
ππππππ
Mooooy..
Samudera langsung merangkak saat ia mendengar suara Hujan memanggil namanya, balita menggemaskan itu langsung di gendong oleh wanita yang melahirkannya setahun lalu.
"Kangen dede ih, nakal gak?"
Nda.
"Anak pinter, sayangnya MiMoy" ucap Hujan, lalu ia menyerahkan putranya itu kepada Kahyangan.
"Aku ke kamar dulu mau bersih bersih" pamitnya kemudian yang langsung berlalu ke arah tangga.
Cek lek.
Hujan masuk kedalam kamar, ia letekkan semua barang belanjaannya disofa depan Tv sambil duduk juga di sebelahnya untuk sejenak melepas lelah.
"Cepek banget" gumamnya dengan kedua mata tertutup.
Hujan merogoh tas nya untuk mengambil benda pipih yang tersimpan di dalam sana.
Ia menekan satu kontak nama paling atas kemudian menghubunginya.
Tuuut.... tuuuuuut.... tuuuuuut.
Masih nada tunggu yang terdengar, sampai Hujan harus mengulangnya sampai tiga kali.
"Hallo"
"Hallo, kakak! kok lama banget?" tanya Hujan saat sang suami akhirnya mengangkat teleponnya.
"Maaf, kakak dari toilet"
Hujan Mengernyit kan dahinya, ia melirik kearah jam dinding yang tergantung di dinding.
"Kakak belum pulang?" sambung wanita cantik Itu lagi.
"Ini lagi siap siap, tadi pas mau pulang tiba tiba perut gak enak banget"
"Ya sudah, aku tunggu dirumah" jawabnya sambil mengangguk seakan Air ada di hadapannya saja.
Hujan melempar asal ponselnya keatas meja, lalu bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Dan dalam waktu lima belas menit kini ia sudah siap lagi untuk turun kebawah.
.
.
__ADS_1
.
.
Suasana yang nampak ramai membuat ia tersenyum kecil, sungguh keadaan yang tak pernah ia rasakan di keluarganya sendiri selama ini.
"Jan, kakak belum pulang?" tanya Melissa yang sadar dengan kehadiran menantunya itu.
"Tadi pas aku telepon baru mau pulang, mungkin masih di jalan" jawabnya yang setelah itu menyapa Bumi dan Langit yang sudah datang, dua pria itu sedang berkumpul ruang tengah bersama papa mertuanya.
Hujan yang duduk di meja makan bersama si bungsu di buat kagum dan takjub dengan apa yang mereka lihat saat ini, berbagai macam makanan kesukaan semua anak dan menantunya terhidang begitu cantik dan menggugah selera di atas meja.
"Mah, ini mama masak sendiri?" tanya Cahaya, meski ia tahu jawabannya.
"Menurutmu dengan siapa?" Melisa malah membalikkan pertanyaan putri bungsunya.
"Ya kali dibantuin sama si Tutut Jajah" kekeh Cahaya yang langsung membuat ketiga menantu Rahardian itu tertawa.
Huleeeeee
Papaaaaaay.
Hujan melongokkan sedikit kepalanya saat Sam heboh memanggil Air yang baru saja pulang dari kantor.
"Wih, pak direktur lembur?" kata Reza menggoda karna kepulangannya telat satu jam dari biasanya.
"Lembur di toilet, Pah" jawab Air dengan Sam yang kini ada di gendongannya.
"Kakak mandi dulu" pamitnya setelah mencium pipi sang istri.
Makan malam bersama yang di lakukan oleh keluarga Rahardian itu terkesan begitu hangat, gelak tawa dan candaan serta obrolan ringan mengiringi suapan demi suapan yang akhirnya membuat perut mereka kenyang.
Jam sepuluh malam semuanya masih berkumpul di ruang tengah, Samudera yang belum juga tidur tentu membuat yang lain juga masih betah bermain bersamanya, entah kenapa bocah menggemaskan itu tak kunjung mengantuk meski dua botol susu berukuran besar sudah berpindah isinya ke dalam perut yang kini membuncit.
Appa... upet yuk.
Sam datang menarik selimut yang ia bawa entah dari mana.
"Mau main petak umpet?" tanya Reza yang langsung paham dengan apa yang dikatakan buntut gajahnya.
Iyyaah.
"Uncle ikutan ya," seru Langit yang semakin gemas dengan keponakannya itu.
Iyyaah.
"Onty ikutan juga ya, boleh?" timpal Cahaya menggoda.
Nda.
__ADS_1
"Huuaaa, papa cucumu itu nakal sekali" adunya pada Reza pura pura menangis, melihat hal itu Sam langsung buru buru naik keatas pangkuan kakeknya sebelum di dului oleh Cahaya.
Appa dede yaaaah.
Tingkah Samudera barusan itu tentu membuat semua orang tertawa, rasa takutnya di saingi oleh si bungsu membuat ia bergerak cepat mematenkan sang Gajah.
Yuk upet.
"Appa yang ngumpet, dede yang cari?" tanya Reza memastikan.
Iyyaah
"Ok, dede mulai berhitung ya, Appa mau ngumpet ok"
Keh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Atu.. uwa...jujuh.. jajah.. enem... puyuh.. ima..
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Cari de' sampe ketemu ya , kalo bisa nyarinya sampe ke
tukang seblak π€π€π€
Akankah si beruang bisa menemukan sang gajah?
__ADS_1
π€£π€£π€£π€£π€£π€£π€£
like komennya yuk ramaikan.