
πππππππππ.
Samudera yang tiba-tiba menangis tengah malam tentu membuat Hujan panik dan langsung menghampirinya di box bayi, ia angkat tubuh montok putranya untuk di gendong sedangkan Air yang juga mendengar jerit tangis BabyBear ikut turun dari tempat tidur.
"Kenapa? tumben"
"Gak tau, mungkin mimpi" sahut Hujan yang akhirnya berlalu untuk membuat susu.
Air menimang Sam di sofa depan TV, bukan berhenti tangisnya justru semakin kencang. Susu yang di sodorkan pun tak mau ia ambil.
"Dede kenapa? mau apa sih" tanya Air yang mulai khwatir.
Hujan meraba seluruh tubuh Samudera tapi semuanya nampak normal.
"Demam?"
"Enggak, kok'. Gak panas badannya" kata Hujan sambil merayu Sam untuk meminum susunya.
"Bobo lagi ya sama miMoy, yuk"
Nda.. ih.
Nda...
"Ya terus dede maunya apa?" tanya Hujan, ia melirik jam dinding yang ternyata baru pukul tiga pagi.
"Masih malem, bobo lagi ya. Nanti besok kita jalan jalan ya" rayu Air, ia yang masih mengantuk tentu ingin terlelap lagi ke alam mimpi.
Yayan, na?
"Dede maunya kemana?" Air balik bertanya.
__ADS_1
Culus ya pAy.
Abing Abing
Beyi ecim belli.
"Iya, terserah dede mau kemana, tapi sekarang bobo dulu ya"
Iyyaaaah..
Air membawa putranya ke tempat tidur dengan Hujan berjalan mengekor di belakangnya sambil membawa sebotol susu yang ia buat barusan.
Sam di baringkan di tengah kasur dengan Air dan Hujan yang ikut tidur di sisi kanan dan kirinya.
"Habisin susunya biar kenyang" ucap Air sambil mencium pipi kanan Sam.
Iyyaaaah..
Ayan ayan ya
Hujan yang tadi diam akhirnya bersuara, ia mengatakan apa yang mengganjal dalam hatinya sedari tadi.
"Kakak janjiin jalan-jalan, emang besok gak kerja?" tanya Hujan.
"Kerja lah" sahut pria yang tak memakai baju itu dengan sangat santai.
"Kalo kerja kenapa bilang sama dede mau jalan jalan, kalo dia nagih gimana? kaya gak tau anaknya aja deh" rutuk Hujan kesal, ia pasti akan di buat kualahan esok hari jika Air tak menepati ucapannya.
"Gimana besok aja, moga bisa pulang cepet. Tar aku liat jadwalku dulu, Jan Hujan Dereeeeeees" ujar nya yang setelah itu terdengar dengkuran pelan keluar dari mulutnya.
Hujan membuang napas kasar, jika bukan weekend memang sulit untuk mereka keluar sekedar jalan-jalan mengingat pekerjaan sang suami yang kadang tak bisa di tinggalkan atau bahkan di wakilkan jika menyangkut rapat yang sangat penting, Hujan yang sesekali ikut mengurus usaha sampingan Air kadang juga di buat sibuk.
__ADS_1
.
.
.
"Jangan mendadak, hubungi aku segera bisa atau tidaknya untuk pulang cepat" pesan Hujan saat memakaikan dasi di leher suaminya.
"Iya, Sayang" jawab Air, ia terkekeh gemas pada istrinya yang nampak sedikit khawatir. Usai Sam yang semakin besar dan mengerti tentu tak lagi bisa di bohongi begiti saja meski awalnya hanya rayuan semata.
"Sam mana?" tanya Air yang baru sadar jika putranya itu tak ada di kamar.
"Justru itu, dia udah rapih udah ganteng juga karna mau jalan-jalan, kak" dengus Hujan kesal dan bingung, anaknya itu bangun lebih awal dan langsung meminta untuk mandi bahkan Sam memilih bajunya sendiri di lemari.
"Masa? yuk turun." ajak Air tak sabar.
Keduanya bergegas keluar dari kamar untuk segera turun ke lantai bawah, langkah kaki pasangan suami istri itu terhenti saat melihat Sam duduk diruang tengah.
"Udah ganteng mau kemana?" tanya Air yang berjongkok di depan putranya.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ayan... ayan ih!!!