
πππππππππ
Pagi hari se isi apartemen sudah heboh dengan jerit tangis Baby Bear yang tak biasa, semua kualahan menenangkan nya yang menangis tak seperti biasa, bahkan pawangnya pun mulai bingung saat Samudera belum juga tenang dalam pelukan Reza.
"Kenapa ya, Mas?" keluh Melisa yang merasa khwatir pada cucunya itu.
"Sakit kali ya" tambahnya lagi.
"Tapi badannya gak panas, aku liat gusinya merah atau jangan-jangan mau tumbuh gigi?" sahut Reza yang langsung di balasan anggukan kepala oleh istrinya.
"Bisa jadi, Siap-siap begadang nih" ucapnya lagi sambil terkekeh.
"Kamu aja, aku sih enggak ya!" cetus Melisa.
"Berdua dong, Ra" protes Reza seperti biasa, umur boleh lebih dari setengah abad tapi manjanya tak kalah dengan sang cucu.
Enak aja, urusan Gajah beserta buntutnya itu sih!
********
Hujan yang hari akan kembali kerumah sakit untuk memeriksa kan kandungannya sebagaimana perintah dokter untuk datang setelah dua minggu mulai bersiap merapihkan dirinya, ia mengusap Perutnya di depan cermin yang memang sudah kembali rata usai melahirkan Samudera empat bulan lalu.
"Ini beneran ada bayinya?" gumam istri direktur Rahardian Grup itu.
"Apa rasanya akan lebih sakit dari yang kemarin?"
Ceklek..
Hujan menoleh saat pintu kamarnya terbuka, senyum langsung tersungging di sudut bibirnya mana kala sang suami datang sambil merentang kan kedua tangannya.
__ADS_1
"Uuuugh...kangen Jan Hujan Deres" bisik sang mantan playboy cap kacang garing.
"Haha, baru juga tiga jam, Ay" balasnya masih dalam pelukan suami tampannya itu.
"Aku tuh pusing kalo jauh dari kamu, maunya begini aja tiap detik" rengek nya manja.
"Inget umur, anak mau dua nih!" sindir Hujan sambil terkekeh.
Ups...
Usai mengganti kemeja dan jasnya, Air bergegas keluar dari kamar menuju ruang tengah karna Hujan dan Baby Bear sudah lebih dulu turun ke lantai bawah.
"Sam, mau di ajak?" tanya Air saat istrinya masih menggendong si bayi montok yang pagi tadi begitu rewel.
"Enggak, kasian ah" jawab Hujan.
Hujan menyerahkan putranya pada sang papa mertua yang selama ini sudah menghabiskan waktunya hanya untuk cucu pertamanya itu, Reza tentu menerimanya dengan senang hati apalagi saat Samudera sudah berjingkrak padahal Appanya belum menyodorkan tangan untuk meraihnya.
"Belom woy, ke PD an banget mau di gendong" kekeh pria paruh baya itu
Air dan Hujan ikut pun tertawa, karena nyatanya hasil jerih payah mereka begitu menempel pada orang yang justru sering mengganggu proses pembuatan Samudera.
"Mimoy tinggal ya, jangan nakal, ok" pamit Hujan yang tak pernah puas mencium bayi montoknya itu.
"Titip Baby Bear ya, Pah. Jangan di ajarin mesum, otaknya masih polos itu" ejeknya yang langsung mendapat jeweran dari papanya
"Gak di ajarin pun, kalo udah titisan Gajah pasti bucin" cetus Reza.
"Iya.. iya... "
__ADS_1
#Rumahsakit
Perasaan Hujan begitu tak karuan saat ia dan sang suami memasuki ruangan dokter, rasa takut akan kenyataan yang sebenarnya sudah mereka tahu pun kembali menggelitik hati yang memang belum siap.
Masih ada sedikit harapan jika semua ini hanya mimpi atau setidaknya sebuah kekeliruan semata.
"Bagaimana?" tanya Air saat Hujan sudah berbaring diatas brankar pasien, perut ratanya kini sedang di periksa oleh dokter yang biasa menanganinya.
"Enam minggu, usia kehamilan Nona muda masih enam minggu, Tuan" jawab sang dokter sambil tersenyum simpul.
"Aku beneran hamil lagi?"
"Iya, selamat ya, Nona. Saya harap Nona bisa lebih menjaga kandungan yang kedua ini" ucap dokter lagi yang bagai petir di siang bolong.
Air tersenyum kecil, ia menghampiri Hujan yang duduk di tepi ranjang seakan sedikit melamun.
.
.
.
.
.
.
"Selamat menjadi ibu lagi ya, Cantik. Kamu wanita paling hebat karna nyatanya Tuhan sangat percaya padamu."bisik Air sambil memeluk istrinya.
__ADS_1