
πππππππ
Enam bulan usia pernikahan Air dan Hujan tak ada yang berubah, keduanya masih sibuk dengan kegiatan kuliah dan aktivitas lainnya.
Mereka bersama hanya saat tidur dan sarapan pagi, dan bertemu lagi saat pulang kuliah, begitu saja seterusnya.
Permasalahan sepele dan kesalah pahaman kecil masih sering ada diantara mereka, Jika tak ada yang mau mengalah tentu perdebatan semakin alot terjadi.
Kadang rasa lelah lah yang membuat salah satu dari mereka diam tak ingin semuanya semakin panjang dan pelukan adalah tanda jika keduanya sudah berbaikan dan mau memaafkan juga melupakan.
Dan jangan tanyakan soal anak.
Karna Hujan masih pintar menghitung tanggal suburnya, ia mau melakukan jalan pintas apapun asal sang suami tak mendesaknya terus menerus.
Sejauh ini Air tak pernah tau dan tak pernah meminta Hujan untuk hamil, ia pun tak pernah mau membahasnya lebih jauh.
.
.
"Nanti sore mau nginep gak dirumah bunda?" tanya Air saat keduanya baru bangun tidur dan belum mau beranjak dari kasur, mereka masih saling memeluk di bawah selimut tebal yang menutupi tubuh polosnya.
"Gak tau belum tanya bunda, mau gak kita di indepin" kekeh Hujan.
"Gak usah lah, kita jalan-jalan aja yuk" ajaknya sambil menciumi pucuk kepala sang istri.
"Kulineran ya"
Air menyetujui keinginan gadis halalnya itu.
Tanpa berbicara lagi ia langsung menggendong istrinya ala bridal style menuju kamar mandi.
Keduanya berendam di dalam bathtub yang sudah di tetesi cairan harum aromaterapi yang menenangkan mereka usai kelelahan menggapai puncak kenikmatan.
*****
Sesuai kesepakatan usai pula kuliah keduanya langsung mengelilingi ibu kota hanya untuk mencari jajanan pinggir jalan yang menggugah selera.
__ADS_1
Kali ini Air mengendarai motor besarnya agar tak sulit mencari parkiran dan bisa berhenti kapanpun dan dimana pun saat ada kedai yang ingin mereka singgahi untuk di cicipi.
Ia menjalankan kendaraannya dengan sangat pelan, sambil mengusap tangan Hujan yang melingkar di perutnya, obrolan santai dan candaan kecil mengiringi perjalanan mereka.
"Ay, mau itu" tunjuk Hujan pada salah satu kedai Dimsum ayam, salah satu favoritnya.
"Mau itu?" tanya Air memastikan sebelum ia memarkirkan motornya
"Iya "
Keduanya turun dari motor setelah Air menepikan kendaraannya itu, Mereka berjalan santai menuju kedai yang tak terlalu besar tapi ada beberapa pembeli yang mengantri.
Kepulan asap dari panci pengukus membuat Hujan tak sabar untuk menikmatinya karna bau harumnya benar-benar menggugah selera
Dua porsi ayam udah kini sudah tersaji di atas meja lesehan pinggir jalan dengan dua botol air mineral dingin.
"Ada rasa lain gak sih selain udang sama Ayam?" Tanya Air yang nampak sedikit serius.
"Kirain ada rasa buaya gitu?" kekeh Air setelah menegak minumannya.
"Kalo ada rasa buaya gue gak akan ajak Lo buat makan dimsum lagi" Ujar Hujan yang bergantian kini ia yang serius.
"Loh, kenapa?" tanya Air.
"Ya masa, Bayi buaya makan emak bapaknya buaya, hahaha" Sahut Hujan sambil tertawa.
"Minta di cium dimana?" bisiknya pada sang istri.
Hujan langsung diam tak berkutik, ia takut Air benar-benar mencumbunya di depan umum.
"Buaya banget, kan!" gumam Hujan pelan.
.
.
__ADS_1
Makanan kini sudah tandas tersisa, Hujan meminta makanan lagi pada sang suami di tempat lainnnya dan Air menyanggupi.
Selagi bukan di neraka, gue beliin buat Lo!
Itulah yang selalu di katakan suaminya, jika Hujan ingin sesuatu.
"Lo tunggu disisi ya, gue bayar dulu" pesan Air pada sang istri saat ia bangkit dari kuburnya, Eh salah!!! dari duduknya π€
Hujan hanya mengangguk paham.
.
.
Usai membayar apa yang tadi ia pesan, Air pun kembali ke mejanya, tapi ia langsung tertegun bingung saat tak ada istrinya disana, di tempat terakhir ia tinggalkan.
.
.
.
.
.
.
.
Hujan kemana???
π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»
*Nah loh bininya ilang ππππ
Like komen nya yuk ramai kan β₯οΈ*
__ADS_1