rela berbagi selimut dengan kalian 😘😘


like komennya yuk ramaikan


__ADS_2