
πππππππππππ
Reza yang dibawa ke apartemen tentu membuat Hujan menyusulnya juga kesana, gadis cantik yang kini sudah berani kelaur rumah tanpa suaminya itu pun meminta tolong kepada supir di rumah utama untuk mengantarnya.
"Hujan pergi ya, Omma. Tolong pamit kan juga pada Oppa jika nanti sudah bangun dari tidurnya" izin Hujan pada wanita baya berkacamata di teras rumah megah kediaman Rahardian
"Hati-hati ya di jalan, Sayang. Kabari Omma jika sudah sampai disana"
"Ya, Omma" jawab Hujan saat mengurai pelukan.
.
.
Selama perjalanan yang ia tempuh ke apartemen, senyum tak habisnya tersungging di sudut bibir Hujan, karna ia yang sedang bertukar pesan menanyakan kabar mertuanya pun suaminya masih sempat menggoda dengan menyelipkan rayuan rayuan andalannya.
"Nona muda, sudah sampai"
Hujan yang tersentak kaget langsung mengedarkan pandangannya yang ternyata sudah berada di lobby apartemen.
"Ah, Iya. Terimakasih pak" ujarnya ramah sebelum turun dari mobil.
"Sama-sama, Nona muda"
Hujan membuang nafas kasar lebih dulu sebelum ia menginjak kan kakinya ke dalam gedung pencakar langit itu, bagaimana kini masih ada sisa sisa trauma melekat dalam dirinya walau tak separah dulu, kini ia menjadi sosok wanita yang lebih waspada pada area di sekelilingnya walau kadang berakhir kepanikan luar biasa.
TRIIIIING...
Pintu suara Lift yang terbuka sungguh sangat menggelitik di telinga Hujan yang langsung melangkahkan kaki masuk kedalamnya.
Hanya dengan memencet satu tombol kotak besi itu sudah otomatis langsung menuju lantai tempat dimana mertuanya tinggal.
"Astaga, kak!" pekik Hujan yang benar-benar kaget saat Air berdiri tepat di depan pintu Lift.
"Sayang" Air langsung menarik tubuh Hujan untuk ia peluk, karna jauh di dasar hatinya ia sungguh khawatir saat Hujan memutuskan datang ke apartemen.
"Sekaranh aku yang takut" lirih Air sambil berbisik.
__ADS_1
"Aku udah disini, gak apa-apa, kan!" kekehnya saat menenangkan Sang suami.
Keduanya berjalan beriringan masuk kedalam apartemen dengan Hujan berada dalam rangkulan Air.
"Kok sepi" tanya Si cantik saat sudah berada di ruang tengah.
"Papa mabok, gak bisa bangun" jawab Air sedikit mende sah khawatir.
"Kok gitu sih, kenapa gak dibawa ke rumah sakit?"
"Papa gak mau, pusing sama muntah terus. Kasihan loh" keluh Air yang merasa sedih, bahkan ia sudah berhambur memeluk Sang istri.
"Ya udah, aku nanti aja liat papanya kalau gitu"
Air hanya mengangguk dalam dekapan Hujan yang selalu bisa menenangkannya.
"Kamar yuk, mumpung kakak libur" ajaknya dengan senyum menggoda.
"Mohon untuk tidak mesum di siang bolong" sahut Hujan sambil bangun dari duduknya.
Cek lek..
"Kita nginep kak?, aku gak bawa si Kuning pisang kesayangan kakak loh" ujarnya sambil melempar tas ke sofa lalu membuka gorden putih yang menutupi jendela besar kamar Sang suami.
"Enggak, besok ada rapat pagi, semua berkas ada di rumah" jawab Air yang memang tak menyiapkan apapun.
Ia yang kini sedang memeluk istrinya dari belakang mulai menciumi pundak dan leher Hujan tanpa ampun sampai gadis halalnya itu harus menahan rasa geli yang bagai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Main yuk, kita basah-basahan" ajak Air dengan suara berat menahan gejolak jiwa kelelelakiannya.
"Aku ke toilet sebentar"
Hujan membalik tubuhnya, lalu mencium kedua pipi Sang suami yang menatapnya penuh damba.
Air dengan sangat terpaksa melepas pelukannya membiarkan Hujan masuk kedalam kamar mandi, sedangkan ia membuka kaosnya sambil berjalan menuju tempat tidur, namun langkahnya terhenti saat ia tak sengaja melirik ke arah nakas yang di atasnta terdapat sebuah kalender meja.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Perasaan gue maen gak ada liburnya deh akhir akhir ini...
πππππππππππ
Tebak aja sendiri lah π€£π€£π€£π€£
Alhamdulillah kelar 5 bab ya hari ini..
makasih banyak buat like dan komen sopannya, juga
buat saran dan pembenaran saat ada yang salah.
Sehat semua ya buat kalian disana
komen positif kalian selalu jadi moodboster!! π₯°π₯°π₯°
__ADS_1