Air Hujan

Air Hujan
Baby bear 101


__ADS_3

πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Suara bising dalam kamar rawat inap nyatanya mampu menggelitik telinga Air yang baru saja terlelap, ia langsung mengerjapkan matanya hingga akhirnya sedikit terbuka.


Raut wajah putranya lah yang pertama tertangkap oleh kedua netrnya meski masih samar-samar, tapi saat ia mendengar jerit suara Samudera barulah ia yakin jika anak semata wayangnya itu benar-benar ada di depannya.


Pay, nanun ya.


Huleeeeeeeeeeee...


Bocah menggemaskan itu bertepuk tangan seperti biasa, dengan baju. kurcaci hijaunya tentu membuat ia semakin lucu dimata siapa pun yang melihatnya.


"Dede kesini? jenguk papAy ya." kata Air sangat senang, karna jauh dalam lubuk hatinya ia begitu merindukan Samudera.


Iyyaah..


Nenuk nenuk.


"Jenguk!" timpal Reza membenarkan.


Nenuk ya...


"Udah lah suka-suka dia, Mas" balas Melisa tak mau ambil pusing.


Air yang di bantu Bumi dan Langit untuk duduk bersandar kini di apit kiri dan kanannya.


"Bumi semalem gak bisa tidur, gelisah banget loh, kak" kata Kahyangan yang begelayut manja di lengan Cahaya.


"Kakak tuh jangan nangis terus, aku tuh ikut galau. Kan mau apa-apa jadi gak konsentrasi!" sahut Bumi yang kini sudah melipat tangannya di dada.


"Jahat kamu! kakak sakit malah ngapa-ngapain" cetus Air kesal.


"Sukirin! ntar juga salah masuk" tambahnya lagi sambil mencibir ke arah adik kembarnya yang memiliki wajah hampir seratus persen mirip dengannya, meski sangat jauh berbeda karakter.


"Dih dasar mesum!"

__ADS_1


Bumi bangkit dari duduknya meninggal kan si sulung yang tertawa terbahak-bahak karna berhasil membuat wajah Bumi merah merona menahan malu.


"Ngopi yuk" ajaknya kemudian pada sang istri, walau sudah menikah nyatanya ia tetap tak lepas dari ledekan para pria Rahardian yang memiliki bibir dari pada ibu ibu di tukang sayur.


.


.


.


.


"Aku pulang, 'kan?" tanya Air pada Hujan.


"Besok." sahut istrinya singkat padat dan jelas.


Air yang merengek sedari kemarin ternyata tak meluluhkan hati bidadarinya itu untuk membawanya pulang.


"Diem disini, dirumah kasian Hujan yang urus sendiri" kata Melissa sambil mengusap kepala anak kesayangannya.


"Kan mama urus Sam, kalo semua urus kamu terus ini si buntut Gajah sama siapa?" tanya Melisa yang kini malah berdecak pinggang.


Jajah...


Semua mata langsung tertuju pada bocah menggemaskan yang barusan menyahut ucapan Amma nya.


Ia yang memang sedari datang duduk di atas pangkuan Hujan langsung di peluk dengan erat sambil di ciumi pucuk kepalanya yang tertutup tudung kurcaci nya.


"Anak pintar, sayangnya Moy" ujar Hujan.


Reza yang duduk di kursi samping ranjang hanya mengulum senyummya, ia tak bisa membayangkan jika suatu hari nanti harus pergi lebih dulu.


Jajah ya..


"Baby bear kenapa ngekor ke Gajah sih!" rutuk Air yang membuat Langit tertawa karna posisinya yang tepat di samping si sulung.

__ADS_1


Menjelang siang, semuanya berpamitan setelah Reza berbicara dengan pihak dokter yang menangani putranya, Air harus di rawat intensif karna terkena DBD


"Mama pulang ya, Sayang." pamit Melisa yang kemudian mencium kening Air.


"Iya, Mah. Tunggu kakak dirumah aja"


"Iya, Kak"


Hal manis juga di lakukan oleh Reza saat berpamitan, Langit dan Cahaya pun ikut mendoakan dan berharap Kakaknya lekas sembuh.


"Dede pamit dulu sama papAy, cium dulu" pinta Hujan pada putranya yang malah sibuk ingin di gendong oleh Reza karna takut di tinggalkan.


"Ke papAy dulu sana, Appa tungguin" kata Reza yang tahu jika cucunya itu akan menangis.


.


.


.


.


.


.


.


.


Bubuh papAy..


πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Apalagi itu πŸ₯±πŸ₯±πŸ₯±πŸ₯±πŸ₯±

__ADS_1


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2