Air Hujan

Air Hujan
bab 137


__ADS_3

☘☘☘☘☘☘☘☘


Akhir pekan yang biasanya di isi dengan jalan-jalan, kini harus berubah karna Hujan di minta datang kerumah sakit.


Karena ada rapat dadakan dan juga ada beberapa hal penting yang harus ia tanda tangani sebagai CEO rumah sakit.


Air yang kesal karna rencana liburannya gagal terus saja merengut sepanjang perjalanan mengantar istrinya.



"Janji gak boleh lama ya" rengek Air saat keduanya sudah berada di dalam ruangan Hujan.


"Iya, Aku ke ruang meeting sebentar ya. Kamu tunggu disini" pinta Hujan sambil mengurai pelukannya.


"Tapi masih kangen" bisik Air di ceruk leher Hujan, Aksinya ini langsung di cegah karna ia tak ingin ada tanda apapun yang di tinggalkan suaminya.


"Maen bentar yuk" Goda Air yang kini tangannya sudah ada di bukit kembar sang istri.


"Gak usah macem-macem!"


Air tertawa melihat dua bola mata istrinya membualat sempurna dengan tangan di letakkan di pinggang.


"Aku bercanda, lagian mana enak maen sebentar" cetus Air sambil menangkup wajah cantik Hujan, gadis itu terlihat sangat dewasa jika hendak menghadiri rapat



"Jangan tebar pesona, gak usah senyum sana sini, paham! " pesan Air.


"Iya, Kak" jawabnya menahan rasa sabar atas segala ke posesifan suaminya yang luar biasa.


.


.


Air berlalu menuju satu ruangan yang sengaja di sediakan olehnya untuk Hujan bila ingin beristirahat, karna ia tahu betul bagaimana kesibukannya nanti jika Hujan sudah benar-benar menjadi seorang dokter.

__ADS_1


Semua keperluan dan kebutuhan istrinya Air penuhi semaksimal mungkin meski harus menguras isi rekening nya yang penting pemilik hatinya itu merasa nyaman dan aman saat jauh darinya, mengingat Ia sendiripun akan menjadi pengusaha muda jika lulus kuliah nanti.


Bisa di bayangankan betapa sibuknya pasangan suami istri ini nantinya.


"Nikah dua tahun tapi belum punya anak, kalo nunggu nanti terus siapa yang ngurus?, sekarang aja udah jarang baget ketemu, tapi pinter juga ya dia, bisa banget biar gak hamil" gumam Air sambil terkekeh di tengah kasur.


Air kini memang sedang ada di sebuah kamar pribadi yang lengkap dengan segala isinya yang bisa membuat nyaman, dan ini tentu atas Saran Reza alias papa gajahnya yang sudah sangat berpengalaman jika ada hasrat darurat saat bekerja dengan alasan menghemat waktu di tengah kesibukan.


.


.


.


Cek lek..


Hujan membuka pintu kamar dengan pelan, ia hampiri suaminya yang sedang berbaring menelungkup bermain game di ponselnya.


"Ay.. makan siang yuk" ajak Hujan sembari mencium pipi kanan Air, sontak membuat pemuda tampan itu menoleh.


"Udah?" tanyanya sambil menarik tubuh istrinya.


"Yang bulan lalu kamu kenalin ke kakak itu ya?" tanya Air seraya mengingat sosok nama yang di bicarakan Hujan.


"Iya, yang tinggi pake kaca mata itu" sahut Hujan.


"Yang tua?"


"Bukan tua, Kak. kak Devan itu dewasa. Kayanya seumuran sama Abang Langit deh" sahut gadis cantik itu yang malah semakin di peluk erat, dan jika sudah begini ia tahu jika suaminya sedang dalam mode cemburu tak jelas, karna dalam kamus rumah tangga mereka Hujan dilarang menyebut nama pria lain. Hal konyol memang, tapi ini sudah syarat mutlak yang tak bisa di ganggu gugat bila tak ingin melihat bayi buaya cengengnya itu mengamuk.


"Kenapa?" goda Hujan saat ia tak bisa bergerak sama sekali.


"Gak apa-apa, cuma mendadak kesel aja" jawab Air.


"Santai aja, Kak"

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Aku gak bisa santai kalo urusan sayang sama kamu!!!


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Omongan lo manis banget kak, semanis es doger saat emak lo ngidam dulu di rumah eyang 🤣🤣🤣


Gak rugi babang gajah beli motor cash puluhan juta kalo hasilnya kaya gini.

__ADS_1


Meleleh hatiku woooooooooy 😍😍😍😍


Like komennya yuk ramaikan.


__ADS_2