
ππππππ
Jerit tangis Samudera malah mengundang gelak tawa, tapi tidak dengan Air, pemuda tampan itu kini sedang berdecak pinggang mengahadap adik bungsunya.
Tapi itu tak membuat Cahaya takut karena ada dua pria di sisi kanan kirinya yang siap membela yaitu Reza dah Langit.
"Minggir, Sam nangis tuh" titahnya sambil menarik tangan Cahaya.
"Kakak!"
Benar saja, Little Princess Rahardian itu pun langsung di bela oleh papa dan juga suaminya.
"Sam, nangis tuh!"
"Sam anak siapa? harusnya sama kakak dong, aku kan udah di jalur yang benar peluk papa ku sendiri" cibir Cahaya sambil menjulurkan lidahnya.
"Heh, itu papa rame-rame ya!" protes si sulung tak suka jika Reza selalu di akui hanya miliknya.
"Kalian ini kenapa sih? ribut terus. Cuma Bumi yang dari tadi santai liatin kalian berabtem" timpal Tante Via, ternyata para keponakannya itu tak berubah sama sekali.
Appa dede..
Rengekan Samudera membuat Cahaya benar-benar semakin jadi, ia sampai sakit perut menahan tawa saat melihat Baby bear semakin berderaian air mata.
"Sama Mama yuk, tar Onty nya kita cubit" rayu Melisa pada cucu satu-satunya itu.
Ubit..
"Iya di cubit, kalo masih nakal juga kita cincang" jawab Air yang kesal, belum lagi saat melihat Hujan dan Kahyangan malah sibuk berdua entah apa yang para menantu Rahardian itu bicarakan, karna hanya tawa kecil yang terdengar di antara mereka.
__ADS_1
Melisa yang mengambil alih Samudera langsung membawa bocah menggemaskan itu ke dapur, memberinya sedikit kue agar sedikit lebih tenang.
"Makan ya, habisin"
Sam hanya mengangguk, warna yang begitu mencolok bertabur coklat diatasnya tentu menggugah selera bayi lucu itu.
Reza hanya melirik sesekali pada Si buntut Gajah yang wajahnya penuh dengan air mata karna memperebutkan dirinya yang lebih memilih memberi rasa nyaman pada putri kecilnya yang tak pernah di anggap dewasa meski sudah bersuami bertahun-tahun lamanya.
*****
Acara tak di sengaja dirumah Cahaya pun berakhir lewat tengah malam saat satu persatu pulang ke apartemen masing-masing termasuk Reza dan Air.
Hujan yang menggendong Samudera yang tertidur itupun langsung membaringkannya di boxnya seperti biasa.
"Kak, besok aku mau kerumah sakit" ucap Hujan saat suaminyaa itu keluar dari kamar mandi.
Hujan mengangguk sambil berjalan mendekat, ia memeluk tubuh suaminya yang hanya memakai handuk sebatas pinggang.
"Say, Hai dong" pintanya saat dirasa miliknya sudah meronta.
"Siap Suami tampan ku" kekeh Hujan dengan tangan sambil melepas satu satunya yang menutupi tubuh tinggi putih Air.
Milik suaminya yang tak bisa ia genggam sepenuhnya itu kadang membuat Hujan kesulitan, tapi ia tetap berusaha melakukannya sampai des ahan keluar dari mulut Air yang terlena dengan sentuhan tangan istrinya.
Dirasa susah cukup dan siap untuk di manjakan, Hujan mulai berjongkok, ia lakukan apapun yang ia bisa meski begitu terasa sesak dalam mulutnya sendiri.
Air yang mulai mendesis hanya bisa menahan rasa nikmat itu dengan mengusap kepala istrinya dengan lembut.
Satu menit dua menit lima menit sampai dua puluh menit akhirnya Air tak kuasa lagi menahannya.
__ADS_1
Ooooeeekkk...
.
.
.
.
.
.
.
Sumpah... Asin banget, Kak!
πππππππππ
Mereka pada kenapa sih?
Si hujan jejeritan kuneon!
Keselek mayones ππππ
Duh, aku yang polos ini tak bisa mengartikannya.
Like komennya yuk ramaikan.
__ADS_1