
ππππππππ
Tak hanya mendudukan Sam di mulut Dinosaurus, Reza pun meletakan cucu kesayangannya itu juga di cangkang telur yang retak, Ia nampak santai dan menikmati saat keluarganya sibuk memotret.
"Dede ada dimana sih?" tanya Melisa yang sangat gemas pada Samudera yang berani dan tak rewel jika sedang bermain.
Appaaa.
Bayi montok itu malah balik bertanya pada kakeknya.
"Telur" jawab Reza yang paham.
Samudera nampak diam sejenak dan itu membuat Reza malah terkekeh karena merasa yakin jika cucunya itu tak bisa mengikuti apa yang ia katakan tadi.
"Telur de' telur ya sayang" ucap Reza mengulang perkataannya.
Iyung.
Kini bukan lagi Reza yang tertawa, Melisa dan Hujan pun ikut merasa gemas dengan apa yang di lontarkan Sang Putra Mahkota Rahardian itu.
"Iyung puyuh apa iyung asin?" ledek Hujan di sela gelak tawanya.
Iyung ayyyyaaam.
Samudera mengatakan hewan berkaki dua itu dengan sedikit di tekan sampai Hujan akhirnya berjongkok karna tawanya semakin pecah..
"Udah.. udah. Duh sakit banget nih perut mama" ucap Melisa yang menyembunyikan wajah merahnya di dada sang suami.
Reza kembali menuntun Samudera menyusuri tempat lainnya, ia benar-benar ingin membuat bocah tampan itu leluasa bermain agar jalannya pun semakin lancar karna jika dirumah ia akan lebih memilih merangkak agar cepat sampai ke apa yang ia tuju.
"Cape gak? makan dulu yuk"
Yuk emam yuk..
"Dede tadi mau di makan Dinosaurus ya?" Reza terus saja mengajak Sam mengobrol sepanjang jalan menuju salah satu resto.
__ADS_1
Iyyaaah.
"Takut gak?"
Nda.
"Dinasaurus giginya banyak, gigi dede ada berapa?"
Uwa.
Sampai di resto, ketiganya pun langsung memesan makanan termasuk untuk Samudera juga yang sedikit demi sedikit sudah bisa ikut makan apapun yang keluarganya nikmati meski hanya dalam porsi kecil.
"Kakak gak nyusul kesini, Jan?" tanya Melisa.
"Enggak, Mah. Hari ini sibuk katanya"
keluarga bahagia itu pun menghabiskan semua makanan hingga tandas tak tersisa, satu hal yang di terapkan oleh Reza yang wajib menghabiskan apa yang sudah di pesan karna di luar sana begitu banyak orang-orang tak seberuntung mereka (Termasuk diriku).
***
Jam empat sore akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karna Samudera terlihat sangat lelah dan mengantuk, bayi menggemaskan itu langsung tertidur saat sebotol susu habis tak tersisa, ia terbuai mimpi dalam dekapan Hujan yang duduk di kursi belakang.
"Hati-hati, Jan. Sini biar papa yang gendong" Reza mengambil alih Samudera dari miMoynya.
Sampai di apartemen Samudera malah terbangun, ia langsung digantikan baju oleh Hujan agar ruang geraknya lebih nyaman.
"Moy, bikin susu ya, dede diam disini" pesan Hujan pada Samudera di dalam box
Emam, Moy.
Hujan mengernyitkan dahinya, tumben sekali bocah montok itu sudah kembali lapar.
"Ya udah, kita turun kebawah ya, MiMoynya buatkan makanan untukmu"
Iyyaaah.
Hujan menggendong Samudera keluar dari kamar menuju dapur, ia mendudukkan putranya itu di kursi makan kecil tempat ia biasa duduk sedangkan Hujan menyiapkan makanan.
__ADS_1
"Diam disini, awas jatuh"
Pay, na?
"Iya, papAy belum pulang ya, Coba MiMoy telepon dulu ya"
Hujan meraih benda pipih miliknya yang tergeletak di atas meja makan, memencet nomer kontak suaminya.
Namun, Samudera menadahkan tangannya pada Hujan.
"Dede mau telepon papAy?" tanya Hujan yang paham maksud anaknya.
Iyyah.
"Ok, nanti bicara sama papAy ya"
Beberapa detik lamanya hanya nada tunggu yang terdengar sampai akhirnya Air pun menjawab.
.
.
.
.
.
.
.
Allo ba'ya πππ
Mampus loh kak, di panggil Buaya sama buntut gajah π€£π€£π€£
__ADS_1
Like komennya yuk ramaikan.