Air Hujan

Air Hujan
bab 172


__ADS_3

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


"Kakak berangkat ya" pamitnya pada kedua orang tua, Omma dan Oppanya.


Hujan yang sudah menggeser piringnya pun ikut bangkit untuk mengantar sang suami sampai pintu utama.


Air merangkul Istrinya yang bergelayut manja sampai mobil.


"Nanti kakak langsung pulang, tapi janji harus makan ya."


"Tapi janji harus telepon juga" pinta Hujan malu-malu.


"Iya, Sayang"


Air mengusap kepala Hujan sambil mencium kening dan kedua pipinya.


Hujan melambaikan tangan saat kereta besi mewah Sang suami perlahan keluar dari gerbang rumah utama.


Gadis itu kembali masuk dan berjalan ke ruang makan karna masih ada mertuanya disana.


"Mbak tadi bawain obat, kamu minum sekarang ya" titah Melisa pada menantu pertamanya itu.


"Iya, Mah"


Reza yang sedari tadi memperhatikan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Jan, kamu mau kuliah lagi gak?, sayang loh kalo gak di terusin"


"Gak tau, gak ada kakak" jawabnya polos.


Reza dan Melisa sesaat saling pandang lalu tersenyum.


"Kan kakak udah selesai, sekarang giliran kamu buat terusin." ujar Reza lagi.


"Gak ada kata terlambat untuk terus menimba ilmu, selagi kamu bisa membagi waktu Mama dan Papa akan selalu mendukung" timpal Melisa.


"Hujan mau bayi" jawabnya sambil mengusap perutnya yang rata.


Melisa langsung tersenyum simpul saat mendengar jawaban dari menantu kesayangannnya itu.


Sedangkan Reza justru menghela nafasnya berat.

__ADS_1


Dua bulan lagi kita keliling dunia, Ra...


******


Air yang baru masuk keruangannya langsung melonggarkan dasi yang mencekik di leher.


Ia duduk di kursi kebesarannya sambil memandangi foto sang istri di dalam figura yang terletak di atas meja.


"Kamu cantik" ucap Air sambil tersenyum.


"Hah?, saya ganteng, Tuan" jawab Daniel, bingung.


Air melempar kertas yang sudah ia remas kearah sekertarisnya itu.


"Telen sekalian, biar besok pinter" cetus Air kesal.


"Kemaren suruh telen laptop sekarang telen kartas, maaf ya Tuan saya bukan kuda lumping" jawab Daniel tanpa ekspresi.


"Ya Tuhan! nolak sekertaris cewek kenapa malah dapet yang begini sih" dengus Air geram sambil mengusap wajahnya secara kasar.


***


Hujan bangun dan duduk berkali-kali, hatinya resah karna baru kali ini ia merasakan rasanya menunggu.


"Kakak lama!"


Ia yang di hampiri Omma langsung menoleh saat namanya di sebut.


"Kakak belum dateng?" tanya Wanita baya yang kini berkaca mata.


"Belum, Omma"


"Masuk yuk, kita tunggu di dalam. Angin sore tak baik untuk mu, Sayang" ajak Omma sambil mengulurkan tangannya.


Hujan yang sekarang lebih penurut menerima uluran lembut tangan Ibu dari papa mertuanya itu.


"Omma senang kamu bisa selalu tersenyum lagi, Omma harap kalian selalu di limpahkan kebaikan dan kebahagiaan"


AMIIIN...


Kedua wanita itu menoleh saat mendengar jawaban dari suara laki-laki yang tentu sudah mereka hafal.

__ADS_1


"Kakak" seru keduanya berbarengan.


Pemuda tampan itu berjalan mendekat dengan senyum manis yang membuat siapapun akan terpesona jika melihatnya.


"Udah pulang?, aku baru masuk loh" Ujar si cantik sambil bergelayut manja bagai tak bertemu sepuluh hari lamanya.


"Kangen ya"


"Iya sampe gemeteran" Jawab Hujan sambil terkekeh.


Air yang bingung sampai mengernyitkan dahinya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Itu kangen apa laper, Jan Hujan deres?????


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Dua duanya kak πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


like komennya yuk ramaikan..

__ADS_1


__ADS_2