
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Huleeeeeee..
Appaa jajah Dede
Reza langsung tertawa saat mendengar sorak cucu kesayangannya itu, ia gendong sambil di ciumi seluruh wajah sang buntut gajah yang amat ia rindukan meski setiap hari bertemu di videocall.
Appa na
"Nginep dong dirumah Aunty, kan dede gak ada"
Huuaaaaaaaaa... Appa akal.
Samudera memang paling sensitif jika kakeknya itu menyebut nama Auntynya, karna hanya Cahaya yang berani menyainginya dalam dekapan Reza. Si bungsu Rahardian itu memang masih selalu di manjakan oleh papanya dan kadang Reza lupa jika ada cucunya yang akan marah melihat itu semua.
"Ugh, enggak. Appa bohong" rayu Reza pada Samudera, bocah yang tadi begitu bahagia karna bertemu kini menangis tersedu-sedu bagai patah hati.
"Maaf, Appa sayang dede, kamar yuk kita peluk-peluk"
Nda
"Dede mau susu?" tanya Hujan sambil menyodorkan botol besar dan panjang milik putranya.
Nda, dede cim belli.
"Amma liat dulu ya, dikulkas kayanya masih ada" ujar Melisa sambil melengos ke dapur.
Samudera yang masih menangis langsung diam saat Ammanya datang membawa satu cup ice cream berwarna merah muda rasa strawberry yang begitu sangat manis.
Kini ketiganya sudah berada di ruang tengah, sedangkan Air dan Hujan sudah naik ke lantas atas membenahi barang mereka.
"Kakak mau balik kantor?" tanya Hujan setelah melirik jam di dinding.
"Enggak, nanti ada Daniel kesini buat bawa kerjaan dari kantor" jawabnya yang sudah berbaring di sofa depan TV.
Hujan hanya mengangguk lalu melempar gajah dan pisang kearah suaminya yang sedang tertawa terpingkal pingkal menonton sebuah video di ponselnya.
"Apa sih, Jan" seru Air yang sedikit kaget.
__ADS_1
"Berisik!" cetusnya sambil melengos lagi keluar kamar.
Air hanya menoleh sekilas, ia kembali fokus pada ponselnya, awalnya Air hanya iseng membuka beberapa video lucu yang meng ocok perutnya tapi entah bisikkan dari mana, ia mulai baralih pada gamenya lagi.
.
.
.
"Sam gak usah di ajak, dia itu takut banget sama mas Guna" ucap Melisa saat Hujan mau membawa serta Samuel bertemu dengan temannya yang kebetulan memiliki suami berwajah cukup seram.
"Titip papah aja." sambungnya lagi sambil melirik suaminya.
"Kasih kakak dulu, aku mau ganti baju" jawab Reza sambil berlalu ke kamarnya untuk berganti pakaian karna tekena tumpahan ice cream.
"Ya udah, aku bawa Sam ke kakak dulu, cuma sebentar, 'kan?" tanya Hujan memastikan.
"Iya, sebentar aja, dia juga gak bisa lama-lama makanya gak bisa mampir dan malah suruh mama buat turun ke lobby"
Melisa memang meminta Hujan untuk menemaninya ke lobby apartemen bertemu dengan temannya yang baru pulang dari luar negeri, bukan Melisa namanya jika ia tak meminta siapapun yang sedang jalan-jalan untuk membawakannya aneka wajan dengan warna dan gambar yang lucu.
Air yang mendengar suara pintu terbuka langsung menyembunyikan ponselnya.
"Kak, titip Sam ya, aku sama mama mau ke bawah dulu" pintanya pada sang suami yang sudah bangkit dari tidurnya, Air langsung menerima uluran tangan Samudera.
"Ngapain ke bawah?" tanya Air.
"Anter mama ambil wajan" kekehnya, Hujan kadang tak habis pikir dengan mama mertuanya yang sampai mempunyai ruangan khusus untuk menyimpan berbagai perlengkapan memasaknya. Hobbynya sangat di dukung oleh sang suami yang selalu menuruti keingan Khumairahnya itu.
"Iya,"
Samudera yang kini ada di atas pangkuannya langsung meringsek turun, bayi montok itu merangkak menuju boneka gajahnya yang tergeletak di lantai bersama si pisang.
"Mandi dulu yuk, nanti gajahnya kotor. Muka dede banyak bekas ice creamnya pada lengket" ucap Air sambil membuka baju baby bearnya.
Air membawa putranya yang sudah polos tak memakai apapun menuju kamar mandi, ia yang sedang bermain dengan Samudera tiba-tiba ingat dengan Gamenya yang belum di matikan.
"Dede tunggu sebentar, papAy ambil ponsel dulu ya"
__ADS_1
Iyyaah.
Air yang kembali ke sofa bukan menyudahi gamenya malah melanjutkannya tanpa sadar telah meninggalkan Samudera di dalam kamar mandi.
Dan pintu kamar yang tak di tutup rapat oleh Hujan membuat Air tak tahu jika istrinya itu telah kembali.
"Sam, mana kak?" tanya Hujan mengedarkan pandangannya di kamar yang cukup luas itu.
"Mandi" jawab Air tanpa menoleh.
Hujan langsung diam, ia sempat menautkan kedua alisnya sebelum beranjak ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
.
Ya ampun! dede....
Nangis gak... nangis gak.
Nangislah masa enggak π€£π€£π€£π€£π€£..
Hujan udah keluar tanduk tuh πΏπΏπΏ
Guling guling ya kak ampe kejer tar gue sawer ππ
like komennya yuk.
Ini hiburan gak usah komen ngegas ya πππ
__ADS_1