Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 37


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Hujan yang sudah menidurkan Samudera di tengah kasur ikut berbaring juga di sisi anaknya yang selama ini menjadi kebanggan keluarga, karna kehadirannya masih menjadi satu-satunya meski kedua saudara kembar suaminya yang lain sudah menemukan jodohnya masing-masing.


Baby Bear yang sedari masih dalam perut selalu bermandikan uang, sudah terlelap dengan boneka gajah dalam pelukannya hadiah dari sang Appa.


"Banyak harapan MiMoy untuk mu, de'." ucap pelan Hujan sambil menatap sendu wajah anak pertamanya itu.


"Awalnya MiMoy pikir kamu akan menjadi seorang kakak, keluarga kita tentu akan lebih ramai dari biasanya namun, semua di luar dugaan" tambahnya lagi dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Kamu masih menjadi pusat perhatian semua orang, MiMoy gak bisa bayangin kelak besarnya kamu seperti apa?" kekehnya kemudian sambil mengusap ujung matanya yang berair.


Tak bisa di bayangkan memang, Samudera yang lahir serba dari yang pertama itu tentu akan menjadi segalanya dibanding para sepupu bahkan adiknya kelak. Ia jelas akan menjadi Putra Mahkota Rahardian yang memegang hampir seluruh kekayaan dan juga kekuasaan.


Cek lek


Air yang baru masuk kamar langsung meringsek naik keatas tempat tidur, ada Hujan yang tersenyum padanya meski tak semanis biasanya.


"Tumben ini tidurnya gak pake drama jerit-jerit" ucapnya setelah mencium pipi bulat Samudera.


"Kata siapa? papa sama mama baru keluar" jawabnya sambil mendengus kesal karna Air sibuk bermain PlayStation bersama Langit.


"Maaf, aku gak tau" jawabnya penuh sesal, kesibukan di kantor masing-masing membuat ketiga pria tampan itu memang jarang sekali berkumpul meski tinggal di satu apartemen yang sama.


"Ya udah, tidur yuk. Besok kita jalan-jalan" ajaknya kemudian sambil memindahkan Samudera ke box bayinya.


Air mencium kening dan kedua pipinya Hujan berkali-kali hingga wanita yang sebenarnya masih terluka itu pun terkekeh geli.


Diem! aku lagi niat puasa.


Hujan yang merasa gemas dengan apa yang di ucapkan Air menghadiahi nya ciuman sekilas di bibir, dan tentu itu membuat pipi suaminya merah merona.


"Udah ah tidur, jangan sampe belom puasa malah udah batal" cetus nya yang merasa miliknya sudah menegang.


Hujan mengeratkan pelukannya, ia letakkan kepalanya di dada sang suami yang selalu memberikan rasa aman dan nyaman.


Keduanya terlelap terbuai mimpi hingga esok hari meski harus berkali-kali terjaga karna membuatkan susu untuk Samudera.


.


.

__ADS_1


.


.


Pagi menjelang, suara teriakan Baby Bear di dalam boxnya tentu sangat menggema ke seisi kamar yang langsung membuat kedua orangtuanya terlonjak kaget.


"Ya ampun, udah siang!" pekik Hujan saat melihat sinar matahari pagi sudah tembus ke tirai kamarnya.


Appaaaaaa...


"Iya de' tunggu sebentar" sahut Hujan sambil turun dari tempat tidur untuk mendekat ke arah Samudera yang sudah duduk sembari mengigit belalai gajah.


"Gantengnya MiMoy udah teriak teriak aja nih, bangunin PapAy yuk"


Hujan meraih tibuh montok Samudera lalu di bawanya bayi tampan itu ke tempat tidur untuk membangunkan suaminya.


"Kak, bangun. Aku mau mandi"


" Hem.. " sahut Air tanpa membuka matanya sama sekali, rasa kantuk dan malas membuat ia enggan untuk bangun meski tubuhnya kini sudah di naiki oleh Baby Bear.


"Nanti dede jatoh, jagain dulu"


"Hem, iya, Jan Hujan Dereeeeees!" jawabnya Sembari merenggangkan otot.


Sedangkan Air langsung memeluk Samudera layaknya bantal pisang kesayangannya, tak perduli dengan jerit tangis sang anak yang membuat Hujan akhirnya kesal dan mengomel.


"Apa sih? bukannya di jagain malah di bikin nangis!" oceh Hujan saat keluar dari kamar mandi.


"Apa? kakak cuma peluk loh, dianya aja yang cengeng" selaknya tak ingin di salahkan.


"Bisanya nangisini terus, berentiin gak?!" ancam Hujan, geram.


"Iya, Iya.. "


Air bangun dari tidurnya dan langsung memangku Samudera yang masih rewel, Hujan hanya berdecak pinggang menyaksikan anak dan suaminya tengah heboh berdua.


"Aku mau ke bawah, kakak mandiin Sam ya" titah Hujan yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Air.


Hujan yang keluar dari kamarnya langsung menuju halaman belakang dimana Oppa dan Omma biasanya berjemur di pagi hari, ketiganya berbincang cukup lama sampai akhirnya Melisa datang dengan wajah kesal.


"Kenapa, Mel?" tanya Omma.

__ADS_1


"Ini toples kerupuk kenapa cuma ada tutupnya? kata mba tadi di ambil si kakak barusan, coba kamu lihat buat apa sih?" titah Melisa sambil mengomel.


Hujan yang juga bingung akhirnya hanya mengangguk.


"Iya, Mah. Aku liat sebentar" jawab Hujan yang juga penasaran.


Dengan cepat ia kembali kekamarnya di lantai dua menaiki lift agar cepat sampai.


cek lek.


Tak ada siapapun di dalam kamarnya, hingga ia memutuskan untuk masuk kedalam kamar mandi saat terdengar gelak tawa Air dan Samudera.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Ya ampun!! itu anakku kenapa di mandiin dalam TOPLES




🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Tega lo kak, baby bear lo samain sama kepuruk πŸ˜ͺπŸ˜ͺ

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2