
Mall mewah milik keluarga yang dua tahun lagi akan jatuh ke tangan Air Rameza Rahardian Wijaya, seakan menjadi saksi dimana gelak tawa pasangan suami istri yang selalu dilimpahi banyak doa terbaik dari orang-orang di sekelilingnya itu sedang merasa kebahgiaan meski hanya sekedar berjalan-jalan.
"Mau nonton gak?" tanya Hujan.
"Gak ah, yang ada tidur didalem"
Hujan mencubit perut suaminya karna ia memang sering melakukan hal itu jika sedang menonton di bioskop.
Hal yang paling membosankan karna tak seperti dirumahnya yang bebas melakukan apapun di sela-sela pemutaran Film.
"Makan udah, shoping udah, jajan apalagi. Sekarang tinggal ke Hotel kita main Basah-basan, Ok!" bisik Air saat keduanya berjalan menuju pintu utama Mall.
"Hotel?" tanya Hujan dengan menautkan kedua alisnya.
"Hem, Kakak mau nyobain Hotel baru Papah, ckck"
Hujan membulatkan kedua matanya.
"Ya ampun, bikin hotel kaya bikin goreng tahu aja" kekeh gadis cantik si menantu pertama Rahardian.
.
.
.
Cek lek..
Air membuka pintu kamar Hotel yang baru dua minggu lalu di resmikan keluarganya, Ia memang sudah meminta satu jatah kamar spesial pada Papanya. Dan kini saatnya ia akan menikmati malam panjang bersama sang istri di sana.
"Ay.. keren banget!"
"Suka?" Tanya Air saat ia peluk istrinya dari belakang.
"Banget, makasih ya. Kamu selalu bikin aku bahagia" balas Hujan yang langsung menyandarkan kepalanya di dada Air.
"Mau tinggal disini, kita cuma butuh kasur kan" kekeh Air.
"Ih, emang gak mau makan?, Aku suka tinggal di apartemen. Belum ada niatan buat aku pengen pisah dari sana" ucap Hujan sambil menahan geli saat bibir suaminya sudah menyusuri leher dan pundaknya.
"Terimakasih sudah mau menerima keluargaku, menerima mereka seperti keluargamu sendiri"
Hujan hanya bisa mengangguk, ia tersenyum seraya menatap lurus pemandangan di hadapannya kini, Kota yang menjelang malam dengan ribuan kendaraan di bawahnya.
__ADS_1
.
.
.
.
Beberapa kali melakukan hal yang menyenangkan bersama membuat tubuh polos Air dan Hujan penuh dengan buliran keringat Cinta, senyum kepuasan tak lepas dari wajah lelah keduanya yang masih merasakan sisa-sisa kenikmatan saat menuju puncak pelepasan.
"Kali ini jadi gak ya kira kira?" tanya Air sambil mengusap bibir Hujan yang nampak menebal karna ulahnya yang terus menerus me ***** nya dari lembut hingga kasar.
"Gak tau, jadi alhamdulillah gak jadi ya alhamdulillah" jawab Hujan yang ia sendiri bingung menanggapinya.
"Gak mau ya?" tanya Air lagi.
"Enggak juga, se dikasihnya aja. Udah dua bulan ini juga kamu main terus kan meski masuk masa subur ku" sindir Hujan yang langsung mendapat ciuman bertubi-tubi dari suaminya.
"Sayang Hujan banyak-banyak"
****
Hari yang di niatkan pun datang, Air dan Hujan sedang
"Hati-hati dijalan ya" pesan Melisa pada anak dan menantunya
"Iya, Mah"
Setelah berpamitan, keduanya bergegas berangakat karna hari semakin siang.
Lebih dari satu jam perjalanan akhirnya Air bisa menepikan mobilnya di area parkiran pemakaman Umum.
Jalan setapak mereka susuri sampai pada akhirnya mereka berhenti di dua gundukan tanah yang tertutup rumput hijau.
"Ibu, ayah... Hujan sama Air baru Sempet kesini" lirih gadis cantik itu disini makam ibunya.
Air hanya bisa mengusap punggung dan kepala Hujan yang tertutup pashmina panjang.
Doa dan tahlil mereka suarakan di depan makam ayah dan ibu yang sudah dua puluh tahun berpulang ke pangkuanNya.
.
.
"Hujan.. "
__ADS_1
Pasangan suami istri itu langsung menoleh kearah suara.
"Kak Devan!" seru Hujan yang terkejut dengan hadirnya Devan di belakang mereka.
"Selamat siang, Tuan Air" sapa pemuda berkaca mata itu.
"Siang juga" jawab Air sedikit ketus yang langsung mengeratkan rangkulannya pada Siang istri, seakan mengisyaratkan jika Hujan hanya miliknya seorang.
"Kak Devan disini juga?"
"Iya, aku lagi ziarah ke makam adikku" sahut Devan.
"Oh.. " balas Hujan sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pulang yuk Sayang..
Takut ih.. ada jalangkung!!!
πππππππππ
Mulutnya laknat banget si kakak π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan ππ
__ADS_1