Air Hujan

Air Hujan
Gelud


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Jaga diri baik-baik ya, jangan terlalu lama dirumah sakit" pesan Air saat Hujan memakai kan dasi di lehernya.


Hari ini Sang Presiden direktur Rahardian group akan pergi selama kurang lebih sepuluh hari ke luar negeri, semenjak menikah rasanya baru kali ini Ia meninggal kan anak dan istri dalam waktu yang menurutnya sangat lama karena biasanya ia selalu tak pernah mau jika harus lebih dari satu minggu.


"Iya, begitu pun denganmu. Pergi dengan keadaan baik dan pulang pun harus lebih baik, jaga kesehatanmu selama disana, Kak" balas Hujan yang tak kalah banyak memberi pesan pada sang suami.


Air mengangguk paham, ia tahu jika istrinya kini tengah sangat khawatir untuk melepas kepergiannya.


"Jangan sedih, aku akan kembali, Sayang" ucap Air sambil menarik tengkuk Hujan.


Ciuman panas pun terjadi pada dua insan yang sebentar lagi akan berperang dengan kerinduan.


Hujan terus menikmati apa yang sedang diberikan oleh Sandaran hatinya itu. Beradu lidah dan saling menyesap membuat silaturahmi bibir itu semakin panas, ditambah tangan yang sudah merayap kemana-mana. Hujan semakin mend esAh manakala satu gundukan daging kenyalnya terus di re maS lembut. Ia pun merasakan sesuatu yang keras di pahanya.


"Moy..." Des Ah Air saat melepas pagutan bibirnya.


"Udah siang, kita sarapan ya"


"Gitu, kan! terus ini gimana?" tanya Air Sambil meraih tangan Hujan untuk di eluskan pada ekor buayanya yang sudah sangat menegang.


"Tar juga lemes lagi, Dede pasti udah nunggu di bawah" ucapnya sambil merapihkan juga baju bagian atasnya.

__ADS_1


Air yang masih merengut kesal akhirnya mau tak mau menurut dan berjalan di belakang sang istri yang sudah lebih dulu keluar dari kamar. Pusing dan kesal langsung ia rasakan, apalagi lekuk tubuh Hujan terpampang jelas di depan matanya.


.


.


Sarapan pagi adalah awal semua yang berada di rumah utama akan berkumpul dan saling menyapa, menceritakan banyak rencana tentang apa yang akan di lakukan hari ini. Jadi sebisa mungkin mereka tak akan pernah melewatkan momen itu.


"Berangkat jam berapa, kak?" tanya Melisa, jika Hujan saja bisa sangat Khawatir apalagi Ia yang ibunya.


"Habis ini langsung ke bandara, Mah"


Menu makan pagi pun sudah tandas tak tersisa sambil di selingi obrolan ringan. Kini saatnya Hujan dan Samudera mengantar Air sampai depan pintu.


"Iya, Ntal bobo nya dede peluk ya biar gak dingin" sahut si tampan dalam gendongan papAynya.


"Anak pinter, Dede sekolahnya gak boleh bolos bolos lagi ya"


"Iyah"


Perpisahan Sepuluh hari pun terjadi, ketiganya begitu berat saling melepas meski sudah mendaratkan banyak ciuman.


.

__ADS_1


.


.


Satu minggu berlalu, masih ada tiga hari lagi untuk mereka bertemu. Hujan benar-benar merasa kehilangan meski ia selalu tidur dalam pelukan Samudera yang selama papAynya tak ada tak lagi tidur di kandang Gajah Kesayangannya.


Drrrt....


Getaran ponsel di di meja rias mengalihkan perhatian Hujan dari layar laptopnya, ia pun segera bangun dan meraih benda pipih tersebut. Senyum langsung terukir jelas saat melihat nama siapa yang berada di sana.


"Hallo, kak" sapa Hujan pada orang yang kini teramat sangat ia rindukan kehadirannya.


"Hem..." Sahut Air, deheman kecil dengan suara berat yang di dengar oleh Hujan membuat ia bingung.


"Kak, kenapa? kakak sakit?" tanya Hujan mulai panik.


.


.


.


.

__ADS_1


Pokoknya kalau aku pulang, kita harus langsung gelud di ranjang ! aku udah kangen banget Moy!


__ADS_2