
πππππππππππ
"Kamu udah hubungi om Axel, kak?" tanya Reza pada si sulung saat semuanya berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi.
"Udah, tapi aku gak bisa ikut ya" jawabnya setelah menegak air putih saat merasa lidahnya bagai terbakar karna menggigit cabai.
"Cari duit aja sana yang banyak" ledek Reza yang di balas delikan mata oleh putranya.
"Aku cari duit banyak buat apa, buat Hujan doang" sahutnya dengan tawa kecil.
"Ini anak kamu?" tunjuk Reza pada Samudera yang asik menyuapkan ikan tim kesukaanya.
"Hadeuh, ini anak kecil duitnya udah gak keitung, Pah" timpal Air sambil menggelengkan kepala melihat kearah Baby Bear.
Air yang beberapa waktu tahu jika papanya menaruh saham besar di perusahaannya atas nama Samudera hampir saja pingsan, karna putranya itu kini hampir memiliki harta separuh yang ia punya, Reza sepertinya tak main main dengan cucu pertamanya, masa depan penuh kemewahan benar-benar dalam genggaman bocah satu tahun itu.
"Nafkah dari kamu paling penting" ujar Reza mengingatkan.
"Tenang, Pah. Susu sama pempers masih hasil keringat kakak muter otak di kantor" jawabnya sambil tertawa geli.
.
.
.
Sepeninggal Air ke kantor kini saatnya Reza, Melisa dan Hujan bersiap untuk pergi ke area wahana bermain yang sudah keluarganya booking. Samudera yang sudah tampan dengan topi putih di kepalanya kini sedang berjalan kearah pintu kamar kakek dan neneknya.
***Appaaaaa
Ammaaaa***
__ADS_1
"Iya, tunggu" Sahut Melisa di depan kaca rias nya.
"Biar aku yang buka" cegah Reza saat istrinya ingin bangun dari duduk.
Ceklek
"Kaget gak?" goda Reza pada cucu tampannya itu yang pipinya semakin bulat.
Nda dadet
Reza tentu langsung tertawa sambil meraih tubuh montok Samudera untuk di gendong dan di bawa masuk kedalam kamar, Hujan yang mengekor di belakang papa mertuanya itu pun duduk di sofa samping tempat tidur dekat Melisa.
"Dede mau kemana?" tanya Reza memulai obrolan, hobby baru yang teramat ia gemari saat Sam mulai pintar berceloteh dan merespon ucapannya, Reza selalu mengajarkan Samudera berbicara dengan kalimat yang benar dan lugas, bukan ikut ikutan memakai bahasa bayi agar terkesan lucu dan imut.
Na, Moy?
"Jalan-jalan" jawab Hujan saat putranya bertanya.
Ayan ayan.
Iyyaah.
Samudera yang di tuntun Hujan dan Melisa turun ke lantai bawah dengan sangat hati hati jangan sampai bocah kecil itu terpeleset atau jatuh.
Sedangkan Reza sudah beberapa langkah berjalan lebih dulu di depan istri dan menantunya.
Samudera yang di pangku Melisa di kursi depan terus saja Berceloteh dan menjerit, ia juga sesekali ikut bernyanyi bersama Reza.
"Ye.. nyampe" ujar Melisa senang, karna cukup baginya perjalanan lebih dari dua Jam tanpa berhenti sama sekali di rest area.
Huleeeee..
__ADS_1
Apapun dan dimana pun jika tak ada Air yang ikut otomatis Reza lah yang mengambil alih menggendong Samudera.
Tuh Appa..
Tunjuk Sam pada salah satu patung hewan besar favorit Samudera yang sudah banyak berjejer di rumahnya.
Reza yang tertawa malah mendukkan Samudera di dalam mulut hewan tersebut yang kini tengah punah dari dunia.
"Dede lagi dimana, ih serem" goda Hujan sambil memotret anaknya dengan ponsel.
.
.
.
.
.
.
.
Dede agih emam Culus.
ππππππππ.
Gak bisa bayangin nanti dalam perut Huleeeeee...
__ADS_1
π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£
Like komennya yuk ramaikan.