Air Hujan

Air Hujan
Baby Bear 49


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


"Pah, ini udah mateng" seru Air yang kesal karna bosan menunggu air dalam kuali besar mendidih sempurna.


"Tungguin sampe gosong" jawab Reza yang duduk di sebuah kursi dengan tangan melipat didada, ia yang baru pulang rapat menggantikan si sulung langsung melesat ke kantor saat pasukan gajahnya memberi kabar jika Air baru saja datang hampir di jam makan siang tadi.


"Mana ada gosong, Pah! aku tuh udah gede yang gak bisa papa akal akalin begini pake suruh nunggu sampe gosong" cetus nya semakin kesal.


"Oh, anak Papa tau diri juga ya bilang kalau udah gede, kirain masih ingusan" sindir Reza.


"Enggaklah" elaknya yang ikut melipat tangan di dada.


"Kalo kamu bukan bocah ingusan, pasti tau dong jam kantor itu, kapan?!" tambahnya lagi dengan senyum menyeringai.


Air diam menunduk, ia lepaskan tangannya dari depan dada bersiap mendengar ceramah rohani dari sang pemilik perusahaan.


" Maaf, Pah" ucap Air pelan.


"Siapa?" tanya Reza serius.


"Maaf, Tuan" Air mengulang permintaan maafnya.


Reza menatap sang direktur di depannya itu dengan rasa kecewa, sedangkan Air merutuk dirinya sendiri penuh rasa sesal.

__ADS_1


"Bukan hanya perusahaan yang akan rugi memiliki atasan yang seenaknya seperti mu, tapi juga anak dan istrimu" ucap Reza setelah lima menit keduanya saling diam.


"Jika sebuah Perusahan bangkrut masih bisa di mulai dari nol, tapi rasa kecewa seorang pasangan karna di abaikan tak akan ada obatnya meski kamu kembali meminta maaf dan berjanji tak akan mengulangi kesalahanmu lagi, Ay"


Air sedikit mendongakkan kepalanya, masih terasa asing baginya yang jarang sekali di panggil nama oleh papanya sendiri.


"Kalian bukan pasangan yang baru menikah satu atau dua tahun, banyak yang sudah kalian lewati dari masalah sepele hingga masalah yang sangat berat dua tahun lalu. Jangan salahkan Hujan yang mengomel padamu, karna perasaan seorang istri begitu sensitif dan cenderung lebih peka. Ada Samudera yang butuh pelukanmu sebagai pahlawannya, kak" jelas Reza memberi peringatan, jika keluarga harus tetap nomer satu.


"Kamu lihat mamamu, apa pernah papa meninggalkannya?"


Air menggeleng dengan cepat, karna ia tahu pasti jika kedua orang tuanya itu memang tak pernah terpisah kecuali di awal pernikahan mereka dulu yang ketiga anaknya tak tahu sampai saat ini, kecuali para readers SuamiDadakan.


"Enggak, Pah" jawab Air.


"Lihat Abangmu, kalo adek bisa di kresekekin udah di bungkus tuh istrinya biar bisa ikut kemana-mana saat Abang di luar rumah, asal gak bisa di lihat orang lain. Saking gak bisanya jauhnya dari Chaca" ucap Reza membandingkannya dengan Langit.


"Abang kan udah bucin akut sama adek dari baru lahir, Pah" sahut Air, sampai sekarang ia tak habis pikir dengan pasangan itu apa tak pernah merasa bosan seumur hidup saling menempel satu sama lain.


"Karna Abang menyayangi istrinya begitu tulus, dan Papa tak meragukan hal itu"


Air tak lagi berani menjawab, karna ia juga sependapat dengan sang gajah senior.


"Kamu tahu Bumi, yang baru menikah tahun lalu saja udah kaya panci ketemu tutup. Itu istrinya dijaga dua puluh empat jam sama dayang-dayang nya. Mana pernah Bumi lepasin tangan Yayang saat jalan berdua" kata Reza yang malah membuat Air menahan tawa.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


"Bumi pegangin tangan Yayang karna takut istrinya itu jatuh keserimpet gamisnya sendiri, Pah".



πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Si kakak kalo kedengeran Bumi bisa di rebus tuh.. Air masuk Aer πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ€£..


Mateng berdua mereka 🀭🀭🀭🀭🀭


Like komennya yuk ramaikan.

__ADS_1


__ADS_2