
π»π»π»π»π»π»
"Jan..."
Air terlonjak bangun dari tidurnya saat tengah malam, teriakannya menyebut nama sang istri cukup keras membuat Hujan pun ikut bangun.
"Ada apa, Ay?"
Air menoleh lalu menggeleng dan berapa detik kemudian ia langsung memeluk Hujan begitu erat.
"Jangan pergi, Jan" bisiknya.
Hujan yang tak mengerti hanya bisa balas memeluk sang suami yang terlihat begitu ketakutan, keringat yang banjir dengan tubuh sedikit bergetar.
"Enggak, gue gak kemana-mana, Ay"
Ini kali keduanya dalam sebulan ia mengalami mimpi buruk, bangun tengah malam tiba-tiba sambil berteriak memanggil nama Hujan.
"Jangan dipikirin ya" balas Hujan yang masih menenangakan bayi Buaya Cengengnya.
"Takut" jawab Air sambil menggelengkan kepalanya, ia benar-benar ketakutan.
"Ada gue, Ay. Yuk tidur lagi" ajaknya sembari membebaskan bantal agar Air bisa tidur dengan nyaman.
"Gak pergi, kan?" tanyanya polos yang di jawab senyum kecil dari sang istri.
"Iya, gak kemana-mana"
Keduanya kembali berbaring dengan posisi Hujan tidur memeluk Sang suami, ia mendekap Air yang menempel di dada polosnya.
Dimana pisang?
Tentu ada di belakang Air, si kuning masih setia berada di tengah-tengah mereka.
******
Bangun pagi kali ini nampak berbeda, Air benar-benar tak ingin beranjak dari tidurnya walau Hujan sudah merayu, memaksa dan mengancam.
"Ayo, Ay. Bangun!" pinta Hujan yang bingung harus bagaimana lagi.
__ADS_1
"Gak mau" rengeknya masih betah bermain-main di area bukit sang istri.
Hujan kembali mengalah, ia melirik lagi ke arah jarum jam yang menempel di dinding sudah pukul delapan pagi, perut yang mulai terasa lapar membuat Hujan akhirnya mendorong paksa tubuh Air.
"Stop! cukup main mainnya, Ok"
Gadis itu bangun kemudian bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Ia tak perduli saat Air merengek ingin di bukakan pintu.
"Gantian, Ay"
Air mendengus Kesal lalu kembali ke tempat tidur, ia duduk bersandar sambil memejamkan matanya, bayangan mimpi buruk Semalam kembali terlintas di benaknya.
Mimpi yang sama!
Apa salah gue sampe Hujan ninggalin gue kaya gitu?
Lamunannya buyar saat Hujan yang hanya memakai bathrobe sudah duduk bersamanya di tepi ranjang.
"Ay, kenapa?" tanya Hujan sambil mengusap pipi kanan Air.
"Hem, gak apa-apa" Jawabannya sedikit terkejut.
Hujan hanya mengangguk sambil sedikit mengernyitkan dahinya.
"Mau tanya apa?"
"Apa yang bikin Lo nanti bisa aja ninggalin gue tiba-tiba, Jan." tanya Air dengan serius, matanya kembali menyiratkan sebuah ketakutan luar biasa.
"Saat Lo gak menghargai keberadaan gue, Ay" jawab Hujan sambil menangkup wajah tampan sang suami.
"Cih, mana bisa gue begitu, Lo mandi aja gue kangen apalagi sampe gak menghargai, runtuh ni dunia" cetus Air yang menganggap semua itu tak mungkin terjadi karna yang ia tahu kehadiran Hujan sangat berharga baginya karna Hujan sudah membuat ia begitu bergantung dan sulit jauh.
"Ya udah mandi sana, pagi-pagi udah bahas kaya gitu Laper nih"
Hujan yang hendak bangun kembali ditahan oleh Air.
"Yakin cuma itu?, kalo gue Kawin lagi gimana?" Tanya Air lagi seakan dia tak puas dengan jawaban Hujan.
"Kawinlah sana, gue gak perduli!" sahutnya lagi santai.
__ADS_1
"Kok gitu?, Lo mau gue duain?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kalo gue ada di posisi Lo milih gue yang pertama atau yang kedua,, ya gue saranin Lo pilih yang kedua!
karna kalo Lo pilih yang pertama, gak mungkin ada yang kedua, paham!
π»π»π»π»π»π»π»π»π»
Orang kalo laper bawaannya suka bener kalo ngomong πππ
Eits.. masa iya bayi buaya mau poligami π€π€
Gue cincang ekor Lo kakππ
Like komen nya yuk ramai kan β€οΈ
__ADS_1