Air Hujan

Air Hujan
bab 124


__ADS_3

🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Kak, cepetan!" ucap seseorang yang menelepon Air usai jam pertama mata kuliahnya.


"Iya, Sabar! tunggu di situ. Ini juga mau jalan" jawab Air yang nampak begitu panik karna sebelumnya ia sudah mendapat pesan yang sangat mengejutkan dirinya.


Pemuda tampan itu bergegas keluar dari kelas tanpa basa basi lagi padahal Bumi sedari tadi memperhatikan ia yang jelas terlihat sangat buru-buru, tapi Bumi tak menaruh curiga apapun pada saudara kembarnya itu.


Kaki panjang Air terus melangkah menuju parkiran dimana mobilnya kini berada. Sapaan semua teman-temannya tak ia hiraukan, Air benar-benar fokus pada apa yang ia tuju.


BUGH..


Ia membanting pintu mobilnya dengan sangat keras lalu menyalakan mesinnya dan langsung melaju dengan kecepatan tinggi, Air menekan pedal gas dengan kuat sampai hampir berada di kecepatan maksimal.


Kereta besi itu bagai melayang di udara, ia tak memperdulikan bahaya untuk dirinya sendiri dan juga para pengendara lainnya. Ia hanya ingin cepat sampai dimana ada yang sedang menunggunya saat ini.


.


.


.


.


"Kak... "


Seorang wanita berhambur memeluknya dengan sangat erat, Air hanya bisa mengusapnya dengan perasaan takut dan juga sedih sama seperti yang wanita itu rasakan.


"Aku takut" Lirihnya sambil terisak.


"Gak ada apa-apa, Kakak disini" ucap si tampan menenangkan Nisa.

__ADS_1


Air membawa temannya itu ke kursi tunggu depan pintu UGD sebuah rumah sakit.


Nisa masih saja menangis dengan tangan gemetar dan dingin.


"Kenapa bisa begini?" tanya Air pelan, ia perlu tahu apa yang terjadi karna ini adalah tanggung jawabnya.


"Aku gak tahu, Kak"


Air menghembuskan nafas berat, selama ia mempunyai panti jompo, baru kali ini ada kasus bunuh diri dengan cara memium cairan pembersih lantai, belum tahu apa alasannya yang jelas ini sungguh di luar dugaan Air yang sudah sangat mempercayai beberapa orang termasuk Nisa.


"Kak Aish gak ada pas kejadian?" tanya Air lagi.


"Kak Aish di luar lagi di luar, aku pas mau masuk kamarnya malah udah liat mak Jum udah ngeluarin banyak busah dari mulut" jelas Nisa sambil terisak.


"Ya udah, kamu tenang ya. moga si emak gak apa apa, tapi dokter udah keluar belum? "


Nisa hanya menggelengkan kepalanya.


Mak Jum baru satu bulan berada di Panti milik Air, ia datang bersama pak RT salah satu kampung pinggiran kota dengan alasan jika Mak Jum tak memiliki sanak keluarga, tentu Air menerimanya dengan tangan terbuka karna tujuan panti nya memang untuk menampung para lansia sebatang kara, Air benar benar mengurus nya hingga akhir hayat mereka tiba.


CEKLEK


Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan mereka yang masih duduk menunggu, ada satu dokter keluar dari dalam ruangan UGD


"Dengan keluarga pasien?"


"Iya, Dok. saya Cucunya" jawab Air sambil bangun dari duduk bersama Nisa.


Dokter muda itu menautkan kedua alisnya dengan tatapan tak percaya dengan pengakuan yang di lontarkan Air padanya, Tubuh tinggi putih dan tampan itu mana mungkin cucu dari seorang nenek yang ia tangani kondisinya tadi, begitulah yang ada dalam benak si dokter saat ini.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Air sangat khawatir.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Maaf.. kami sudah melakukan yang terbaik tapi Tuhan berkehendak lain. pasien di nyatakan meninggal dunia!


πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€πŸ₯€


Wah.. si kakak lagi sibuk ngejar pahala TernyataπŸ™ŠπŸ™Š


Padahal gue udah nyiapin bakiak buat nabok lo πŸ˜›πŸ˜›


Like komennya yuk ramaikan 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2