
ππππππππ
"Agar wanita bisa istirahat dari menunaikan ibadah yang rutinnya di kerjakan. kenapa begitu?
alasannya untuk menyeimbangkan dulu kondisi psikis dan keadaan di dalam diri perempuan tersebut, karena dalam saat haid bukan keadaan kotor dalam hal fisik. Tapi kotoran darah yang keluar itulah yang akan mempengaruhi psikisnya. Ya emosinya, ketidakstabilannya, ketidaktenangannya, dan semua itu di minta Allah untuk istirahat dulu."
Penjelasan melisa yang panjang kali lebar tentu langsung masuk ke kepala si sulung yang memang berotak cerdas, Air langsung mengangguk tanda paham.
*Kakak ngerti, Mah. Makasih banyak" ucapnya sambil mencium pipi Melisa
Masakan yang tadi sempat tertunda kini mulai ia lanjutkan, hanya butuh waktu beberapa menit sepiring nasi goreng pun siap di sajikan.
Dengan nampan sebagai alas, Air pun segera membawanya ke kamar.
Cek lek.
"Moy..."
Hujan yang merasa terpanggil langsung menoleh dan tersenyum, bau harum masakan sang suami sangat menggoda indera penciumannya. Jangan tanyakan soal rasa karna masakan Air Rameza Rahardian Wijaya tak di ragukan lagi kenikmatannya hanya perkara rasa pedas saja yang sering di keluhkan orang-orang yang menikmatinya. Air yang memang senang di dapur membantu mamanya sedikit banyak menguasai beberapa masakan berbandinh terbaik dengan istrinya yang tak pandai merajang bumbu.
"Wangi banget, Kak"
__ADS_1
"Iya, dong. Chefnya kan ganteng pake banget" kekeh Air sambil menjawab.
"Ngaruhkah?" tanya Hujan seraya mencibir.
"Iya, dong. Apalagi bikinnnya pake cinta dan kasih sayang"
Mulai.....
Hujan melahap nasi goreng buatan suaminya sampai habis tak tersisa karna buka hanya dia yang menikmati tapi Hujan pun sesekali menyuapi suami tampannya yang mau rela turun tangan ke dapur hanya untuk memanjakan perut laparnya.
"Lagi?"
"Sama-sama sayang, jangankan nasi goreng, nasi rebus nasi kukus nasi bakar pun aku bikinin buat Moy nya si Tutut jajah" balas Air yang langsung memeluk tubuh langsing istrinya.
"Oh, iya. Dede kemana?" tanya Hujan yang baru ingat dengan putra semata wayangnya.
"Belum pulang dari rumah adek sama Gajahnya"
"Eh, tumben? biasanya dia gak mau loh lama-lama disana, kok ini lama sih? atau di bawa mampir lagi sama papa?" ujar si cantik calon dokter bedah.
"Entah, belum ada telepon juga. Kalo gak nangis biarin aja tapi gak mungkin juga sih nangis. Dimana ada Gajah si Tutut pasti bahagia tingkat dewa"
__ADS_1
Pasangan suami istri itupun tertawa, kedekatan Samudera dan Reza memang tak bisa di kalahkan oleh apapun. Bocah laki-laki cucu pertama itu memang sangat menempel sampai saat Reza mandi atau apapun itu Sam akan sabar menunggu.
"Kamu masih sakit gak? atau butuh obat"
"Udah mendingan, tadi aku udah ganti dan kayanya lancar banget kali ini" Hujan bercerita sampai bergidik sendiri sedangkan Air malah tertawa Terbahak-bahak melihat ekspresi istrinya.
"Gak apa-apa, banyak banyak deh sekarang biar cepet bersih dari pada sedikit sedikit bikin aku sakit kepala nahannya kelamaan" ucapnya yang malah membuat Hujan merengut kesal.
"Sakit loh, kak" keluhnya lagi.
"Iya, iya... sini kakak peluk biar gak sakit."
Air kembali mendekap hangat istrinya, membelai rambut panjang Hujan sambil di ciumi pucuk kepalanya berkali-kali.
.
.
.
Kakak gak tau sakitnya, karna itu adalah kenikmatan seorang perempuan tapi jika kakak boleh minta satu hal pada Tuhan kakak lebih baik menjadi sasaran kemarahanmu dari pada mendengar kata sakit dari mulutmu, Moy...
__ADS_1