
ππππππππ
"Tutut jajah Apa tutut Keong?" kekeh Langit yang benar-benar gemas pada keponakannya itu.
Jajah Appa
" Gendong sama Uncle yuk" ajak Bumi pada anak dari kakaknya itu.
Nda.
Jika sedang diatas pangkuan Reza, jangan harap ada yang bisa merayunya untuk pindah, Samudera bagai terkena lem dalam dekapan kakeknya.
"Ayo cepetan, nanti kita beli ice cream" rayu si tengah lagi, ia akan melakukan banyak cara hanya untuk menggendong Samudera.
Cim belly ya.
"Iya, ice cream strawberry, mau gak?"
Nda.
Penolakan Samudera tentu kembali mengundang gelak tawa , apapun yang ia celoteh kan tak ada yang tak lucu.
"Udah sore, pulang yuk" ajak Reza saat melihat jam di. pergelangan tangannya.
"Kamu mau pulang kerumah Bunda lagi?" tanya Melisa yang di jawab anggukan kepala oleh Hujan.
"Dede pulang sama MiMoy ya" ucap Reza sambil menyerahkan cucunya pada sang menantu.
Nda ih.
Rengekkan Samudera membuat Reza tak tega untuk melepasnya, tapi ia juga tak bisa egois karna harus rela berbagi waktu dengan Anna.
"Appa anter ya kerumah Bunda, Ok"
Bayi montok itu tetap menggelengkan kepalanya, jika ia bisa berbicara lebih banyak tentu ia akan mengomel pada orang-orang yang memintanya pulang kerumah Bunda.
__ADS_1
"Suruh kakak buat kesana nanti, biar bisa gantian kalau Sam rewel tengah malem."
"Iya, Pah. Nanti aku minta kakak buat pulang kerumah Bunda." jawab Hujan.
Semua masuk kedalam mobil masing-masing, begitu pun dengan Hujan yang di antar mertuanya menuju rumah Bunda, Sam yang lelah merengek tak ingin lapas dari Reza akhirnya tertidur setelah menghabiskan satu botol susu di dalam dekapan MiMoynya.
Hanya obrolan kecil yang di bincang kan ketiganya selama perjalanan pulang karna tak ingin Baby bear terganggu dari tidurnya.
"Kita langsung pulang aja ya" pamit Reza.
"Kok gak mampir dulu, Pah?" tanya Hujan, bingung.
"Lain kali, salam saja buat Bundamu"
"Ya sudah, aku turun ya. Terimakasih"
Hujan yang sudah bersalaman dengan kedua mertuanya itu pun bergegas turun, ia berdiri di depan pintu pagar sampai mobil mewah yang mengantarnya itu perlahan hilang dari pandangan.
.
.
"Udah pulang?" Air bangun dan malah balik bertanya.
Hujan hanya mengangguk, ia baringkan anaknya di tengah kasur, matanya melirik ke arah ponsel sang suami.
"kakak main bentar, kan bosen gak ada kalian" ucap Air sebelum istrinya mengomel lagi.
"Terserah kakak, aku mau mandi!"
"ikuuuuy, Moy" serunya sambil bangun.
Hujan yang kembali membalikkan badannya menatap tajam kearah sang suami yang memasang wajah polos penuh harap.
"Kenapa?" tanya Air.
__ADS_1
"Emang kakak pikir ini di apartemen? bisa mandi berdua gak. ada yang tahu." sungut nya kesal.
"Lupa Jan Hujan Derees!"
Ia yang ditinggalkan, akhirnya kembali merebahkan diri di sisi Samudera, ia pandangi wajah lelap putranya itu sambil memainkan bibir merahnya.
"Maafin PapAy ya, udah sering cuekin kamu" lirih Air, ia benar-benar menyesali apa yang pernah ia lakukan kemarin, bahkan saat anaknya rewel tengah malam pun ia masih tetap acuh dan justru meminta Hujan untuk bangun.
"Bisa nyesel juga, kak?" sindir Hujan yang baru masuk setelah membersihkan diri.
"Maaf"
Hujan duduk di tepi ranjang, ia biarkan suaminya itu merajuk manja di atas pangkuannya.
"Iya, aku maafin. Aku ngerti banget kok, mungkin kamu lelah sama kerjaan kantor tapi aku mohon jangan setiap malam" ucap Hujan sambil mengusap kepala suaminya.
"Iya, dulu mama sering mau siram aku kalo susah bangun tidur buat sekolah" ucap Air seakan mengingat masa lalunya dulu.
"Kakak belum puas main ya? karna kita menikah muda"
Air mendongakkan wajahnya lalu menggeleng.
.
.
.
.
.
.
Enggak lah, orang garep tanem siram jauh lebih seru dari maen game !!!
__ADS_1