
πππππππππ
"Di angetin!" ucap Hujan dengan tangan sudah melipat di dada, Air dan Sam sampai harus mendongakkan wajah tampan mereka.
"Kamu tahu gak, azab istri yang gak ada kabar saat suaminya chat atau telepon tapi di diemin?" Air balik bertanya.
"Gak tau dan gak mau tau!" jawab Hujan, ia akan di buat mati Kutu dengan pembalasan sang suami.
"Harus tau, biar besok besok suaminya gak di kacangin" oceh Air yang kini ikut bangun. Keduanya berdiri saling berhadapan dengan Samudera masih dalam gendongan Air.
"Apa azabnya, hah?" tanya Hujan dengan sorot mata nyalang.
"Matinya gak di umumin di speeker masjid, mau? " jawab Air sambil melengos pergi.
Hujan yang di tinggalkan begitu saja langsung berteriak jengkel sampai Samudera bertanya pada papAy nya.
Moy, apa?
"Moy lagi nyanyi, tepuk tangan gih" titahnya pada sang putra
Hulleeeeeeeeee....
Air tertawa terbahak-bahak saat melihat Baby Bear benar-benar bertepuk tangan senang, dan itu membuat Hujah semakin uring-uringan pada dua pria tampan kesayangannya itu.
"Kak, jadi nyebelin gini sih?!" ucap Hujan yang kini duduk di sisi suaminya yang sedang memesan satu mangkuk bubur ayam.
"Mau sarapan gak? berantem sama aku harus kuat loh"
Hujan membulatkan kedua matanya semakin di buat kesal oleh suaminya sendiri.
"Aku mau pulang!"
"Iya, Hati-hati dijalan" pesan Air pada istrinya yang ternyata belum bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Say goodbye de' ke MiMoy" pintanya pada Samudera.
Dadadadada Mooooooy....
Lagi lagi Air tergelak sendiri, ia begitu gemas pada anaknya yang sudah bisa di ajak bekerja sama menjahili Hujan.
"Jahatnya kalian berdua!"
Dua mangkuk bubur ayam dengan sepiring sate jeroan kini terhidang didepan keluarga kecil yang penuh banyak warna dalam rumah tangga mereka itu. Air menikmati sarapan paginya dengan begitu lahap sambil menyuapi Samudera juga, sedangkan Hujan hanya diam mengumpat kesal dalam hati sendiri.
"Nanti kalo udah capek ngomel disini langsung pesen minum ya, takut keselek" ujar Air sambil menunjuk dada istrinya yang di maksud adalah dalam hati.
"Au ah.!"
Air hanya tertawa kecil lalu melanjutkan kembali makannya hingga habis, Hujan yang memperhatikan suaminya begitu lahap karna lapar merasa di tampar oleh dirinya sendiri.
"Sore nanti kita pulang ke apartemen" ujarnya pelan namun masih bisa di dengar oleh Air yang sampai menoleh kearahnya.
"Kenapa? bukannya mau satu minggu disini" tanya Air yang bingung dengan keputusan mendadak di luar rencana istrinya.
"Gak apa-apa, nanti juga biasa dan betah"
Air yang sudah menghabiskan satu mangkuk bubur miliknya dan juga milik anaknya yang tak habis langsung bangun dan membayar semuanya.
"Makasih ya, Bang" ucapnya ramah pada si pedagang bubur.
"Yuk, mau pulang gak?"
Hujan langsung mengangguk dan bangkit dari duduknya, Air menuntun Samudera agar mau berjalan sampai ke parkiran taman.
"Gak apa-apa, Kan bawa motor masing masing?"
"Iya, deket kok" jawab Hujan sambil menyalakan mesin motor matic nya.
__ADS_1
Air membiarkan sang istri berjalan lebih dulu sedangkan ia dan Samudera mengikutinya dari belakang, dua Pria tampan itu tentu menjadi pusat perhatian para penghuni komplek yang kebetulan ada di luar rumah mereka masing-masing.
"Aku langsung pulang ya, salam aja buat Bunda" ucap Air sambil menyerah kan Samudra pada Hujan.
"Gak mau masuk dulu?" tawarnya berharap sang suami mau turun sejenak dari motor besarnya.
"Udah siang, aku mau ke kantor" tolak nya halus, tak ada jawaban dari Hujan ia tau kini wanita halalnya itu sedang menyembunyikan rasa kecewanya.
"Hati hati dijalan, jangan lupa telepon aku saat jam makan siang nanti" pintanya malu dengan menundukkan wajahnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jan, satu hal yang harus kamu tau.
Saat aku menghubungimu itu artinya aku merindukanmu tapi jika aku tak lagi menghubungimu itu karna aku ingin kamu merindukanku...
πππππππππ
__ADS_1