
ππππππππππ
Tiga hari berlalu..
Hujan yang sudah sedikit membaik kini di perbolehkan untuk pulang ke apartemen. Semua keluarga sudah berkumpul di dalam kamar rawat inap untuk menjemput sang menantu Rahardian itu pulang.
"Kita mampir ke makam baby nya dulu" ucap Reza sambil bangun dari duduknya sambil menggendong Samudera karna Melisa dan Air tak pernah jauh dari Hujan.
"Iya, kita kesana lebih dulu" timpal Oppa. Ia adalah salah satu pria yang paling patah hati saat mendengar Little Princess nya tak bisa di selamatkan.
Saat semua urusan rumah sakit selesai, kini satu persatu anggota Keluarga masuk kedalam mobil mereka masing-masing.
"Kamu yakin akan kuat?" tanya Air sambil mengusap kepala Hujan yang bersandar di dadanya.
"Bohong kalau aku kuat, tapi aku masih boleh nangis, 'kan?"
"Silahkan, tapi jangan terlalu menyesal apalagi menyalahkan takdir dan dirimu sendiri" pesan Air yang terus menciumi pucuk kepala istrinya.
.
.
Dua puluh menit perjalanan, Tiga mobil mewah kini sudah berhenti di area parkiran salah satu pemakaman umum ibu kota.
"Disini?" tanya Hujan saat ia baru turun dari kereta besi mewah mertuanya.
__ADS_1
"Iya, ada beberapa makam keluarga lainnya juga disini" jawab Air yang mengerti arah pertanyaan sang istri.
Saat dinyatakan bahwa sang Little Princess telah meninggal, Air dan Reza langsung mengurusnya apalagi saat satu persatu keluarga inti sudah melihat meski belum terlalu sempurna.
Hujan yang berjalan pelan di papah oleh Air terus menyusuri jalan setapak area pemakaman sampai akhirnya semua sampai di sebuah gundukan tanah yang tak terlalu besar namun sudah di hias begitu cantik dengan berbagai bunga warna warni.
Seluruh keluarga Rahardian berjongkok mengitari makan kecil anak kedua si sulung yang harus diambil Tuhan saat ia baru berusia lima bulan di dalam kandungan Hujan. Sungguh hal yang tak pernah sekalipun terbersit di pikiran semuanya jika Air dan Hujan akan mendapat musibah kehilangan seorang bayi perempuan yang pasti akan begitu cantik nantinya, apalagi pasangan itu belum tahu sama sekali jenis kelamin anak kedua mereka, maka tak salah jika Hujan begitu shock saat tahu putri kecilnya tak lagi bernyawa ketika suster menyerahkannya agar ia bisa melihat untuk pertama dan yang terakhir kalinya.
Semua wanita di keluarga Rahardian sangat mengerti perasaan Hujan kini , meski tak pernah merasakan apa yang menimpa Hujan, hanya doa dan semangat yang bisa mereka berikan untuk Hujan yang masih terlihat sangat terpukul.
"Sabar, kasian Sam Kalau kamu begini" ucap Air menenangkan sang istri yang masih saja terisak.
Samudera yang diam dalam gendongan Reza hanya bisa melihat kedua orangtuanya larut dalam kesedihan.
Begitu pun dengan Melisa yang hanya mengusap punggung sang menantu agar lebih ikhlas menerima takdir yang memang tak mudah baginya.
"Good Girl" kekeh Air sembari mencium pipi istrinya dengan gemas tentu tingkah pasangan suami istri mengundang gelak tawa semua yang menyaksikan.
Cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang saling melengkapi meski cinta saja kadang tak cukup bila tak ada pengertian juga kesabaran di dalamnya.
"Terimakasih, Kak. Kamu sudah memberikan nama yang begitu cantik untuk anak kita" ucap Hujan memeluk Air meski harus menahan tangisnya.
"Iya, dia akan menjadi penyejuk untuk kita" jawab Air dengan mata tak lepas dari batu nisan yang bertuliskan nama putri keduanya.
Setelah pembacaan doa akhirnya semua beranjak dari makam untuk pulang, semua sepakat untuk kerumah utama lebih dulu agar Hujan sejenak melupakan kesedihannya
__ADS_1
"MiMoy sama PapAy pulang ya sayang, nanti kita kesini lagi Kamu tetep jadi anak kedua untuk kami, bahagia disana ya"
.
.
.
.
.
.
.
Embun ErRainly Rahardian Wijaya.
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Othor lagi mode jahat π€£π€£π€£
Mau bikin Baby Bear sempurna di masa depan!
Anak pertama dari cucu pertama yang tak terkalahkan π
__ADS_1
Like komennya yuk.. dede mbul tenang disana ya cantik!