Air Hujan

Air Hujan
Bab 106


__ADS_3

πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Tolong... ada kecelakaan!!!!


Hanya itu yang di dengar Air saat ia merasa tubuhnya terlempar bagai terbang sampai akhirnya terhempas lagi ke jalanan, dan akhirnya Ia tak merasakan apapun lagi setelah itu.


Kondisi jalan yang ramai membuat begitu banyak orang yang menolongnya tapi hanya dua orang saja yang mau membawa pewaris utama RAHARDIAN itu.


Tubuh tinggi yang masih terbalut jaket kulit berwarna hitam itu di bopong kedalam sebuah mobil salah satu warga, kereta besi sederhana itupun langsung melesat dengan kecepatan penuh.


.


.


.


BRAAAKKK.


Reza langsung menutup laptopnya saat menerima kabar kecelakaan dari orang suruhannya yang bertugas mengawasi semua anak menantu Rahardian ia bergegas langsung kerumah sakit setelah meraih kunci mobilnya.


Perasaanya semakin gelisah dan khawatir, Reza belum berani memberitahu sang istri tentang musibah yang di alami anak sulungnya itu sebelum ia melihat sendiri keadaan Air.


"Bukannya tadi bawa mobil?, kenapa kecelakaan motor?, apa dia beli motor dadakan?" gumam Reza yang bingung dengan yang di alami putranya.


Meski bukan yang pertama, tapi ini sudah lumayan lama Air tak mengalami kecelakaan motor, karna setelah menikah dia lebih sering membawa mobilnya sebab ada sang istri yang selalu bersamanya.


*********


"Loh, kaya kenal ya."


"Hey...tunggu!!" seorang gadis berperawakan tinggi sedikit berlari mengejar brankar yang membawa Air ke UGD.


"Ada apa?" tanya gadis itu pada salah satu yang tadi membawa Air.


"Kecelakaan motor, mbak" jawabnya masih dengan raut wajah khawatir.


"Saya nanti liat dulu ya korbannya, kayanya saya kenal deh" ucapnya dengan senyum seramah mungkin membuat dua orang itu saling pandang


"Oh, iya mbak. Semoga temennya ya"


Lima belas menit ketiga orang itu menunggu di kursi besi yang telah disediakan dan akhirnya dokter pun keluar dari ruangan UGD untuk mengabarkan jika korban dalam keadaan yang tak begitu parah namun hanya saja belum sadarkan diri.

__ADS_1


"Boleh saya melihatnya?" pinta gadis itu.


"Silahkan, tapi jangan mengganggu" pesan dokter yang di balas anggukan kepala.


Dua pria dan satu gadis itu masuk tanpa berbicara apapun, semua menatap intens kearah pemuda yang kini tengah berbaring lemah.


"Bagaimana?, kenal gak, Mba?" tanya salah satu pria.


"Iya, ini teman saya, pak" jawab si gadis dengan perasaan lega karna dugaannya benar.


"Lalu gimana?"


"Hem, bapak bapak pulang aja, biar saya yang urus nanti saya telepon keluarganya"


Dua pria itu kembali saling pandang dengan salah satunya menyetujui usul si gadis.


"Baiklah, kalau begitu. Kami pamit"


.


.


Air yang masih memejamkan mata dengan kening sedikit luka dan rahang yang biru diusap dengan begitu lembut oleh si gadis tinggi semampai itu.


"Kita ketemu lagi ternyata" bisiknya lalu mencium pipi Air.


CEKLEK...


Gadis itu menoleh saat ada suara di belakangnya, ia menautkan kedua alisnya saat melihat ada sosok pria dewasa yang begitu tampan sedang berdiri di hadapannya dengan raut wajah khawatir.


"Kakak..." lirih Reza saat ia sudah benar-benar memastikan jika yang di lihatnya itu si sulung.


"Ya ampun, kak. kamu apa-apaan sih bisa begini lagi" Reza mengusap kening putra Kesayangannya dengan begitu pelan.


Hati seorang ayah itu kini tengah hancur menyaksikan Buah hatinya tak sadarkan diri.


"Kamu siapa?, kamu yang bawa anak saya kemari?" tanya Reza, karna info yang ia dapat kalau Air mengalami kecelakaan tunggal.


"Iya, Om saya yang bawa Air kemari" ucapnya sedikit tergagap.


"Kamu kenal?" tanya Reza lagi.

__ADS_1


"Saya temannya Air, perkenalkan nama saya....."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Diandra...


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Eleuh... eleuh.... cak kapok iye hiled bulu hejo !!!


Pake ngabohong sagala ke babang gajah..


pasti ada rebon di balik tarigu ini sih.. Yakin!!!

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan β™₯οΈπŸ€—


__ADS_2